Senin, 01 Oktober 2012

I Wayan Paramarta

I Wayan Paramarta memang bukan seorang artis terkenal. Kendati jauh dari popularitas, sosok Paramarta yang tinggal di Lingkungan Batan Ha 2, Amlapura ini ternyata pernah mengharumkan nama Bali juga Indonesia lewat Olimpiade Penyandang Cacat di Kobe, Jepang. Bagaimana kesehariannya sekarang?

PASAR Kesatrian di Amlapura, Jumat siang beranjak sepi. Parkir sepeda motor yang ada di pinggir pasar beringsut satu per satu. Sementara komplek toko yang ada di hadapan parkir, sebagiannya tampak sudah tutup. Tinggal beberapa saja yang masih buka.

Di salah satu toko yang masih buka, lokasinya tak jauh dari mulut terminal Kesatrian, tampak seorang pria cacat duduk santai. Dia dikenal sebagai tukang servis jam di toko tempatnya duduk tersebut. Pandangannya hanya tertuju pada keramaian di hadapannya. Entah orang lalu lalang atau kendaraan yang berseliweran.

Kata sebagian orang di sekitar pasar, pria itulah yang bernama I Wayan Paramarta. Atlet cacat di bidang bulutangkis yang pernah meraih medali emas dalam Olimpiade Penyandang Cacat di Kobe, Jepang.

Kesan pertama saat bertemu Paramarta, orang sangat cuek. Bahkan, sempat menolak untuk diajak bercengkrama, apalagi wawancara. Tapi, lewat pembicaraan awal yang lumayan ringan bersama adiknya, I Nyoman Sindiarta, akhirnya Paramarta menceritakan masa mudanya yang pernah Berjaya di dunia bulutangkis.

“Medali itu saya dapat waktu ikut Olimpiade Penyandang Cacat di Kobe, Jepang. Kalau nggak salah ingat Olimpiade itu berlangsung pada 1989. Waktu itu, saya masih umur 35 tahun,” kata Paramarta yang saat itu masih enggan memalingkan pandangan dari keramaian yang ada di hadapannya.

Selain karena hobi main bulutangkis, keiikutsertaan Paramarta di Olimpiade itu ternyata berawal dari sebuah kebetulan. Dari sejak muda, Paramarta kerap bermain bulutangkis di Gedung Kesenian Amlapura. Pada suatu saat, permainannya menarik perhatian Pak Mika, salah seorang pegawai Dinas Sosial Karangasem. “Mungkin orangnya sudah meninggal sekarang. Pak Mika itu yang berjasa. Dia yang mengajak saya pertama kali ikut turnamen di Malang tahun 1988,” ujarnya.

Saat itu, Paramarta mengiyakan begitu saja kesempatan yang diberikan Pak Mika. Kendati dia disodori tiga syarat. Harus bisa di olahraga menembak, catur, dan bulu tangkis. “Saya iyakan saja. Menembak dan catur saya bisa. Sebelum berangkat ke Malang, saya ke Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) di Badung,” kenangnya.

Sampai di Malang, Paramarta hanya memilih bulutangkis saja. Dua olahraga lainnya, dia kesampingkan. Karena sebelum berangkat, Pak Mika sempat membisiki bahwa dirinya tak harus memainkan ketiga olahraga yang disyaratkan.

“Akhirnya saya ambil bulu tangkis saja. Waktu itu ada klasifikasinya, nggak seperti sekarang. Maksudnya, yang cacat kaki main sama orang yang cacat kaki juga,” imbuhnya. Pada turnamen di Malang, Paramarta meraih medali emas yang pertama kalinya. Sekaligus, sebagai tiket menuju Olimpiade Penyandang Cacat di Kobe, Jepang.

Selepas Olimpiade itu, dirinya sangat aktif di dunia bulu tangkis. Bahkan, sampai sekarang dirinya masih aktif menggenggam raket. Dalam seminggu, dia rutin main di Gedung Kesenian selama empat hari. Bagi dia, bulu tangkis adalah dunianya. Dia mengenal olah raga ini sejak kecil.

“Dulu bulu tangkis itu disebut taplak-taplakan. Sebelum ada Gedung Kesenian, saya main di jalan. Itupun pakai raket dan shuttle cock yang dikasih minta orang. Waktu itu zaman nggak enak, raket mahal sekali. Jadi saya cuma pakai papan atau tulang paha sapi. Raket pertama kali saya pegang karena dikasih penggede yang suka main di Gedung,” tuturnya.

Meski fisiknya mengalami keterbatasan sejak lahir, pria yang telah berusia 56 tahun ini ternyata tipikal orang yang suka berpangku tangan. Buktinya, dari sejak tamat SMP sampai sekarang, dirinya tetap bekerja. Meski pekerjaan itu hanya sebatas tukang servis jam. Semangatnya itu membuat keluarganya sungkan. Demikian halnya dengan orang lain.

Soal santunan dari pemerintah, Paramarta mengaku kerap mendapatkannya. Tapi, dia enggan untuk berharap banyak dalam hal itu. Terakhir, santunan dia peroleh dari Gubernur Bali Dewa Beratha pada 2004 silam dengan nilai Rp 5 juta.

“He he he, kalau ditanya cukup atau tidak, duit segitu jelas nggak cukup. Sekarang saja sudah nggak ada lagi. Terakhir, uang itu saya pakai beli raket yang harganya Rp 900 ribu. Dan, sekarang raket mahal itu sudah patah,” pungkasnya.


