Minggu, 02 Desember 2012

Omzet Miliaran Berawal dari Coba-Coba


Berawal dari sebuah ruangan dan laptop pinjaman seorang teman, Putu Sudiarta membangun penyebaran teknologi dengan cara unik ke seluruh Indonesia hingga mancanegara. Bahkan, PT Bamboomedia Cipta Persada di Jalan Merdeka, Denpasar, Bali, sebagai aktualisasi karyanya itu pun tak pernah sepi dari kunjungan mahasiswa sampai rekan bisnis kecil dan besar. Lalu, keunikan apa yang membuatnya beromzet miliaran rupiah sejak berdiri tahun 2002 lalu?

Putu Sudiarta yang berperawakan tinggi, kurus, dan berpenampilan sederhana ini pun langsung menunjuk ke sebuah lemari kaca di salah satu sudut ruangan rapat di kantornya. ”Ini adalah lemari sejarah perjalanan Bamboomedia,” katanya sambil tersenyum.

Di dalam lemari itu tersimpan beberapa disket, telepon rumah, brosur-brosur, CD, kabel internet, beberapa buku, serta sebuah hair dryer. Barang-barang tersebut yang mengawalnya menjadi dikenal di dunia teknologi informasi. Ia sendiri pun tak menyangka bisa sebesar sekarang dan banyak pebisnis dan puluhan mahasiswa teknik informatika dengan beberapa bus dari luar Bali mengunjunginya karena penasaran dengan siapa di balik Bamboomedia.

Bamboomedia Cipta Persada dikenal sebagai penghasil perangkat lunak (software) aplikasi komputer untuk perkantoran, pelajar, karyawan, perusahaan besar ataupun kecil, sampai ke anak-anak. Intinya, perusahaan ini hanya mementingkan pendidikan dan bagaimana aplikasi ini bisa menyebar secara benar, baik, mudah, dan murah tanpa batas.

Bayangkan, Putu Sudiarta hanya menjual CD aplikasinya itu mulai harga Rp 25.000 per keping dan kurang dari Rp 50.000 per keping. Tidak berhenti di situ, aplikasinya juga boleh diakses oleh siapa pun dari CD, hanya dengan mendaftar atau membayar sejumlah uang sesuai harga CD tanpa harus datang ke kantornya.

”Kami ingin siapa pun bisa mudah untuk belajar meski jaraknya jauh dari sini. Buktinya, kami memiliki pelanggan di daerah Papua yang hanya dengan mengirimkan pesan singkat untuk mendapatkan nomor registrasi dan transfer uang. Satu CD bisa dipakai berulang kali,” jelasnya.

Sebelum memutuskan pulang ke pulau kelahirannya, Bali, Putu Sudiarta menyelesaikan S-1 di Jurusan Informatika Stikom Surabaya, Jawa Timur, dan pernah bekerja di kota itu. Ia yang lahir dan besar dari keluarga cukup mampu ini mulai merasa iba ketika suatu saat menemui lingkungannya yang serba kekurangan, termasuk sulitnya siswa mengakses teknologi.

Dari pengalaman itu, Putu Sudiarta bertekad mencari cara bagaimana ilmu yang selama ini dia geluti juga bisa dinikmati oleh mereka yang minim bangku pendidikan.

Menurut dia, dunia akan terus berkembang. Namun, apa artinya jika ada bagian dari negara ini masih serba kekurangan hanya karena tak memiliki kemampuan menjangkau dan dijangkau dari perkotaan.

Ia pun bertekad pulang ke Bali. Selanjutnya bersama seorang adik dan seorang temannya, Putu Sudiarta menggalang kekuatan menembus pasar dengan menjual beberapa aplikasi yang sudah disusun secara mudah untuk dicerna dan diikuti tanpa merasa digurui.

Bermodalkan persis sama seperti di ”lemari sejarah”-nya, Putu Sudiarta yang gemar masakan Padang ini terus menggali potensi. Sejak tahun 2002 hingga sekarang, ia sudah menyabet beberapa penghargaan edukasi untuk produk-produknya.

Koleksi produknya pun sudah sekitar 108 produk. Omzetnya pun bisa jutaan rupiah dan pernah mencatat sampai Rp 1,6 miliar. Tapi menurut dia, lagi-lagi ini merupakan bagian dari perjalanan. Baginya, kegigihan menjadi salah satu motivasinya agar air itu pun terus mengalir.

