Selasa, 02 Oktober 2012

Sukses Penjual Pakaian


Ini adalah kisah nyata tentang perjuangan hidup seorang pria bernama Pak Jamal. Beliau tinggal di kota kelahiran saya, yaitu di Kota Sorong – Papua Barat.

Awalnya, Pak Jamal hidup dalam kondisi yang terbatas, bisa dibilang beliau hidup dalam kemiskinan. Sehari – hari beliau berjualan ikan keliling dengan menggunakan sepedanya yang telah  usang. Penghasilannya pun hanya cukup untuk makan sehari bersama istri dan kedua anaknya. Pak Jamal merupakan pribadi yang baik dan taat beribadah. Walaupun miskin, Pak Jamal selalu berusaha menyisihkan sedikit penghasilannya untuk di tabung di Bank dan juga untuk bersedekah.

Suatu ketika, Bank tempat Pak Jamal menabung mengadakan pengundian hadiah untuk para nasabahnya. Tak disangka, Pak Jamal yang hanya mempunyai saldo beberapa ratus rupiah saja di Bank tersebut, mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebesar Rp.10.000.000,-, inilah rejeki yang arah datangnya tidak diduga. Pak Jamal pun mulai menggunakan uang tersebut sebagai modal usaha.

Dengan modal hadiah dari Bank, Pak Jamal membeli pakaian di Jakarta untuk dijual kembali di Kota Sorong, tentunya pakaian yang dibeli oleh beliau masih dalam jumlah yang sedikit karena keterbatasan modal. Bisnis ini terus dilakukan beliau selama beberapa bulan, hingga akhirnya beliau bertemu dengan seorang pengusaha sukses yang bergerak dibidang jual –beli sirip dan ekor ikan mangiwang. Pengusaha tersebut menawarkan Pak Jamal untuk bekerja-sama. Pak Jamal pun beralih  dari pedagang pakaian kecil-kecilan menjadi pengusaha jual-beli sirip dan ekor ikan mangiwang. Tak disangka, ternyata bisnis baru tersebut berkembang sangat pesat.
Ketika bisnis jual-beli sirip dan ekor ikan mangiwang terus berkembang, Pak Jamal mulai melirik kembali bisnis Pakaian yang pernah ia geluti sebelumnya. Pak jamal pun memulai kembali bisnis pakaiannya, namun kali ini dalam skala yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Kedua bisnis beliau terus dan terus berkembang. Dari hasil bisnis tersebut, kini beliau telah memiliki 5 unit RuKo (Rumah Toko), dimana 3 ruko digunakan untuk bisnis jual – beli sirip dan ikan mangiwang, dan 2 ruko digunakan untuk tempat bisnis pakaian.

Walaupun Pak Jamal telah sukses, tetapi sifat dan kepribadian beliau tidak pernah berubah. Pak Jamal tetap menjadi pribadi yang baik, rendah hati, suka menolong, dan selalu bersedekah. Bahkan beliau telah selesai membangun sebuah Masjid yang bernama Masjid Nurul Iman di lingkungan tempat tinggal beliau. Namun sayangnya, 2 tahun yang lalu (tahun 2009) beliau telah meninggal dunia. Kini bisnis – bisnis beliau diteruskan oleh kedua anaknya.

Sumber : ardhanpapua.wordpress.com

Sukses Dengan Kaus Kaki

Dalam keadaan terburu-buru, kerap kali kita salah mengambil pasangan kaus kaki. Warna mungkin sama terang, tapi begitu diteliti motifnya berbeda. Kejadian itu bisa memalukan dan tak tertutup kemungkinan jadi bahan olok-olok.

Tetapi, ternyata, itu bisa jadi ide bisnis yang brilian. Tengok pengalaman dua sekawan ini. Suatu kali Arielle Eckstut dan Jonah Staw makan malam di suatu kesempatan pada tahun 2003. Habis makan mereka bergurau. Menjelang pulang, Staw kehilangan sebelah kaus kakinya (karena selama makan mereka melepas kaus kaki). Namun ia menemukan kaos kaki lain yang berbeda motif. 
Lama mereka mencari ke mana kaus kaki Staw perginya, namun tak juga ketemu.  Satu-satunya solusi adalah memakai kaus kaki itu kendatipun motifnya beda

Kreativitas Menghasilkan Ide 
Sampai di rumah Staw masih memikirkan kaus kaki berbeda motif itu. Ia malah membayangkan seorang gadis kecil memakai kaus kaki berbeda motif kiri-kanan dengan gayanya. "Ini soal kreativitas, bukan soal no matching dan lucunya kombinasi itu," ujarnya.