Sumber : forum.vibizportal.com

Buku Sukses Mengelola Bisnis Warung Makan

Pemicu terbesar merebak bisnis makanan di Indonesia tak lain adalah krisis moneter dan ekonomi yang melanda di tahun 1997. Banyak perusahaan ambruk hingga berefek banyak karyawan menjadi korban PHK. Untuk orang-orang hobi memasak ataupun yang nekat mau menggeluti usaha warung makan pilihan ini menjadi alternatif yang menjanjikan. Tak jarang yang sukses dan meraih rezeki dari peluang bisnis makanan ini. Angin baru dari tren wisata kuliner pun membawa bisnis makanan kian bergairah. Bisa dikatakan bisnis ini memang tak pernah mati. Alasan yang masuk nalar adalah makanan selalu diburu orang di manapun. Ya siapa bisa menunda untuk urusan makan jika perut sudah lapar. Maka makanan sebagai kebutuhan dasar manusia menjadi alasan mendasar untuk pengembangan bisinis jenis ini. Pendek di mana ada banyak orang maka warung-warung makanan pun menjamur. Mulyana misal yang akrab di panggil Nana. Nana lebih memilih beralih usaha dari tukang jahit untuk mencoba usaha warung makan di Jalan Kober Margonda Depok. Di daerah ini terdapat banyak indekost. Maka Nana yakin dengan usaha ini. Pada dua bulan pertama warung tergolong sepi. Namun pada bulan-bulan berikut menu sop iga tuna asam manis dan ayam goreng banyak dipesan dan dilirik orang. 

Nana membuka warung sejak 2003 bermodal 35 juta untuk membeli perabotan warung. Lewat kesabaran dalam berusaha dan pandai meraba situasi warung bernama Widya ini kian ramai. Masih di kawasan Margonda di sana terdapat rumah makan Bu Yanti. Rumah makan yg memiliki 42 karyawan ini menyajikan pecel ayam lele bebek es kelapa muda bakar dan lainnya. Menu andalan kelapa muda bakar dipercaya memiliki khasiat menghilangkan masuk angin pegal-pegal mengobati diabetes menambah gairah seksual dan menyuburkan kandungan. Menu ini seharga Rp 6000 & Rp 7000 jika dicampur susu gingseng. Rumah makan Bu Yanti memiliki pelanggan yang kebanyakan mahasiswa.

 Tak ada rahasia khusus dari kesuksesan rumah makan ini selain mengutamakan masakan rumahan gaya prasmanan & harga yang terjangkau. Dua penggal kisah pendek di atas disarikan dari buku Sukses Mengelola Usaha Warung Makan. Kira ada 51 profil usaha tempat makan tersebar di Jakarta Bogor Depok & Bekasi terdokumentasikan. Buku ini mencoba menularkan tip & trik seputar peluang bisnis di dunia makanan seperti cara memilih jenis usaha warung makanan yg paling diminati menerapkan strategi manajemen usaha dan mengorek rahasia sukses usaha warung makan. Dalam buku setebal 245 halaman ini diuraikan secara detail berbagai jenis usaha makanan dari mie sate bakso soto sop iga ikan bakar ayam penyet hingga apple pie roti unyil asinan makanan Jepang masakan Thailand & lainnya. Yang menarik dari buku yg disusun Endah H. Lucia P. & Syari P. memberikan deskripsi analisis bisnis serta melihat dari sisi produksi pemasaran & promosi. Beragam cerita sukses dibeberkan dalam buku yang diterbitkan TransMedia ini. Buku Sukses Mengelola Usaha Warung Makan mencoba menggugah Anda untuk mencoba peluang bisnis makanan. 

Sumber : limitedbookstore.com

Daur Ulang Kayu Jati Hasilkan Uang

Jenis usaha yang dibidiknya memang agak unik yakni mendaur ulang material kayu jati bekas untuk dijadikan mebel dengan desain lama. Material jati seken itu berasal dari rumah-rumah kuno tradisi Jawa, perabot-perabot perlengkapan rumah tangga bahkan bantalan rel kereta api.

Yang namanya barang bekas, tentu tidak semua kayu jati seken itu masih terlihat mulus. Seperti material jati bekas bantalan rel kereta api misalnya, meski terlihat masih kokoh namun tidak utuh lagi. Atau lemari satu pintu yang sana sini terlihat lubang-lubang bekas di makan rayap. Tapi di tangan Suyanto, material yang sudah tidak mulus itu dibentuk kembali  menjadi mebel yang terkesan antik. Justru di sanalah daya tariknya, selain pada kayu jati yang terkenal kekuatannya, juga karena kesan antik dari produk tersebut.

"Di kampung saya Ngawi, hampir kebanyakan warganya adalah perajin kayu jati karena material itu mudah didapat. Karenanya saya harus pandai-pandai memilih jenis usaha agar tidak sama. Kebetulan belakangan sedang tren kerajinan daur ulang, maka saya pilih daur ulang kayu jati bekas untuk dijadikan mebel, perlengkapan rumah tangga, juga gazebo ataurumah joglo," tutur Suyanto.

Ternyata usaha yang digelutinya sejak lima tahun lalu ini mendapat respon bagus, khususnya dari konsumen penyuka kayu jati. Mereka tidak masalah kalau kayu jati yang dijadikan produk mabel adalah kayu jati bekas. Mereka juga tidak masalah kalau tampilan produknya tidak kinclong, malah sebaliknya terkesan tua.

"Ya, justru kebanyakan konsumen tidak suka warna-warna ngejreng, mereka suka natural. Justru mereka datang ke saya karena desain-desain produknya tradisional. Itu memang saya sengaja, tidak menyentuh desain modern kecuali atas permintaan konsumen. Begitu juga warna, saya tetap pertahankan warna natural, kecuali konsumen menginginkan warna berbeda," tuturnya Suyanto yang mantan petani Ngawi ini. Dan utamanya lagi, tambahnya, harga produk yang ditawarkan relative jauh lebih murah ketimbang membeli mebel jati baru. 