Saat awal membangun Bamboomedia dia hanya berbekal laptop pinjaman untuk menembus pasar melalui Gramedia pada tahun 2003. ”Wah, kala itu bergaya sekali memamerkan aplikasi produk kami kepada pihak Gramedia di salah satu tokonya di Denpasar ini. Padahal, laptopnya pinjaman. Siapa yang tahu, kan?” ujarnya sambil sedikit berkelakar.

Mimpinya menembus pasar melalui Gramedia pun terkabul. Lalu bagaimana dia bisa pula menggaet Microsoft, perusahaan teknologi informasi besar itu?

Menurut Putu Sudiarta, itu lagi-lagi merupakan sebuah keberuntungan yang tak terkira. Dengan ilmu coba-coba, ia menelepon kantor Microsoft. Singkatnya, setelah diminta menghubungi ini dan itu, dia berangkat ke Jakarta dan lagi-lagi harus memperagakan produknya.

Ia berhasil. Microsoft bersedia menggaetnya sebagai salah satu vendor bisnis. Uniknya, banyak perusahaan bisnis besar yang telah ditembusnya selalu tak percaya dengan keberadaan kantor Bamboomedia yang hanya sebuah rumah sebelum menempati kantor besarnya di kawasan mewah Renon, Denpasar, sekarang ini.

Distribusinya pun terus berkembang hingga ke seluruh pelosok Tanah Air. Termasuk sedikitnya 30.000 perusahaan kecil dan menengah yang sudah menggunakan produknya. Ini juga berawal dari kepedulian dan keprihatinannya terhadap pembajakan.

Bayangkan, jelasnya, para perusahaan kecil dan menengah ini bisa menjadi sasaran empuk dari mereka yang tidak punya hati dengan pembajakan atau permainan harga.

”Kasihan kan, perusahaan kecil dan menengah ini tak bisa maju hanya karena alasan membeli aplikasi untuk usahanya saja mahal sekali. Bisa sampai jutaan rupiah. Kami tidak menginginkan itu. Kami melayani dan memberikan aplikasi yang mudah dan murah agar bisa maju bersama. Bisa menghemat karena cuma dengan puluhan atau kurang dari satu juta rupiah, usaha tetap berjalan dengan aplikasi modern,” katanya. 

Sumber : kolombiografi.com

Produsen Tas Bisnis UKM

Mengawali bisnisnya di tahun 1995, pada saat itu Pipie Soeyoto yang kebetulan baru saja lulus dari Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS), mulai putus asa setelah 6 bulan lamanya mencoba peruntungan melamar pekerjaan di beberapa perusahaan ternama namun tak kunjung mendapatkan panggilan kerja. Dari sinilah Pipie mencoba peruntungan baru dengan menjadi seorang supplier (pemasok) bahan-bahan promosi ke beberapa perusahaan farmasi.