Dari situlah ide memasarkan missmatched socks (kaus kaki kiri-kanan beda) muncul. Lalu bersama seorang teman lainnya, Jason Dorf, ketiganya merealisasikan ide itu dengan mendirikan LittleMissMatched. Melalui perusahaan ini mereka menjual kaus kaki dalam kemasan 3 kaus kaki (bukan sepasang) dan tujuh kaus kaki sehingga memudahkan pembeli mengganti-ganti pasangannya kala memakainya. Pada saat itu mereka sudah membuat 134 desain. Mereka memasarkan kaus kaki itu untuk anak perempuan usia 8-14 tahun.

Pada tahun pertama, kaus kaki dagangan mereka terjual laris manis. Staw bersama Rckstut dan Dorf bahkan bisa membukukan omset hingga 5 juta dollar AS. Tiga tahun kemudian omsetnya bisa mencapai 25 juta dolar AS. Sekarang, mereka tak hanya menjual kaus kaki. Mereka sudah menjual aneka produk mulai dari kaus kaki, sandal, hingga sprei. Sekarang barang-barangnya tersebar di lebih 3000 outlet di Amerika Serikat.

Hmmm, siapa sangka, kaus kaki tertukar bisa menghasilkan bisnis besar? Mudah-mudahan tulisan ini bisa memacu ide, semangat, dan kreativitas Anda. 

Sumber : kisahsukseshebat.blogspot.com

Sameer Gehlaut

Sekolah, bekerja sebentar di luar negeri untuk mencari pengalaman, lalu pulang ke negaranya. Barangkali ini patron Sameer Gehlaut yang patut ditiru. Lelaki berusia 37 tahun ini sekarang jadi panutan baru di India. Bukan saja karena memiliki tampang bagai bintang Bollywood, tetapi juga sukses dan kaya. Bahkan tahun ini ia kembali dinobatkan sebagai anak muda terkaya di India yang diperoleh dari hasil jerih payah sendiri. Kekayaannya mencapai sekitar Rp 11,2 triliun.

Sameer adalah alumnus Indian Institute of Technology, New Delhi, jurusan teknis mesin. Ia lulus tahun 1995. Segera setelah lulus, ia diterima di Halliburton, sebuah perusahaan minyak AS dan ia pun terbang ke negeri Paman Sam. Seperti juga kisah-kisah profesional yang bekerja di perusahaan minyak, Sameer pun mendapat gaji dan fasilitas yang istimewa. Namun semua itu tak sepenuhnya menyenangkannya. Ia masih memiliki idealisme untuk ikut mengembangkan ekonomi negaranya, India. 

Suatu kali di tahun 1999, ia mendengar ada sebuah perusahaan pialang kecil,Inorbit Sekuritas, yang akan tutup yang sudah memiliki lisensi di National Stock Exchange (NSE) India. Timbul idenya untuk membangun usaha sendiri dari tabungannya. Maka ia pun pulang ke tanah leluhurnya. Sebagai orang baru di bisnis keuangan, ternyata ia punya ide cemerlang yang "out of the box." Pada saat itu e-commerce baru populer di India sedangkan ia cukup ahli di bidang itu karena pengalamannya bekerja di perusahaan AS.
Setelah berkutat mempersiapkan website dan software-nya bersama dua rekan sealmamaternya, pada Desember 1999 berdirilah "Indiabulls Financial Services", broker pasar modal pertama di India yang menjalankan transaksi lewat internet. Meski namanya mentereng, kantor usahanya berada di sebuah ruko kecil di dekat Terminal Bus Hauz Khas, New Delhi. Perangkat operasionalnya pun hanya dua buah komputer. Namun orang tak akan melihat kantornya kala mengunjungiwebsite-nya di internet kan? Karena itu Sameer tetap percaya diri.