Untuk mendapatkan material jati seken, Suyanto rajin berburu rumah-rumah jati tradisi Jawa yang ternyata banyak dijual pemiliknya. Untuk itu Suyanto membelinya secara borongan, proses selanjutnya, ia memisahkan material jati dan bukan jati. "Hanya material jati yang kami manfaatkan kembali, sedang kayu jenis lain tidak. Kami memang khusus produk jati, meski kalau ada konsumen minta dari kayu jenis lain, tetap dilayani. Material rumah yang dipreteli itu, kemudian dibentuk menjadi aneka produk perlengkapan rumah tangga," tuturnya.

Ia menyarankan, buat para penggemar jati seken, atau menginginkan rumah jati tradisi Jawa, bisa berburu di kampong-kampung di Pulau Jawa, karena banyak yang menjual. Harganya rumah seken itu relatif murah, begitupun ongkos angkutnya. Kayu jati yang didapat adalah kayu jati tua bukan muda seperti mebel-mebel jati yang banyak dijual sekarang ini. "Perizinan angkutnya pun mudah karena tak perlu izin Dinas Kehutanan," tambahnya.  

Salah satu hasil buruan Suyanto adalah lumbung padi yang diperkirakan berusia 100 tahun lebih dari warga Sumber Bening, Ngawi. Lumbung padi ini, diakui pemiliknya, telah bertahan selama empat generasi.

"Yang menjual ke saya adalah generasi keempat, usianya sudah 70 tahun," jelasnya. Karena melihat lumbung padi ukuran 2,5 x 3 meter itu ternyata masih kokoh, kayunya pun masih terlihat mulus, Suyanto merasa sayang kalau harus mempereteli material itu. Justru ia mendapat ide untuk memodifikasi menjadi rumah joglo yang menarik. Tak heran ketika rumah joglo itu dipamerkan, mendapat banyak perhatian pengunjung. Sebagian dari mereka memanfaatkan untuk foto-foto.

"Memang banyak yang tertarik, malah ada yang bertanya apakah ini rumah tahan gempa. Saya tentu saja tidak berani menjawab, iya, karena kan untuk membuat rumah tahan gempa ada standarnya  sendiri. Kalau saya bilang iya, nanti kalau ada gempa lalu, rubuh, bagaimana?  Meski saya juga tahu kalau rumah kayu, bamboo, lebih tahan terhadap getaran. Apalagi rumah kayu tradisi penduduk, kan, tidak menggunakan paku sebagai pasak. Lihat ini,  joglo ini menggunakan bambu sebagai pasak. Ini memang sudah ‘pakem' dari nenek moyang, kalau pasangan jati adalah bambu. Jangan pakai besi, karena besi akan ‘memakan' kayu," jelasnya panjang lebar.

Cukup banyak yang tertarik membeli joglo dari lumbung padi itu, namun Suyanto belum melepas. "Tawaran terakhir Rp 20 juta, saya kasih harga Rp 30 juta nego," katanya.

Menurut Suyanto, pameran yang diikutinya sekarang sangat  menggembirakan. Respon pengunjung sangat bagus, hampir sebagian besar produknya telah terjual. Padahal ia datang dengan membawa produk jati daur ulang sebanyak 2 kontainer.  Bisa jadi tingginya tingkat keterjualan karena harganya yang ‘miring' .

"Dagangan saya habis! Yang tersisa hanya rumah joglo dan dua kursi. Saya juga mendapat buyer-buyer yang berjanji untuk membantu penjualan ekspor," kata Suyanto yang juga giat budidaya tanaman bonsai.

Suyanto terjun ke usaha kerajinan kayu jati bisa jadi selain karena turun temurun, di mana orangtuanya pun pengusaha kerajinan jati, juga karena faktor lingkungan desanya di Ngawi yang hampir sebagian besar adalah pengrajin kayu jati. Hal ini karena material kayu jati berlimpah dan dapat diperoleh secara gratis.

"Jadi warga yang ingin jadi pengrajin tak perlu modal membeli material, karena Perhutani memberikan sisa-sisa kayu secara gratis, sebagai gantinya, warga diminta membantu pada musim tanam. Warga juga diperbolehkan mengambil akar-akar jati yang masih tertanam. Buat Perhutani ‘kerja sama' ini menguntungkan karena masyarakat ikut membantu mengangkat sisa-sisa akar jati sehingga  tidak menggangu pertumbuhan kayu jati baru," jelasnya. 

Kerajinan jati Ngawi telah terkenal dan menjadi salah satu agenda tur. "Banyak wisatawan asing datang. Saya pun awalnya ikut membuat kerajinan kecil-kecilan. Ternyata cukup laku, akhirnya saya beralih ke usaha daur ulang. Nah, bisnis ini ternyata lebih cepat berkembang, mungkin karena belum banyak pemainnya dan harganya pun bersaing," ucapnya.

Diakui Suyanto bahwa unsur promosi dan relasi sangat penting bagi pengembangan usahanya. Dan untuk pengrajin bermodal pas-pasan seperti dirinya dan pengrajin lain di kampungnya, hal ini adalah masalah tersendiri. "Harus rajin promosi, pameran, juga menjalin relasi. Masalahnya semuanya terbentur uang, biaya.  Kalau pameran di Jakarta misalnya, kan butuh biaya. Teman-teman pengrajin di kampong saya, sudah takut duluan kalau membayangkan biaya tinggi. Padahal bagi yang sudah tahu, sebenarnya tidaklah seperti itu. Kita bisa pakai fasilitas Dinas Perindustrian setempat," kata Suyanto.