Setelah dua tahun menekuni profesinya sebagai pemasok barang promosi, ibu tiga anak ini mendapatkan berbagai pembelajaran positif mengenai standar kualitas produk yang benar-benar bagus serta mulai memahami besarnya potensi bisnis barang promosi tersebut. Melihat peluangnya yang semakin menjanjikan, di tahun 1997 Pipie mulai memproduksi beragam jenis produk tas promosi dengan mengorbankan mobil pribadinya sebagai modal usaha.
Mengusung PT. Huda Rachma Grupindo (HRG) yang merupakan gabungan nama kedua anaknya, Pipie pun sempat menemui banyak kendala dalam merintis bisnis tas tersebut. Ketatnya persaingan pasar dan strategi banting harga yang dilakukan para kompetitor di pasaran, ternyata cukup menyulitkan Pipie dalam mengembangkan usahanya.
Namun, dengan memegang komitmen awalnya yang selalu mengutamakan kualitas produk tas buatannya. Pipie tetap kekeh membandrol harga jual yang lebih mahal dibandingkan para pesaing, dengan menawarkan kualitas prima sebagai nilai tambah bagi para konsumennya dan memberikan garansi jahitan selama satu tahun bagi produk-produk tas yang dipasarkannya.
Terbukti, strategi bisnis yang Ia pilih cukup meyakinkan para konsumen. Hingga pada suatu hari HRG mendapatkan rezeki nomplok dengan menerima orderan partai besar dari PT. Kaltex (perusahaan kain). Siapa sangka bila datangnya orderan dari PT. Kaltex membukakan kesuksesan besar bagi perusahaan tas yang dirintis Pipie Soeyoto.
Berkat informasi yang tersebar dari mulut ke mulut, PT. Huda Rachma Grupindo (HRG) mulai mendapatkan kepercayaan dari perusahaan-perusahaan besar dan menjadi langganan tetap bagi sejumlah perusahaan terkenal yang membutuhkan barang-barang promosi, terutama produk tas. Sebut saja seperti PT. Garuda Indonesia, PT. Indosat Tbk, Mc Donald’s Indonesia, penerbit buku Erlangga, Hoka-Hoka Bento, KFC, PT. Ajinomoto, PT. Smart Frend Telecom Tbk, PT. Sepatu Bata Tbk, PT. Acer Indonesia, dan masih banyak lagi perusahaan besar lainnya.
Bahkan, belakangan ini tidak hanya pasar lokal saja yang berhasil dikuasai Pipie Soeyoto. Ia kini telah berhasil merambah pasar mancanegara seperti Jepang, Korea, serta mulai mengekspor tas olahraga di sekitar 12 sekolah yang tersebar di Negara Inggris. Tidak heran bila di tahun 2000 silam, pabrik PT. Huda Rachma Grupindo (HRG) yang berlokasi di kawasan Pamulang ini bisa memproduksi tas hingga mencapai 2,5 juta pcs/ tahunnya. Dan berhasil mengantongi omzet usaha sekitar Rp 13 milyar pada akhir tahun lalu.
Dengan membidik pasar korporat yang memesan produk dalam partai besar, Pipie Soeyoto tidak hanya berhasil membawa Huda Rachma Grupindo menjadi salah satu produsen tas promosi yang cukup ternama di Indonesia, namun Ia juga memberikan lapangan kerja bagi seribu karyawan di sekitar pabriknya.
Sumber : bisnisukm.com

Sukses Dengan Impian


Saya ingin mandiri dan menjadi presiden direktur," kenang Wuryanano saat memutuskan keluar dari pekerjaan sebagai Manager Divisi di perusahaan nasional pada 1989. Kini, ia tak sekadar menjadi presiden direktur tapi sekaligus pemilik dari sederet perusahaan.
Saat mulai memutar roda bisnis di bidang peternakan, usahanya mengalir lancar dan tak ada aral yang berarti. Bisnis ayam petelur dan ayam potong digelutinya selaras dengan keahliannya. Perusahaan peternakan bernama PT Swastika Prima International itu baru mengadapi tantangan besar saat badai krismon menerpa Indonesia. "Saat itu saya terlalu ambisius dalam mengembangkan usaha saya," ungkap Wuryanano yang menjelaskan permintaan pasar belum mampu menyerap produksi ternaknya. Kerugian Rp 5 miliar pun ia ikhlaskan. 
Tapi tak ada istilah patah arang bagi Wuryanano. Dengan menggandeng empat rekanan bisnis, ia membesarkan kembali peternakan miliknya. Justru dengan memiliki rekanan bisnis, ia tak harus kerap nongkrongi peternakan. Ia malah lebih leluasa mengembangkan bisnisnya yang lain.
Lahan peternakannya kini makin lapang dengan menempati tanah 50 hektar di kota Blitar. Kandang-kandangnya selalu riuh oleh suara kotek 350.000 ayam petelur dan 400.000 ayam potong. Peternakan itu juga menjadi sumber rezeki bagi 350 karyawannya yang mayoritas mengenyam bangku sekolah dibawah SMU.
Hasil peternakannya yang bejibun itu tak ada yang tersisa. Para agen sudah antri dengan permintaanya masing-masing. "Bahkan agen baru yang ingin membeli produksi ternak saya tolak karena permintaan membludak," jelas Wuryanano.
Bisnis Wuryanano tak sebatas telur dan daging ayam, tapi juga mengepakkan sayap bisnisnya di bidang merchandising, souvenir, supermarket, garmen, butik dan lembaga pendidikan. Serta yang paling bontot adalah bisnis kue camilan yang nantinya akan diproyeksikan menjadi pabrik kue camilan.
Keberhasilannya menjadi seorang entrepreneur kerap membuatnya prihatin akan kualitas lulusan sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia. "Keliru besar jika dunia pendidikan terlalu banyak materi sehingga menjadi tidak fokus pada ilmu apa yang dibutuhkan," paparnya. "Akibatnya, saat lulus kuliah, banyak yang nggak ngerti bagaimana cara bekerja".
Berbekal keinginan agar lebih banyak menelorkan entrepreneur dan profesional, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Profesi Swastika Prima Community College Surabaya. Lembaga pendidikan yang menerima mahasiswa sejak 2001 silam itu telah mewisuda lebih dari 1.000 orang. Ia tak ingin lembaga pendidikannya mencetak pengangguran seperti yang kerap dilihatnya.
"Saya tidak akan meluluskan mahasiswa yang belum menjadi entrepreneur atau yang sudah bekerja," jelas Wuryanano. Artinya, sebelum lulus, mereka telah mengantongi penghasilan. Baik menggawangi usaha sendiri atau setidaknya menjadi profesional di suatu perusahaan.
Keberhasilannya berbisnis mendapat perhatian pihak lain. Ia diganjar penghargaan ISMBEA (Indonesia Small & Medium Business Entrepreneur Award) 2008 sebagai entrepreneur yang berhasil menggerakkan sektor riil dengan inovatif. "Saya melihat penghargaan ini sebagai peringatan karena setelah sekian tahun berbisnis, saya tetap saja menyandang predikat sebagai pengusaha kecil," ujar Wuryanano sambil tertawa. Tapi ia mengakui, senang rasanya memperoleh penghargan itu.
Pengusaha yang saat senggang gemar mengajak istri dan kedua anaknya wisata alam ini, resep bisnisnya cukup unik. "Berusahalah untuk bisa memiliki pegawai sebanyak-banyaknya. Dan jangan lupa mengayomi kesejahteraan mereka," pesan Wuryanano. Kini total karyawannya lebih dari 500 orang dan terus bertambah. Tentu dengan bertambahnya karyawan, kapasitas bisnis akan lebih leluasa melebarkan sayap.
Sumber : suksespengusaha.com