Sumber : ksahsukseshebat.com

Pengusaha Toko Perhiasan


Bagi sebagian besar pengusaha yang baru memulai, kesulitan terbesar yang harus mereka hadapi itu umumnya adalah menghasilkan penjualan. Akan tetapi, bagi Karl Massey, kesulitan yang harus dia hadapi malah sebaliknya.
Massey lahir dan dibesarkan di Macclesfield, Cheshire, dan sejak usia 13 tahun dia sudah mulai bekerja untuk ayahnya setiap hari Sabtu di sebuah toko perhiasan kecil di Alderley Edge yang mengkhususkan diri untuk menjual perhiasan bekas dan antik.
Dua tahun kemudian, setelah menyelesaikan sekolahnya, dia mulai bekerja secara full time. Dia mengatakan: 'Aku sangat menyukainya.'
Antara tahun 1980 sampai 1985, bisnis keluarganya berkembang pesat sehingga mereka bisa membeli empat toko perhiasan lainnya, tapi saat adiknya mulai ikut bergabung dengan bisnis keluarga, perselisihan mulai terjadi diantara mereka. Dari situ tampak jelas bahwa untuk jangka panjang, keduanya tidak mungkin bisa bekerja sama.
Lalu, bisnis keluarganya membeli sebuah toko perhiasan di Bramhall, Cheshire, yang sedang mengalami kebangkrutan. Saat itu, Massey menemukan bahwa toko tersebut punya satu pelanggan tetap, yaitu sebuah perusahaan yang selalu memesan jam emas tangan setiap bulan untuk pekerjanya yang pensiun. Ini memberikannya sebuah ide.
Dia mengatakan: 'Ku pikir ini pasti bisnis yang sangat mudah karena konsumen perusahaan tinggal memesan secara otomatis tanpa kami harus melakukan apapun.'
Jadi, ditahun 1990, diusianya yang ke 26 tahun, dia mulai membuka sebuah divisi kecil diruang belakang tokonya, yang bertujuan untuk menyediakan jam tangan dan jam dinding bagi perusahaan-perusahaan yang ingin memberikan kenang-kenangan dan penghargaan kepada para pekerjanya yang pensiun.
Akan tetapi, ayahnya, tidak begitu optimis. Massey mengatakan: 'Ayah mendukung ku untuk mengerjakan ide tersebut tapi dia merasa bahwa itu cuma akan membuang waktu ku.'
Meski begitu, Massey tetap melanjutkan idenya dan menyewa seorang sekretaris, mengeluarkan sebanyak £3,000 untuk membuat brochure dan menyebarkannya ke berbagai perusahaan besar yang bisa dia temukan.
Order pertamanya datang dari Tarmac, yang membebaskan karyawannya yang akan pensiun untuk memilih hadiah yang mereka inginkan, apakah berupa jam tangan, jam dinding, atau sesuatu yang berasal dari toko elektronik Dixons.
Massey dikontrak untuk menyediakan jam tangan, tapi dia segera menyadari bahwa dia tidak akan mendapat order lain. Dia mengatakan: 'Aku menghubungi menejer dibagian sumberdaya manusia dan dia mengatakan bahwa tidak ada yang mau memesan. Dia mengatakan bahwa mereka lebih suka pergi ke Dixons.'
Pada saat itulah Massey mendapatkan ide besarnya. Dan ide inilah yang kemudian akan mengubah bisnisnya. Dia mengatakan: 'Aku menyadari bahwa untuk bisa sukses sebagai provider, aku harus menawarkan produk-produk bermerek yang lebih bervariasi, membuat brochure sebanyak mungkin dan menyebarkannya ke departemen sumberdaya manusia yang ada di suatu perusahaan.'
Jadi, dia mulai menyertakan berbagai jenis produk, misalnya televisi dan kamera untuk ditawarkan kepada perusahaan yang ingin menjadi kliennya. Di tahun 1992 saja, dia sudah bisa menghasilkan penjualan sebanyak £300,000 per tahun sehingga dia bisa mulai membuka bisnisnya sendiri dan menetapkan diri sebagai penyedia jasa untuk market long-service award.
Tidak beberapa lama kemudian, dia mendapat sebuah terobosan yang besar saat dia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tender dan memenangkan kontrak sebesar £1 juta dari British Rail untuk menyediakan long-service dan retirement awards bagi karyawan mereka.
Tapi dia segera menyadari bahwa mereka mungkin enggan untuk memenangkan perusahaannya jika mereka tahu betapa kecil bisnisnya,  sehingga dia memutuskan untuk memberikan kesan bahwa bisnisnya jauh lebih besar dari kelihatannya. \
Dia mengatakan: 'Saat mereka berkunjung, kami mengosongkan toko perhiasan dan hanya menempatkan produk-produk yang kami tenderkan, sehingga itu terlihat seperti sebuah showroom untuk sebuah perusahaan long-service award, dan bukan sebuah toko perhiasan. Mereka menyukainya.'
Dari 14 peserta tender, dia yang menang. Dia mengatakan: 'Kupikir inilah saatnya, kita telah melakukan suatu terobosan.'
Satu-satunya masalah adalah, setelah memenangkan kontrak, dia cuma punya waktu empat bulan untuk mengubah bisnisnya menjadi sebuah bisnis yang benar-benar mampu memberikan pelayanan seperti yang telah dijanjikan.
Dia mengatakan: 'Aku tidak punya staff dan gudang dan bisnis ku tidak dijalankan secara modern. Yang aku punya hanyalah sebuah kantor dan telephone.'
Lalu, Massey memutuskan untuk menyewa sebuah kantor dan mulai merekrut staff, sehingga saat kontrak dimulai pada tahun 1993, dia sudah siap.
Tapi dia masih punya satu masalah untuk diatasi. Yaitu, karena dia belum punya track record, para supplier menolak untuk memberikannya kredit. Hingga dalam enam minggu saja, dia punya masalah utama dalam cash flow.
Untuk memperparah keadaan, British Rail mengumumkan sebuah skema privatisasi dan memberikan kesempatan pada para pekerjanya untuk pensiun dini secara suka rela yang berati bahwa mereka akan membutuhkan banyak hadiah untuk semua staff yang pensiun. Hingga pada bulan April saja, mereka sudah melampaui budget £1 juta yang dipersiapkan.