Sumber : ciputraentrepreneurship.com

Omzet Jutaan dengan Sandal Gunung

Kelihaian Yayat Hidayat berinovasi membuatnya sukses menghidupkan bisnis sandal gunung yang hampir mati. Kini, dengan membuat sandal outdoor aneka warna dengan merek Sabertooth, ia berhasil meraup sukses di bisnis sandal gunung. 

Kesuksesan usaha seseorang terkadang tidak datang dari sesuatu yang ia sukai. Tapi, dengan kemauan belajar yang besar, orang bisa saja menjadi berhasil. 

Yayat Hidayat telah membuktikannya. Meski awalnya tak menggemari dunia kerajinan sandal, kini, ia justru sukses menjadi pengusaha sandal dengan merek Sabertooth. 

Oke, mungkin, sebagian orang masih asing dengan merek Sabertooth. Tapi, jika menyebut nama Sandal Dody, barangkali, Anda yang cukup lama tinggal di Bandung bakal mengenalnya. Sebab, merek sandal ini sudah ada sejak 1980 dan sempat menjadi produk wajib para pecinta alam. Nah, Sabertooth merupakan nama baru Sandal Dody sejak tahun 2010. 

Yayat bukanlah pemilik dan pencipta merek Sandal Dody yang kini bernama Sabertooth. Pemilik merek ini adalah Doddy Kasoem, pengusaha di Bandung yang juga memiliki bisnis peralatan outdoor dengan merek Jayagiri. Yayat merupakan orang di balik dua merek itu. “Saya adalah perajin yang memasok sandal,” ujar pria 34 tahun ini.

Kisah Yayat membuat sandal berawal selepas ia kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Pasundan, Bandung. Kebetulan, Yayat dan Doddy sama-sama aktif di sebuah masjid. Pada tahun 2002, jalinan kerjasama semakin kuat saat Doddy memintanya jadi pemasok sandal.

Meski tawaran itu menarik, usaha untuk mewujudkannya tidak semudah yang dibayangkan. Sebab, Yayat tidak tahu-menahu soal bisnis sandal, apalagi membuatnya. Saat itu, minat utamanya adalah dunia otomotif. Beruntung, sang ayah yang merupakan salah satu perajin sepatu di daearah Parakan Saat, Bandung, mau mengajarinya membuat sandal.

Pertama kali Yayat memasok Sandal Dody pada tahun 2004 atau baru dua tahun kemudian sejak dia diminta Doddy membuat sandal. “Saya belajar dulu, dan berulang kali desain saya ditolak,” tuturnya.

Setelah berhasil memenuhi pesanan pertama, selanjutnya, Yayat rutin memasok 500 pasang sandal tiap bulan. Harga sepasang sandal saat itu sekitar Rp 30.000. Saat itu, outlet Sandal Dody di Bandung tersisa tiga. Sebelumnya, Sandal Dody memiliki belasan outlet yang tersebar sampai ke Sumatra.

Suatu kali pada tahun 2008, Doddy menyatakan ingin fokus menggarap produk outdoor dengan merek Jayagiri. Lantaran jalinan kerjasama dengan Yayat sudah cukup dekat dan seperti keluarga, Doddy lantas menyerahkan merek Sandal Dody kepada Yayat.

Inovasi produk

Hingga tahun 2009, Yayat bertahan dengan membuat sandal bermerek Sandal Dody. Namun, lama kelamaan, ia merasakan bahwa usahanya tidak tambah maju. 

Akhirnya, setelah membaca minat pasar, sejak awal 2010, Yayat membuat sandal outdoor dengan aneka warna. “Bisa dibilang, ini adalah sandal outdoor pertama yang berani menggunakan aneka warna,” ujar bapak tiga anak ini. Tak hanya membenahi desain, ia juga merombak merek dagangnya menjadi Sabertooth. 

Menyadari luasnya pasar di dunia maya, Yayat lantas menawarkan sandal buatannya lewat sejumlah situs jejaring sosial dan membuat website. Modal awalnya kala itu sebesar Rp 10 juta yang ia ambil dari tabungan. Pada Februari 2010, ia mendapat suntikan modal dari  PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII sebesar Rp 20 juta.

Tak disangka, inovasi produk berupa sandal outdoor aneka warna itu mendapat sambutan hangat di pasar. Sejak diluncurkan pada April 2010, setiap bulan, Yayat bisa memproduksi 2.500–4.000 pasang sandal. Di luar merek sendiri, ia mengaku tiap bulan juga memasok sandal ke dua merek lain. Jumlahnya mencapai 300 pasang.

Dari produksi sebanyak itu, 70% di antaranya adalah sandal outdoor dengan aneka warna. Sisanya adalah sandal outdoor warna hitam seperti yang kebanyakan beredar di pasar. Dengan harga sandal Rp 70.000–Rp 85.000 per pasang, tiap bulan, Yayat bisa menangguk omzet ratusan juta rupiah. 

Model pemasaran dengan menggunakan jalur dunia maya ternyata juga mampu menjerat pembeli asal Malaysia. Melalui pedagang perantara, Yayat mendapat pesanan membuat 6.500 pasang sandal. Paling lambat, awal tahun depan, pesanan sudah harus dikirim ke negeri jiran tersebut.

Menghadapi permintaan yang semakin banyak, Yayat mulai memperluas kapasitas produksi. Ia tidak kesulitan melakukannya lantaran kembali mendapatkan dana bantuan dari PTPN VIII sebesar Rp 150 juta pada Agustus 2010.

Respons positif dari pasar mancanegara itu kian mengibarkan rasa optimistis Yayat. Tahun depan, dia bersiap melebarkan sayap dengan menambah rekanan bisnis lewat sistem konsinyasi. Ia berniat melebarkan sayap bisnis ke Singapura dan Brunei Darussalam. 

Tak tanggung-tanggung, tahun depan, ia menargetkan bisa memasarkan sandal Sabertooth ke 100 toko.