Pengusaha Alat Kesehatan


Pasar alat kesehatan cukup menjanjikan untuk digarap. Namun, butuh pendekatan dan kiat khusus dalam memasarkan produk berharga mahal ini. Caranya? 

Memasarkan produk alat kesehatan jelas butuh cara tersendiri dan berbeda dari cara pemasaran produk yang massal seperti fast moving consumer goods (FMCG). Maklum, karakteristik produk dan target pasarnya berbeda. Dari sisi target pasar misalnya, kebanyakan produk alat kesehatan menyasar segmen institusi atau pasar business to business (B2B). Kemudian, biasanya tingkat pendidikan pelanggan yang disasar juga lebih tinggi – pengelola rumah sakit dan laboratorium ataukah para dokternya. Karena itu, butuh pendekatan pemasaran yang khusus.

Selama ini, produsen alat kesehatan di Indonesia umumnya tak bekerja sendirian dalam menggarap pasar. Mereka menggandeng para mitra penjualan, baik distributor, agen maupun dealer. Pasarnya begitu kompleks. Jika produsen harus mengurusi manufakturing (termasuk riset dan pengembangan/R&D) dan pemasaran sendirian, dikhawatirkan malah kelabakan dan perusahaan tak kunjung membesar. Apalagi, kenyataannya di Indonesia cukup banyak perusahaan distributor yang profesional, berpengalaman dan skala bisnisnya sudah besar, misalnya PT Graha Ismaya, PT Andini Sarana, PT Sari Murti, PT Putria Pratama, dan sederet nama lainnya.

Bila diamati, kebanyakan produsen alat kesehatan yang sukses memang melakukan sinergi dengan mitra-mitranya. Jadi tak menggarap pasar sendirian. PT Abadinusa Usahasemesta, misalnya, seperti dijelaskan Ade Tarya Hidayat, CEO perusahaan ini, untuk bisa sukses dalam memasarkan produk alat kesehatan, pihaknya menggunakan agen penjualan dan distributor. Untuk produk tensimeter, ia menggandeng PT Rajawali Nusindo (Grup RNI) yang memiliki banyak cabang di Indonesia. Cara itu cukup efektif. Kini Abadinusa sukses di pasar domestik, baik untuk tensimeter maupun stetoskop. Perusahaan ini merupakan pemimpin pasar domestik untuk produk tensimeter, dengan pangsa pasar 40%. Cara seperti ini juga dilakukan PT Shamrock Manufacturing (produsen sarung tangan/glove), dan PT Trimitra Garmedindo.