Dia mengatakan: 'Setiap pagi, aku harus pergi ke Kantor Pos untuk mengumpulkan order yang jumlahnya banyak sekali. Itu adalah saat-saat yang sangat melelahkan karena begitu banyak tekanan dari berbagai sudut. Bahkan, aku pernah sampai tertidur dimobil saat hendak pulang kerumah karena kelelahan.'
Untungnya, krisis tersebut akhirnya bisa teratasi saat British Rail menawarkan untuk membayarnya dalam tujuh hari dan bukannya dua bulan seperti yang telah disepakati.
Dalam jangka waktu satu tahun, bisnisnya telah berkembang dari £300.000 menjadi £2,5 juta. British Rail memperpanjang kontraknya selama dua tahun dan Massey mendapat lebih banyak klien lagi, dan menyediakan masing-masing mereka sebuah brochure yang unik untuk identitas perusahan mereka sendiri.
Dia mengatakan: 'Para pesaing kami adalah dinosaurus, mereka cuma ingin mensupply produk-produk tradisional. Jadi, kami mengatakan pada calon klien bahwa kami bisa menyediakan mereka sebuah brochure, dan mereka bebas untuk memilih jenis produk yang mereka inginkan. Kami memberikan mereka banyak kemudahan dan kebebasan.'
Massey merasa cemas bahwa target pasarnya akan semakin mengecil karena dia tahu bahwa semakin lama, semakin sedikit saja orang yang mau bertahan pada satu pekerjaan yang sama selama 25 tahun.
Hingga pada suatu hari, dia diminta untuk menyediakan jasa yang memberikan penghargaan kepada karyawan yang telah bekerja selama lima tahun, dan itu membuatnya jadi menyadari bahwa target pasarnya telah berubah.
Dia mengatakan: 'Aku menemukan bahwa perusahaan-perusahaan senang memberikan penghargaan kepada para staff-nya, sebab itu membuat staff mereka merasa dihargai. Mereka memang tidak punya budget yang besar untuk memberikan penghargaan pada seseorang yang telah bekerja selama lima tahun, tapi setidaknya itu bisa memberikan rasa senang dari orang tersebut terhadap perusahaanya.
'Saat ini, hak para staff untuk mendapat penghargan atas jasanya karena telah bekerja selama minimal lima tahun sudah menjadi issue utama di berbagai perusahaan.' Dia menambahkan: 'Aku menyadari bahwa ada pasar yang benar-benar potensial di luar sana. Para provider tradisional sudah menyerah dan kupikir, baiklah, mari kita kuasai pasar ini.'
Dia mulai memperkenalkan Aspirations, sebuah brosur yang menawarkan pilihan yang lebih banyak dan memberikan nilai point pada masing-masing produk. Itu berarti bahwa si penerima bisa memilih beberapa hadiah bergantung dari point yang telah mereka kumpulkan, dan jika pilihan hadiah mereka membutuhkan point yang lebih besar di banding yang mereka miliki, mereka bisa tetap mendapatkannya dengan discount.
Itu adalah sebuah ide yang menginspirasi. Dalam waktu yang tidak lama, sebanyak 60 persen penerima membeli point tambahan, sehingga menciptakan sebuah sumber income baru yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Kemudian Massey mulai mengatur skema administrasi untuk perushaan-perusahaan, yaitu dengan mengirimkan hadiah secara langsung kepada penerima atas persetujuan dari direktur atau pimpinan perusahaan.
Dia mengatakan: 'Kami sangat sibuk untuk mencari cara agar bisa memberikan nilai lebih ke dalam prosesnya, untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang bisa mencuri bisnis kami. Saya selalu merasa cemas bahwa nantinya ada perusahaan yang lebih besar akan meniru apa yang kami lakukan dan mencurinya dari kami.'
Selama beberapa tahun terakhir, dia juga memfokuskan diri untuk meningkatkan penawaran yang potensial dengan cara menambahkan insentif dan motivasi pasar dan menyewa seorang staff spesialis dari sektor tersebut untuk membantunya. Dia mengatakan: 'Aku tahu bahwa untuk mempertahankan sisi pengembangan bisnis, kami harus terus bergerak dan berubah dari sekedar menjadi provider untuk long-service award.'
Di tahun 2005, bisnisnya mengalami guncangan saat permintaan untuk jasanya menurun drastis. Itu terjadi akibat dampak dari penurunan lapangan kerja selama masa awal resesi di tahun 1990, tapi Massey kemudian menutup beberapa tokonya dan mempekerjakan menejemen baru, hingga di tahun 2010 bisnisnya kembali berkembang hingga mencapai nilai £20 juta.
Sekarang dia telah menjadi provider skema award bagi 500 perusahaan blue chip. Kini, di usianya yang ke 45 tahun, Massey mengatakan bahwa hasratnyalah yang menjadi pendorongnya, dia ingin membuktikan pada semua orang bahwa idenya bisa benar-benar berhasil.
Dia mengatakan: 'Awalnya adalah untuk membuktikan pada ayahku bahwa aku bisa melakukannya. Aku juga mendapat banyak terobosan saat mulai berhubungan dengan perusahaan-perushaan besar misanya ICI. Aku masih sering merasa gugup saat akan melakukan meeting, dan saat aku keluar dengan membawa kontrak, itu benar-benar membuat ku sangat bersemangat.'
Menurut pendapatnya, menjadi pengusaha sukses itu adalah tentang memanfaatkan semua peluang yang muncul.
Dia mengatakan: 'Aku selalu tergoda untuk mengatakan bahwa menemukan suatu ide yang bagus untuk dijadikan bisnis itu adalah tentang menemukan sebuah target pasar yang bisa anda manfaatkan dan kembangkan. Tapi anda harus benar-benar bisa melakukannya dengan cara yang terbaik, dari semua aspek. Aku telah menemukan sebuah area yang sebenarnya bisa ditemukan oleh toko perhiasan manapun, tapi mereka umumnya sudah merasa puas dengan keadaannya. Apa yang kami lakukanlah yang telah mengubah kami menjadi penguasa untuk kategori yang kami pilih.
Sumber : pengusaha-sukses.blogspot.com