Sumber : yptrading.co.id

Paulus Indra Bermula dari Nasi Uduk


Paulus Indra adalah putra Bengkulu yang menjadi entrepreneur sukses dengan memiliki dua perusahaan besar  yakni PT Puri Tour dan PT Puri Intirasa. PT Puri Tour bergerak dibidang biro perjalanan wisata, sedangkan PT Puri Intirasa adalah perusahaan yang bergerak dibidang kuliner. Saat ini dibawah bendera Puri Intirasa, Indra telah memiliki restoran besar di Bali dan Jakarta. Biografi Paulus Indra ditulis dalam buku berjudul ’45 Kisah Bisnis Top Pilihan’ tulisan Ari Satriyo Wibowo dan di situs TokohIndonesia.com. Paulus menjabat sebagai Presiden Direktur (CEO) pada dua perusahaan yang ia dirikan tersebut. Pria kelahiran Bengkulu, 14 Oktober 1944 ini memulai kariernya dari bawah dan ia tidak mau coba-coba dalam berusaha. Menurutnya jika ingin sukses, harus bekerja dan berkarya secara totalitas. Pria dengan panggilan Indra ini sudah lebih dulu menjalankan usaha biro perjalanan wisatanya sebelum terjun di dunia bisnis kuliner.
“Saya harus mempersiapkannya sebaik mungkin. Saya tidak mau cuma buka sebentar lalu tutup. Saya mau restoran atau kafe yang saya buka bisa maju,” kata Paulus Indra seperti ditulis TokohIndonesia.Com.
Sebelum membuka usaha restorannya, Indra sempat berpikir restoran jenis apa yang akan didirikannya. Setelah lama berpikir dan mencari ide, akhirnya Indra dan istrinya, Lucy Iskandar memilih restoran yang menyajikan nasi uduk sebagai menu utama yang akan mereka jual di restorannya. Indra akhirnya memutuskan lokasi pendirian restorannya di kawasan perumahan Puri Kembangan, Jakarta Barat dan diberi nama Restoran Farini. Restoran tersebut berdiri pada tahun 1982. Nama Farini diambil dari nama ketiga anaknya yakni Mario Fajar (32), Marco Hari (29), dan Maria Dini (27).
Sebelumnya Indra dan isterinya sibuk melakukan survey harga-harga di pasar. Baginya, dunia restoran adalah dunia yang baru dan ia belum berpengalaman menjalani usaha tersebut. Ia dan istrinya harus bangun pagi-pagi untuk berbelanja berbagai kebutuhan di pasar. Saat itu, Isterinya merupakan chef utama yang mengawasi langsung dan memasak nasi uduk. Tidak hanya itu, keduanya juga aktif melayani konsumen yang mulai datang ke restoran barunya itu.
Indra memiliki trik sendiri agar restorannya ramai dikunjungi. Masih mengutip dari TokohIndonesia.Com, sebelum dibuka, Indra setiap hari menugaskan orang memasang spanduk yang berisi pengumuman, misalnya, tujuh hari lagi Restoran Farini dengan menu nasi uduk akan dibuka, enam hari lagi akan dibuka, lima hari lagi akan dibuka, dan seterusnya.
Karena publikasi yang cukup gencar dilakukan ditambah dengan cita rasa makanannya yang lezat, setiap hari Restoran Farini mengalami peningkatan jumlah pengunjung yang ingin mencoba nasi uduk sebagai menu utamanya. Bahkan,  ketika itu jalanan di sekitar Restoran Farini pernah sampai memacetkan lalu lintas karena banyaknya mobil yang parkir di depan restorannya.
Menurut tulisan TokohIndonesia.COm, omzet penjualan nasi uduk dari restoran milik Indra tersebut sebesar Rp 2,5 juta per hari dengan menghabiskan sekitar 17 hingga 18 dandang. Suatu jumlah yang sangat besar pada tahun itu.
Setelah tiga tahun mencoba dengan restoran nasi uduk, Indra pun mendapat semangat baru dan berani untuk melangkah lebih jauh lagi. Ia pun memutuskan membuka cabang di Denpasar, Bali. “Kali ini pilihan menu saya adalah seafood. Target pasar saya adalah turis-turis asing yang berkunjung ke Bali,” kata Indra.
Saat ini Indra memiliki tiga restoran sea food di Bali. Restoran yang pertama yakni Mini Seafood Legian, di Legian. Kedua, Kuta Seafood, dan yang ketiga Bali Seafood juga berada di Kuta.
Survey Sampai ke Wina
Setalah sukses dengan usahanya di Bali, Indra berpikir, megembangkan usahanya di Jakarta. Tempat ia memulai usaha restoran nasi uduk perdananya pada pertengahan tahun 1990-an. Menurut Indra, pendapatan perkapita penduduk Jakarta cukup tinggi, sekitar USD 10.000 per tahun. Selain itu ia menilai Jakarta dihuni banyak eksekutif muda yang sering bepergian ke luar negeri. Eksekutif muda tersebut memiliki gaya hidup yang tinggi, dan Indra pun terpikir menghadirkan kafe untuk segmen kelas eksekutif ini.
Ingin sekali merealisasikan gagasannya tersebut, Indra lalu mengirimi surat ke beberapa Kedutaan Besar Indonesia di luar negeri sebagai survey awal. “Saya pun mengirim surat ke beberapa kedutaan asing yang terkenal dengan kafe-nya. Tapi Austria yang lebih cepat membalas surat saya,” kenang Indra.
Setelah itu, ia pun memutuskan berangkat ke Austria. Ia membawa timnya berangkat ke Wina untuk melakukan survey. “Kami bangun pagi langsung menuju ke kafe, kami pindah dari satu kafe ke kafe lain hingga malam hari. Berhari-hari kami mencoba mempelajari gaya hidup kafe-kafe di Wina, akhirnya kami pun mantap.” Kata Indra yang sangat ingin tahu sekali konsep sebuah kafe. Di Wina, Indra dan timnya menyinggahi sekitar 60 kafe.
Untuk memantapkan rencananya, Indra dan tim tidak hanya datang ke Wina satu kali, namun hingga tiga kali. Akhirnya pada 1997 Kafe Wien pun dibuka di Plaza Senayan. Di sini, para tamu yang datang selain dijamu dengan berbagai menu yang lezat, mereka pun dihibur dengan iringan musik klasik. Saat ini Kafe Wien merupakan kafe paling esklusif di Jakarta.
Indra menceritakan bahwa perbedaan kafe dan restoran salah satunya terletak pada jam buka. “Kalau Restoran kan biasanya buka pukul 11.00 sampai 15.00. Lalu tutup dan mulai buka lagi pukul 18.00 sampai dengan pukul 21.00 untuk makan malam. Sedangkan kafe bukanya dari pagi sampai malam. Kalau tadinya kafe hanya menyediakan menu coffee dan pastri serta sandwich, kini kafe mulai menawarkan makanan seperti steak dan lainnya,” beber Indra.
Menurut Indra, kafe sebenarnya tempat diskusi tokoh-tokoh politik, budayawan, bisnismen, dan masing-masing tokoh memiliki kafe langganan tersendiri di mana mereka biasa menghabiskan waktu senggangnya. Di kafe pada umumnya, pengunjung lebih santai dan tidak terlalu formal. Gaya menyantap makanan di kafe dibuat semudah mungkin dan tidak mengotori tangan. Sajiannya cepat dan lengkap. Waktu buka kafe lebih panjang dibandingkan restoran.
Indra terus mengembangkan bisnis restoran dan kafenya. Saat ini, ia memiliki 23 restoran dan kafe. Beberapa diantaranya yakni Toraja Kafe, Tator Café, Terminal Café, Mario’s Place, Grand Mario, Warung Podjok, Dermaga Food Court, Patio Café, Kedai Kambing, Si Manis Bakery dan Timebreak Café & Travel. 
Sumber : tintapena.com