Tentu saja pola pemasaran dan distribusi alat kesehatan tak seragam, karena jenis alat kesehatan itu sendiri juga sangat beragam. Ada produk alat kesehatan yang dijual dengan target pasar end user institusi dan rumah sakit, tapi ada pula alat kesehatan yang dipasarkan langsung ke pengguna individual. Harganya pun bervariasi, dari yang hanya ratusan ribu rupiah hingga di atas Rp 10 miliar per unit. 

Sudah pasti, untuk memasarkan jenis alat kesehatan dengan sasaran institusi dan rumah sakit (B2B) butuh pendekatan berbeda, kendati mereka bisa dikategorikan sebagai user. Biasanya, dalam kasus bisnis B2B, proses transaksi sangat ditentukan oleh beberapa orang pengambil keputusan di pihak pembeli dari institusi, seperti bagian pembelian ataupun keuangan – atau apa pun namanya – yang tugasnya di bidang pengadaan alat kesehatan buat lembaganya. 

Harus diakui, dalam banyak kasus, sukses-tidaknya para pemasar alat kesehatan sangat ditentukan oleh kemampuannya memengaruhi para pengambil keputusan itu agar bersedia membeli atau setidaknya merekomendasi produk yang mereka tawarkan. Dalam hal ini, makna memengaruhi tidak selalu berkonotasi negatif seperti “menyogok” ataupun melakukan mark-up, tapi bisa juga dalam bentuk persuasi-persuasi rasional yang didukung argumen ilmiah dan dibenarkan secara medis. 

Pemasar juga dituntut mampu melakukan edukasi kepada target pasar. Karena itu, ada baiknya pemasar mengetahui selangkah lebih maju dalam hal perkembangan teknologi kedokteran, sehingga bisa memberikan solusi yang lebih up to date kepada para user. Bahkan, pemasar juga harus bisa menjelaskan keuntungan-keuntungan yang bakal diraih dari sisi persaingan dengan rumah sakit lain bila menggunakan alat kesehatan terbaru yang ditawarkannya. Di samping itu, mereka juga harus jeli dengan tidak sekadar memasarkan produk yang sudah ada demand-nya di pasar. Melainkan memasarkan pula produk yang ke depan punya prospek bagus, kendati sekarang belum ada demand-nya. Dengan cara ini, berarti pemasar bisa membangun pasar-pasar baru yang kompetisinya lebih rendah sehingga tak perlu banting-bantingan harga. Konsep inilah yang belakangan populer dengan strategi blue ocean (samudra biru).

Kunci keberhasilan dalam pemasaran produk alat kesehatan ini terletak pada kemampuan mengedukasi dan memberi solusi. Apalagi, produknya memang lumayan mahal dan frekuensi pembelian tak sesering produk FMCG. 

Jenis alat kesehatan betapapun sangat dibutuhkan pengelola rumah sakit untuk meningkatkan kemampuan pelayanan. Hanya saja, belum tentu mereka mau membelinya. Alasan utamanya apalagi kalau bukan kendala harga yang terlalu tinggi, misalnya Sebagai contoh, ketika harus memasarkan produk alat kesehatan yang per unitnya berharga miliaran rupiah seperti magnetic resonance imaging 1,5 tesla yang mencapai sekitar Rp 10 miliar. Karena itu, pemasar harus bisa menjelaskan secara detail rasio ekonomisnya dengan membeli alat itu, termasuk kemungkinan kapan balik modal (pay back period)-nya tercapai.

Dalam hal ini pemasar mesti bisa meyakinkan bahwa pembelian alat kesehatan itu harus dipandang sebagai investasi yang bakal kembali dengan menjelaskan hitungan-hitungannya. Misalnya, dengan memaparkan pengalaman rumah sakit yang telah menggunakan alat itu bahwa nilai pengembalian per rupiah investasi justru lebih besar. Jadi, di sini pekerjaan edukasi diperlukan, bahkan kalau dimungkinkan memberikan pula masukan kiat penjualan yang mengarah ke solusi, agar return on investment pembelian alat yang ditawarkan cepat terealisasi. 