Senin, 01 Oktober 2012

Sukses Budidaya Jamur


Usaha budidaya jamur yang dirintis Hari Siswoyoto sejak tahun 1995 itu tidak hanya mampu menghidupi keluarganya, tetapi juga memberdayakan sedikitnya 700 petani di daerah Sukabumi, Bogor, dan Cianjur, Jawa Barat.

Padahal, ide membudidayakan jamur itu muncul secara kebetulan saat ia masih menjadi karyawan sebuah perusahaan otomotif di Jakarta pada tahun 1984. Awalnya, Hari Siswoyoto tak terpikir untuk mempunyai usaha sendiri, apalagi membudidayakan jamur.

Dia merasa cukup nyaman menjadi karyawan dengan penghasilan tetap. Inspirasi menjadi pengusaha muncul justru dari seorang pedagang rokok dan minuman. Kalau pedagang rokok saja berani punya usaha sendiri, bahkan bisa mengembangkannya dari satu tempat menjadi 10 tempat berjualan, mengapa ia tak berani?
Hari lalu berusaha mencari bidang usaha yang kira-kira bisa dia tekuni. Pilihannya jatuh pada jamur karena dia kerap melihat orang di kampungnya, daerah Sleman, DI Yogyakarta, suka mengonsumsi jamur, terutama ketika musim hujan. ”Ketika itu jamur belum banyak di pasaran. Saya langsung yakin, jamur bisa menjadi peluang yang menjanjikan,” kata Hari.

Dimulai dari keyakinan itulah, di sela-sela waktu kerjanya, Hari rajin berburu informasi hingga dia bertemu dengan seorang kepala sekolah pertanian di Sukabumi. Menimba ilmu pertanian dari ”ahlinya”, dia lalu membuat semacam kebun percontohan jamur di kawasan Cisarua, Bogor.

Percobaan budidaya jamur mulai dari pembibitan hingga panen yang dilakukan Hari relatif berhasil. Namun, keberhasilan itu saja belum bisa dijadikan ukuran untuk memulai usaha. Pasalnya, Hari belum menemukan pasar yang bisa menyerap produk jamurnya secara rutin.