Sukses Berbisnis Mebel


Jika bukan karena orang tuanya, Farry Tandean tidak mungkin bekerja sebagai pengusaha mebel dan interior. Selain membuat mebel dengan desain inovatif, ia juga berbisnis ubin dan panel dekoratif berbahan limbah batok kelapa.
Di saat bisnis mebel ekspor melesu seperti sekarang, sebagian orang bakal menganggap industri ini sedang tiarap. Padahal, jangan salah, sebagian kecil eksportir tetap bertahan. Salah satunya adalah Farry Tandean. Pemilik PT Jati Vision Raya (Java) dan Cocomosaic Indonesia ini tetap bertahan dan mengekspor produk mebel dengan desain inovatif ke pelbagai negara.
Sejak memulai bisnis mebel 16 tahun silam, Farry memang berorientasi mengekspor produk ke luar negeri. Ia merupakan salah satu dari sedikit produsen mebel asal Cirebon yang sejak puluhan tahun silam aktif menjaring pembeli (buyer) luar negeri lewat pelbagai pameran. Saat ini banyak pembelinya berasal beberapa negara di Eropa, Asia, dan Amerika Serikat. Ia juga punya perwakilan penjualan di puluhan negara.
Tiap tahun, pendapatan Farry dari ekspor produk mebel bisa mencapai US$ 5 juta–US$ 7,5 juta. Salah satu keunggulan bisnis Java adalah memberi nilai lebih pada produk mebel dengan kualitas dan inovasi desain. Baru-baru ini, produk Cocomosaic berhasil masuk dalam lima besar Gaia Award 2011 di Dubai. Penghargaan ini diberikan bagi produk inovatif di bidang konstruksi dan bangunan yang ramah lingkungan.
Lahir dari keluarga pedagang kelontong di Cirebon, sejak kecil 45 tahun silam, orang tua Farry biasa menerapkan disiplin dalam penggunaan keuangan. Impian orang tuanya adalah anak-anaknya sekolah di luar negeri. “Saya rela tidak dibelikan mobil demi bisa bersekolah di Amerika,” ungkap anak keenam dari tujuh bersaudara ini.
Alhasil, setelah menyelesaikan SD dan SMP di Cirebon, saat kelas III SMA, Farry dikirim orang tuanya ke Kanada untuk persiapan kuliah di Amerika Serikat. Pada tahun 1990, Farry menamatkan pendidikan di University of Minessota, dengan menyabet dua gelar master di bidang electrical engineering dan computer science. Semuanya diselesaikan dengan predikat magna cum laude.
Setelah kuliah, Farry ikut program management trainee di General Electric sebagai accelerated candidate untuk fast track Information Systems Management Program (ISMP). Meski bergaji US$ 35.000 per tahun, ia merasa ada yang kurang. “Mungkin karena orang tua saya pedagang, ada yang kurang jika saya hanya menjadi karyawan,” katanya.
Pada tahun 1993, Farry memutuskan pulang ke Cirebon atas permintaan orang tuanya. Sebagai anak lelaki pertama di keluarga, ia merasa punya tanggung jawab besar merawat orang tuanya yang sudah tua. “Kakak-kakak perempuan saya ikut suami ke luar negeri, sementara saya dan adik lelaki saya di Cirebon,” katanya.
Usaha pertama Farry adalah meneruskan toko kelontong orang tuanya. Tiap bulan, ia hanya mendapat uang jajan sebesar Rp 500.000. Ia juga ikut membantu mengelola pemasar-an bisnis adiknya, Wika Tandean. “Adik saya menjual rotan mentah ke perusahaan mebel di Cirebon,” katanya.
Masuk ke bagian pemasaran membuat Farry mengenal banyak buyer rotan dan mebel dari luar negeri. Suatu saat, ia mendapat tawaran dari seorang buyer dari Jepang untuk memasok keperluan mebel ke Jepang. Alhasil, dengan modal Rp 300 juta dari orang tua, pada tahun 1993, ia mendirikan perusahaan patungan yang khusus menggarap pasar mebel untuk diekspor ke Jepang.
Kurang lebih satu setengah tahun berkongsi, Farry memilih mandiri dengan membuat perusahaan sejenis untuk menggarap pasar di luar Jepang. Tahun 1995, ia mendirikan Java. Saat pengusaha rotan dan mebel masih bergantung pada buyer yang datang, ia sudah aktif menawarkan produk lewat pameran. “Sampai-sampai kegiatan produksi dan kualitas kami kadang terbengkalai,” katanya.
Lantaran Farry menerapkan standar kualitas produk Eropa dan Amerika, para buyer langsung tertarik menjadi pelanggan. Pada tahun 1998, bisnisnya semakin besar. Saat terjadi devaluasi parah, sebagai eksportir ia malah pesta pora. “Saya bisa mendapatkan untung Rp 100 juta dengan hanya mengirimkan 1.000 keranjang kecil seharga US$ 12 per unit,” ujarnya. Saat itu, biaya produksinya hanya Rp 15.000, tapi kurs Rp 10.000–Rp 12.000 per dolar.
Tahun itu juga, Farry memindahkan usaha di lokasi seluas 50.000 meter persegi. Kini, di atas lokasi itu sudah berdiri tiga pabrik dan tiga ruang pamer. Perusahaan ini punya tiga divisi: Java, Bali luz (lampu dekoratif), dan Valentti Lifestyle.
Untuk memperluas pasar, tahun 2010, Farry mendirikan Cocomosaic yang mengolah limbah batok kelapa menjadi material dekoratif nan eksotis untuk keperluan arsitektur dan desain interior. Pasarnya ada di puluhan negara.
Farry mendapat pasokan batok kelapa dari masyarakat. Ia berharap, dalam tiga tahun, Cocomosaic bisa menambah nilai ekspor Java mencapai lebih dari Rp 30 miliar.
Sumber : wirasmada.wordpress.com