Selain itu, meski sasarannya B2B dan pelanggan institusi, kegiatan promosi juga harus dilakukan. Hanya saja, tak harus melalui media-media yang masif. Promosi bisa dilakukan dengan mengikuti ajang pameran alat kesehatan yang bereputasi baik. Kiat ini dilakukan Isep Gojali, pengusaha alat kesehatan yang juga Direktur Utama PT Sarandi Karya Nugraha (SKN). Isep melalui SKN, memproduksi alat kesehatan seperti timbangan badan, meja elektrik (operating table dan examination table), instrument trolley, infusion stand, kursi ginekolog, tempat tidur manual dan elektrik sampai ambulans. Dengan mengusung merek Karixa, Isep menjual produknya ke banyak titik di Indonesia. 

Bahkan Karixa sudah sukses diekspor ke berbagai negara melalui pintu Singapura (pasar ASEAN) dan Dubai (wilayah Timur Tengah). “Di Belanda, nama SKN sudah cukup dikenal. Sekarang sejumlah siswa dari sebuah perguruan tinggi di Belanda dikirim untuk magang di SKN,” ungkap Isep. Nah, salah satu kiat yang mengantarkannya sukses adalah sering mengikuti pameran di mancanegara. Sebut saja, Isep tak jarang mengikuti ajang pameran yang digelar Direktorat Produktivias Departemen Tenaga Kerja dan Departemen Perdagangan. 

Mengikuti ajang pameran sebenarnya tak hanya bermanfaat untuk mengenalkan produk kepada para end user, tapi juga bisa menjadi media efektif untuk mencari mitra penjualan. Sering kali dalam ajang pameran itu muncul pengunjung yang berminat untuk menjadi distributor produk tersebut di negaranya. Hal ini pula yang dialami SKN. Terlebih, dalam menggarap pasar luar negeri, SKN tak berinteraksi langsung dengan pelanggan, melainkan menggunakan pola distributorship. 

Bagaimana dengan promosi melalui media above the line? Menurut Bgs. Arvidi N., GM Pharmacy Healthcare Rajawali Nusindo, promosi above the line di media umum sejauh ini belum efektif, sebab tidak langsung bersentuhan dengan konsumen. Kecuali, di media komunitas rumah sakit atau media kesehatan.

Jurus lain, karena umumnya produk alat kesehatan berharga mahal dan butuh layanan pascajual yang bagus, maka pendekatan terbaik yang dilakukan harus mengarah ke layanan kustomasi (customized service). Jadi, strategi pemasarannya juga harus one-on-one marketing. “Hal pertama dan paling wajib, melakukan pendekatan ke calon klien dengan cara mencari tahu kebutuhan mereka. Dari situ kita bisa memenuhinya dengan produk dan layanan kita,” Arvidi menuturkan.

Pendekatan ini juga terbukti sukses diimplementasi John Takili, pengusaha alat kesehatan yang juga Dirut PT Andini Sarana. Kini John sukses memproduksi dan memasarkan produk peralatan kesehatan gigi seperti semielectric chairmounted unit, full electric chairmounted unit, operating table, hospital bed, mobile dental unit, portable dental unit, electric scaler, electric micromotor, dan phantom head. Pasar ekspornya sudah cukup besar, demikian pula dengan pasar domestik. Untuk dalam negeri, ia membidik instansi pendidikan, rumah sakit swasta dan negeri, klinik, serta dokter gigi partikelir (praktik swasta). Bisnis John tak kecil. Terbukti omset bulanannya mencapai US$ 1 juta. Tentang sukses ini, menurut John, selain karena menguatkan R&D, juga melayani permintaan layanan kustomasi. 

John banyak menerapkan pendekatan persuasif melalui tim pemasarannya, di samping menyediakan pula tim pelayanan perbaikan dan pemeliharaan yang sudah terlatih ke berbagai kota. Garansi satu tahun diberikan untuk tiap alat, dengan sebulan sekali waktu pemeliharaan. Untuk memuluskan pemasaran, ia menunjuk agen di kota-kota besar yang perguruan tingginya memiliki fakultas kedokteran gigi (FKG), seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, dan Makassar. Agen ini biasanya diambil dari SDM kampus FKG. Biasanya, kepada para dokter gigi muda ia lebih dulu menawarkan peralatan sederhana yang harganya terjangkau. Baru kemudian bila praktiknya berkembang, Andini menawarkan alat yang lebih canggih dan lengkap.