”Saya sempat putus asa karena pasar masih asing dengan produk pertanian bernama jamur. Harganya ketika itu juga masih sangat murah sehingga saya rugi jika budidaya jamur ini diteruskan,” cerita Hari yang menggunakan jamur tiram (Pleurotus ostreatus) jenis Oister oleim untuk memberdayakan masyarakat pedesaan di Sukabumi, Bogor, dan Cianjur.

Namun, di sisi lain, dia juga pantang berhenti dengan usaha yang sudah dirintis itu. Hari kemudian menyambangi pasar-pasar tradisional di Bogor dan Jakarta untuk membuat jaringan pemasaran jamur.
Ketika itu harga jamur relatif masih murah, sekitar Rp 2.000 per kilogram. Pasar pun mulai terbentuk, dari satu-dua pedagang, beberapa pedagang lainnya pun minta pasokan jamur darinya.
Di sisi lain, produksi jamur yang bisa dia pasok ke pasar-pasar tradisional di Bogor dan Jakarta juga semakin stabil karena banyak petani di Cisarua yang mengikuti jejak Hari. ”Para petani di Cisarua bahkan bisa ikut mengontrol harga karena permintaan pasar cukup banyak. Petani jadi punya daya tawar tinggi terhadap pedagang,” kata Hari tentang kondisi pada tahun 1997 itu.

Baru pada tahun 2000 Hari dan seorang rekannya mengembangkan budidaya jamur itu secara besar-besaran sehingga makin banyak petani yang bisa dilibatkan. Harga jamur pun sudah meningkat menjadi Rp 6.000 per kilogram.

Seperti layaknya sebuah usaha yang mengalami pasang-surut, budidaya jamur yang dikembangkan Hari juga sempat menyurut. Bedanya, usaha jamurnya menyurut karena dia dipindahtugaskan dari kantor di Jakarta ke kantor cabang di salah satu kota di Kalimantan. Namun, telanjur cinta pada jamur, Hari lalu memutuskan mengundurkan diri dari kantor tahun 2002. Dia memilih untuk fokus pada usaha jamurnya.

Sampai tahun 2005 semakin banyak petani di daerah Cikidang, Kabupaten Sukabumi, dan Puncak, Cianjur, yang terlibat dalam budidaya jamur yang dikelola Hari. Dengan bertani jamur, para petani binaannya bisa mendapatkan penghasilan dari Rp 100.000 hingga Rp 300.000 per hari.

Dari pengalamannya selama ini, Hari berkesimpulan, budidaya jamur bisa diterima petani dalam waktu cepat sebab relatif mudah. ”Jamur itu parasit yang tumbuh cepat dan tidak memerlukan lahan yang luas,” katanya.
Jamur tiram, misalnya, bisa dibudidayakan dengan media tanam polybag yang disusun di rak-rak. Untuk budidaya jamur tiram sebanyak 10.000 polybag diperlukan dana sekitar Rp 20 juta.

Rinciannya, untuk bibit Rp 17 juta dan pembuatan rumah budidaya Rp 3 juta dengan ukuran 6 meter x 12 meter. Dari budidaya itu akan diperoleh hasil sekitar 60 kilogram jamur setiap hari.

Belakangan harga jamur tiram sekitar Rp 6.500 per kg dari tangan petani. Di pasar modern harga jamur tiram mencapai Rp 22.500 per kg. Jamur tiram makin diburu konsumen karena memiliki kandungan protein tinggi.

Karena berkembangnya amat cepat, jamur tiram harus dipanen setiap hari, bahkan bisa dipanen pada pagi dan sore. Pasalnya, jamur yang sudah dibudidayakan akan mati dalam waktu tiga hari sejak tumbuh. ”Satu bibit jamur tiram itu akan terus panen hingga empat bulan sehingga modal usaha rata-rata sudah akan kembali atau impas pada dua bulan pertama budidaya,” katanya.

Setelah berhasil memberdayakan petani di pegunungan di wilayah Sukabumi, Cianjur, dan Bogor, belakangan Hari giat mengajak pemilik lahan sempit di Kota Sukabumi. Ia membuat percontohan di Jalan Bhayangkara, Kota Sukabumi.

”Dalam waktu empat bulan sudah 24 pembudidaya jamur yang ikut. Mereka umumnya memiliki lahan amat sempit. Bahkan, ada yang hanya seluas 2 meter x 3 meter, tetapi mereka rutin berproduksi dan menikmati keuntungan,” katanya.