Ijazah SMP Sukses Memiliki 50 Pesawat


Ingin pinjam uang di Bank dianggap gila, akhirnya jual Cincin dan Perhiasan yang dia punya buat modal bakul ikan. Keputusannya keluar dari sekolah saat masih berusia 17 tahun sangat disesalkan oleh kedua orang tuanya. Namun, berkat keuletan dan kerja kerasnya, kini Susi Pudjiastuti memiliki 50 Pesawat Terbang dan pabrik pengolahan ikan yang berkualitas untuk melayani kebutuhan ekspor.
Namanya Susi Pudjiastuti, Presiden Direktur PT ASI Pudjiastuti yang bergerak di bidang perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation yang merupakan operator penerbangan Susi Air. Bukan hanya bahasa Inggris fasih yang keluar dari mulutnya saat berbincang dengan para pilotnya yang bule. Susi – panggilan akrabnya – juga menggunakan bahasa Sunda dan sesekali bahasa Jawa kepada pembantu-pembantunya. Saat ini, wanita kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965 tersebut, memiliki 50 unit pesawat berbagai jenis. Di antaranya adalah Grand Caravan 208B, Piaggio Avanti II, Pilatus Porter, serta Diamond DA 42. Kebanyakan pesawat itu dioperasikan di luar Jawa seperti di Papua dan Kalimantan. “Ada yang disewa. Namun, ada yang dioperasikan sendiri oleh Susi Air. Biasanya dipakai di daerah-daerah perbatasan oleh pemda atau swasta,” jelas wanita yang betis kanannya ditato gambar burung phoenix dengan ekor menjuntai itu.
Bakat bisnis Susi terlihat sejak masih belia. Pendirian dan kemauannya yang keras tergambar jelas saat usia Susi menginjak 17 tahun. Dia memutuskan keluar dari sekolah ketika kelas II SMA. Tak mau hidup dengan cara nebeng orang tua, dia mencoba hidup mandiri. Tapi, kenyataan memang tak semudah yang dibayangkan.
“Cuma bawa ijazah SMP, kalau ngelamar kerja jadi apa saya. Saya nggak mau yang biasa-biasa saja,” ujarnya.
Kerja keras pun dilakoni Susi saat itu. Mulai dari berjualan baju, bed cover, hingga hasil-hasil bumi seperti cengkeh. Setiap hari, Susi harus berkeliling Kota Pangandaran menggunakan sepeda motor untuk memasarkan barang dagangannya. Hingga, dia menyadari bahwa potensi Pangandaran adalah di bidang perikanan.
“Mulailah saya pengen jualan ikan karena setiap hari lihat ratusan nelayan,” tuturnya.
Pada 1983, berbekal Rp 750 ribu hasil menjual perhiasan berupa gelang, kalung, serta cincin miliknya, Susi mengikuti jejak banyak wanita Pangandaran yang bekerja sebagai bakul ikan. Tiap pagi pada jam-jam tertentu, dia nimbrung bareng yang lain berkerumun di TPI (tempat pelelangan ikan).
“Pada hari pertama, saya hanya dapat 1 kilogram ikan, dibeli sebuah resto kecil kenalan saya,” ungkapnya.
Tak cukup hanya di Pangandaran, Susi mulai berpikir meluaskan pasarnya hingga ke kota-kota besar seperti Jakarta. Dari sekadar menyewa, dia pun lantas membeli truk dengan sistem pendingin es batu dan membawa ikan-ikan segarnya ke Jakarta.
“Tiap hari, pukul tiga sore, saya berangkat dari Pangandaran. Sampai di Jakarta tengah malam, lalu balik lagi ke Pangandaran,” ucapnya mengenang pekerjaan rutinnya yang berat pada masa lalu.
Meski sukses dalam bisnis, Susi mengaku gagal dalam hal asmara. Wanita pengagum tokoh Semar dalam dunia pewayangan itu menyatakan sudah tiga kali menikah. Tapi, biduk yang dia arungi bersama tiga suaminya tak sebiru dan seindah Pantai Pangandaran. Semua karam. Dari suaminya yang terakhirlah, Christian von Strombeck, si Wonder Woman ini mendapat inspirasi untuk mengembangkan bisnis penerbangan.
“Dia seorang aviation engineer,” lanjutnya. Christian merupakan seorang ekspatriat yang pernah bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara yang sekarang bernama PT DI, Red). Awal perkenalannya dengan lelaki asal Prancis itu terjadi saat Christian sering bertandang ke Restoran Hilmans milik Susi di Pantai Pangandaran. Berawal dari perkenalan singkat, Christian akhirnya melamar Susi.