Sebagian pembudidaya bahkan melebarkan usaha untuk memberi nilai tambah pada jamur karena hanya jamur berkualitas bagus yang bisa masuk ke pasar modern. Mereka mengolah jamur berkualitas rendah menjadi keripik jamur. Setelah dikeringkan, jamur digoreng. Harga jual keripik jamur ini bisa mencapai Rp 400.000 per kg.

Selain petani, budidaya jamur juga mulai dipraktikkan kesatuan militer dan kepolisian. Hari juga mendampingi usaha budidaya jamur di Sekolah Calon Perwira atau Secapa Polri Sukabumi. Menurut rencana, konsep budidaya jamur tersebut akan dikembangkan untuk membekali anggota kepolisian keahlian yang bisa memberikan penghasilan di luar kedinasan.

Sumber : pejamurnusantara.blogspot.com

Sukses Bisnis Keluarga dari Garasi Mobil


Menurut pendiri dan pemilik PT Kalbe Farma Tbk Boenyamin Setiawan keberhasilannya merintis bisnis keluarga farmasi hingga menjadi perusahaan terbuka saat ini berawal dari banyak kebetulan.
Membangun Kalbe Farma yang saat ini sudah begitu besar diakuinya tidak mudah, namun semuanya berjalan mengalir begitu saja meski pada awalnya berjalan banyak dengan trial and error.
Ia mengaku sudah berapa kali gagal untuk membangun industri farmasi sepulangnya ia dari kuliah di AS dengan beasiswa. Mulai dari meniru produk Cap Elang menjadi Cap Beo, Obat Kina dan lain-lain semuanya gagal.
Ditengah rentetannya kegagalannya, ia berencana akan bekerja ke Belanda, namun urung ia lakukan karena dihadang oleh kakaknya yang seorang dokter. Dari sinilah nasibnya berubah, setelah melalui kenalan kakaknya yang mimiliki bengkel di Tanjung Priok ia mendapatkan lokasi calon pabrik yang merupakan sebuah garasi mobil.
“Itu perusahaan bekas garasi. Kalau mau memulai usaha dari garasi, ini dialami oleh pengusaha dunia lainnya, kenyataannya berhasil,” jelasnya di acara seminar Bisnis Keluarga di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (11/11/2010).
Bisnis pertama Kalbe Farma, menurutnya diawali dengan membuat produk obat cacing. Dari keuntungan bisnis itu, ia putar lagi menjadi investasi dan seterusnya hingga besar seperti sekarang ini.
Ia menuturkan sebagai perusahaan keluarga, sejak dua tahun berdiri Kalbe Farma sudah menyusun falsafah bisnis perusahaan yang menjadi dasar bisnis Kalbe Farma. Profesionalisme menurutnya hal yang penting agar perusahaan keluarga tetap berjalan.
Yaitu pertama perusahaan harus tumbuh terus layaknya tumbuhan, pengembangan ilmu dan teknologi harus kuat, manajemen yang mengedepankan profesionalisme, dan mengedepankan kebersamaan diantara 5 saudaranya yang lain.
Cerita yang sama kurang lebih dialami oleh pendiri dan pemilik PT Mustika Ratu Tbk Mooryati Soedibyo yang mengaku tak pernah berpikir menjadi pengusaha kosmetik. Kisah suksesnya pun berawal dari sebuah garasi mobil rumahnya yang menjadi pabrik kecil-kecilan saat awal menjalani bisnis.
“Usaha berawal dari beras kencur, dimulai juga dari garasi,” katanya.
Mooryati menuturkan menjalani bisnis keluarga diakuinya memiliki tantangan terutama pada saat adanya suksesi kepemimpinan kegenerasi berikutnya. Mustika Ratu sendiri sudah masuk tahap generasi kedua.
Dikatakannya dari perusahaan keluarga yang ada hanya 40% yang bisa bertahan, sementara yang bisa tumbuh menjadi besar dan multinasional hanya 5% saja.
“Human resource penting sekali dalam menjalani bisnis keluarga,” katanya.
Menurutnya soal suksesi kepemimpinan tidak semuanya bisa dipukul rata, dalam beberapa kasus seperti Bosowa Group suksesi diambil oleh anak tertua Aksa Mahmud, sementara Garuda Food justru suksesi jatuh ke tangan anak yang ke-12, sementara pemilik Lippo James Riady merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara.
“Jadi anak pertama belum tentu mau,” katanya.
Sementara itu pendiri dan pemilik Bosowa Group Aksa Mahmud mengatakan kisah awalnya membangun kerajaan bisnis Bosowa Group hanya dari niat untuk menciptakan hidup yang lebih baik.
Mengenai proses regenerasi di bisnis keluarga, biasanya akan terjadi masalah ketika mulai terjadi suksesi ke generasi kedua dan berikutnya karena adanya perbedaan cara pandang. Sehingga kata dia, cara yang paling tepat adalah membangun bisnis keluarga menjadi perusahaan publik dan porsi pembagian saham harus sama rata antara anggota keluarga.
“Dengan masuk ke pasar modal, interpensi keluarga bisa diatasi,” jelas Aksa.
Ia juga mengatakan regenerasi bisa diambil dari anak maupun karyawan profesional. Meski ia lebih condong agar bisnis keluarga mengutamakan regenerasi pada anak si pemilik perusahaan keluarga tersebut.
“Bagaimana menyiapkan pengganti dari pada pendiri. Apakah mengambil dari keluarga dari anak atau karyawan. Kalau ada anak yang mampu itu yang terbaik,” ucapnya.
Sumber : elqorni.wordpress.com

Sukses Dengan Ponsel Bekas

Mengembangkan usaha di telepon seluler memang gampang-gampang susah. Selain harus mengikuti tren harga dan tipe terbaru, perlu sikap hati-hati agar tidak ditipu user. Meski demikian, menekuni bisnis HP second dirasa lebih menguntungkan.


Salah satunya diungkapkan Muchammad, penjual HP second di gerai Mobile 1 WTC lantai 3. Menurut dia, sebelum menekuni jual beli HP bekas, dirinya mencoba peruntungan di bisnis ponsel baru. Dengan modal awal Rp 25 juta, Muchammad menilai keuntungan yang diperoleh tidak seberapa, yaitu sekitar Rp 10-25 ribu per unit. ”Apalagi harga-harga HP baru cenderung turun,” katanya.
Bertahan 6-7 bulan di telepon seluler baru, Muchammad memilih pindah ke ponsel bekas. Dengan modal yang sama, dia bisa mendapatkan lebih banyak item HP yang bisa dijual. Keuntungannya pun lumayan. ”Per bulan bisa untung 10-20 persen dari modal,” ujarnya.
Menurut Muchammad, yang perlu diperhatikan dalam bisnis ponsel bekas adalah kondisi fisik ponsel. Setidaknya, fisik harus mulus atau tidak ada goresan. Baterai dan keypad juga dalam kondisi baik. Namun, ibarat pepatah sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh juga, Muchammad pun pernah kecolongan. ”Jadi, ketika di-charge, baterai dalam kondisi jalan. Tapi, sudah beberapa jam di-charge, ternyata nggak penuh-penuh. Artinya, ada sesuatu yang rusak. Karena itu harus hati-hati,” katanya.
Untuk bisa eksis, nama baik pun harus dijaga. Tak sekadar menjual lantas lepas tangan dari item yang sudah dibeli pembeli. Untuk masalah tersebut, pihaknya memberikan garansi konter 3 hari. Bentuk garansinya dalam layanan servis. Biasanya, terkait masalah baterai. Baterai yang jelek bisa ditukar dengan baterai lain yang kondisinya masih bagus. “Kalau dikembalikan dalam satu hari, uangnya kami kembalikan 100 persen. Tapi, di hari berikutnya hanya 90 persen uang kembali,” katanya.
Poin lain yang tak kalah penting, menurut Muchammad, adalah rajin mengamati pasar. Juga harus tahu kondisi fisik ponsel. “Kalau tidak pernah pegang HP sebelumnya akan sulit. Karena itu harus rajin update, biar tahu kondisi harga dan tipe HP terbaru,” katanya.
Hal yang sama dikatakan Riansyah, penjual ponsel bekas di gerai B’Rizky Cell WTC lantai 2. Dengan modal awal setidaknya Rp 10 juta, seseorang bisa memulai bisnis. ”Itu sudah termasuk biaya sewa stan dan bisa dapat 20-30 unit HP, bergantung tipe,” katanya.
Menurut dia, berbisnis ponsel bekas perlu skill. Orang harus berpengalaman di bidang HP dulu. Termasuk, isi fisik ponsel. Seperti hardware, baterai, keypad, dan bodi. Juga pengetahuan tentang harga pasar. ”Awalnya, saya mengorbankan ponsel pribadi buat kelinci percobaan,” katanya.
Mengikuti tren pasar, Riansyah pun banyak menjual ponsel qwerty. Sehari, 2-3 unit HP terjual. Tapi, bisa juga tidak laku kalau pasar sepi. Keuntungannya Rp 25-100 ribu per unit. ”Kalau enggak ikuti pasaran, ya enggak laku,” terangnya
Sumber : indocashregister.com