“Restoran saya memang ramai. Sehari bisa 70-100 tamu,” katanya.
Dengan Christian, Susi mulai berangan-angan memiliki sebuah pesawat dengan tujuan utama mengangkut hasil perikanan ke Jakarta. Satu-satunya jalan, lanjut Susi, adalah dengan membangun landasan di desa-desa nelayan.
“Jadi, tangkap ikan hari ini, sorenya sudah bisa dibawa ke Jakarta. Kan cuma sejam,” tegas ibu tiga anak dan satu cucu tersebut.
Berbeda jika harus memakai jalur darat yang bisa memakan waktu hingga sembilan jam. Sesampai di Jakarta, banyak ikan yang mati. Padahal, jika mati, harga jualnya bisa anjlok separuh.
“Kami mulai masukin business plan ke perbankan pada 2000, tapi nggak laku. Diketawain sama orang bank dan dianggap gila.
“Mau beli pesawat USD 2 juta, bagaimana ikan sama udang bisa bayar?”, ujar Susi.
Barulah pada 2004, Bank Mandiri percaya dan memberi pinjaman sebesar USD 4,7 juta (sekitar Rp 47 miliar) untuk membangun landasan, serta membeli dua pesawat Cessna Grand Caravan. Namun, baru sebulan dipakai, terjadi bencana tsunami di Aceh.
“Tanggal 27 kami berangkatkan satu pesawat untuk bantu. Itu jadi pesawat pertama yang mendarat di Meulaboh. Tanggal 28 kami masuk satu lagi. Kami bawa beras, mi instan, air dan tenda-tenda,” ungkapnya.
Awalnya, Susi berniat membantu distribusi bahan pokok secara gratis selama dua minggu saja. Tapi, ketika hendak balik, banyak lembaga non-pemerintah yang memintanya tetap berpartisipasi dalam recovery di Aceh.
“Mereka mau bayar sewa pesawat kami. Satu setengah tahun kami kerja di sana. Dari situ, Susi Air bisa beli satu pesawat lagi,” jelasnya.
Perkembangan bisnis sewa pesawat miliknya pun terus melangit. Utang dari Bank Mandiri sekitar Rp 47 miliar sekarang tinggal 20 persennya.
“Setahun lagi selesai. Tinggal tiga kali cicilan lagi. Dari BRI, sebagian baru mulai cicil. Kalau ditotal, semua (pinjaman dari perbankan) lebih dari Rp 2 triliun. Return of investment (balik modal) kalau di penerbangan bisa 10-15 tahun karena mahal,” katanya.
Susi tak hanya mengepakkan sayap di bisnis pesawat dan menebar jaring di laut. Sekarang, dia pun merambah bisnis perkebunan. Meski begitu, dia mengakui ada banyak rintangan yang harus dilalui.
“Perikanan kita sempat hampir rugi karena tsunami di Pagandaran pada 2005. Kami sempat dua tahun nggak ada kerja perikanan,” tuturnya.
Untuk penerbangan rute Jawa seperti Jakarta-Pangandaran, Bandung-Pangandaran dan Jakarta-Cilacap, Susi menyatakan masih merugi. Sebab, terkadang hanya ada 3-4 penumpang. Dengan harga tiket rata-rata Rp 500 ribu, pendapatan itu tidak cukup untuk membeli bahan bakar.
“Sebulan rute Jawa bisa rugi Rp 300 juta sampai Rp 400 juta. Tapi, kan tertutupi dari yang luar Jawa. Lagian, itu juga berguna untuk mengangkut perikanan kami,” ujarnya.
Susi memang harus mengutamakan para pembeli ikannya, karena mereka sangat sensitif terhadap kesegaran ikan. Sekali angkut dalam satu pesawat, dia bisa memasukkan 1,1 ton ikan atau lobster segar. Pembelinya dari Hongkong dan Jepang setiap hari menunggu di Jakarta.
“Bisnis ikan serta lobster tetap jalan dan bisnis penerbangan akan terus kami kembangkan. Tahun depan kami harap sudah bisa memiliki 60 pesawat,” katanya penuh optimisme. Semoga Kisah Ibu Susi ini bisa memacu semangat Generasi Muda Negeri ini untuk berani berusaha dan mau bekerja keras ! Tidak hanya berharap bisa bekerja sebagai pegawai saja, tetapi justru bisa menciptakan lapangan kerja baru di tengah sempitnya lapangan kerja saat ini.
Sumber : semuasaudara.com