Rajawali Nusindo juga punya kiat tersendiri dalam meningkatkan kinerja penjualan. Seperti dituturkan Arvidi, untuk menyasar pasar B2B (seperti rumah sakit dan klinik), pihaknya memperhatikan layanan pascajual dan harga. “Kalau ada dua produk dengan harga tak beda jauh, konsumen sering memilih yang lebih mahal asal layanan pascajualnya tersedia dan bagus,” Arvidi memaparkan pengalamannya. Hanya saja, selling point Rajawali tak hanya pada harga dan layanan pascajual, tapi juga benefit alat. Menurutnya, semua calon pembeli diberi penjelasan mengenai kelebihan alatnya dibandingkan dengan alat lain, termasuk kekurangannya. “Kami melakukan edukasi. Selanjutnya terserah konsumen mau pilih mana,” imbuh Arvidi.

Selama ini ada dua cara pendekatan ke calon konsumen B2B di Rajawali: pendekatan pasif and aktif. “Pasif artinya menunggu demand, sedangkan aktif berarti meng-create demand,” tutur Arvidi. Pendekatan aktif biasanya diterapkan untuk rumah sakit swasta yang notabene memiliki keinginan lebih kuat untuk melengkapi alat kesehatannya. Sementara di kalangan rumah sakit negeri belum sebagus swasta, meski belakangan mulai ada keinginan untuk membuat rumah sakit negeri lebih kompetitif, sehingga mereka mencoba melengkapi alat-alat kesehatannya dengan cara swadana – tanpa terlalu mengandalkan subsidi pemerintah. Masih di Rajawali, untuk produk yang menyasar langsung ke end user (produk consumer), distribusi dilakukan lewat jalur etikal, dokter dan rumah sakit. 

Dalam memasarkan alat kesehatan ini, isu menarik juga soal cara pembayaran. Sekarang, polanya tak hanya tunai, melainkan juga makin banyak pemasar alat kesehatan yang memberikan alternatif pembayaran dengan pola kredit. Abadinusa dan Andini Sarana juga melakukannya. Dalam kasus Andini, John Takili bekerja sama dengan bank dan besarnya kredit sangat tergantung pada plafon masing-masing bank. Ternyata pola ini juga diterapkan di Rajawali yang salah satu bisnisnya distribusi alat kesehatan. “Dengan catatan, jangka waktu pembayaran kredit 30-45 hari,” ia menandaskan. 

Untuk pembayaran model kredit, Rajawali mempertimbangan plafon pembeli. “Kalau ada rumah sakit yang hanya punya 10-20 tempat tidur, tapi minta alat kesehatan seharga Rp 1 miliar, tentu menimbulkan tanda tanya. Kami akan melihat kapasitas dan kemampuan membayar calon klien,” ujar Arvidi seraya menjelaskan pola plafon berfungsi untuk membatasi risiko. Yang menarik, perusahaan ini juga memberikan alternatif pembiayaan lain, khusus untuk alat kesehatan premium. Misalnya, klien hanya membayar 50% harga alat, 50% sisanya diperhitungkan dengan pola sewa. Atau bisa membayar 50% saja dan sisanya disubsidi dari pembelian produk-produk lain yang harganya murah. Menurut Arvidi, selama ini sistem sewa sudah biasa dilakukan, terutama untuk klien swasta. “Rumah sakit swasta lebih jeli dibanding rumah sakit pemerintah, khususnya dalam melakukan hitungan-hitungan bisnis,” kata Arvidi. Di Rajawali, kontribusi bisnis model sewa cukup besar sebab mampu menyumbang 20% dari total omsetnya.

Darmadi Durianto, pengamat pemasaran, menjelaskan, pasar B2B alat kesehatan sangat berbeda dari pasar produk consumer, terutama dalam hal, antara lain, frekeunsi pembeliannya lebih sedikit, nilai pembeliannya dalam jumlah besar dan hubungan pemasok-pelanggan erat. “Karena itu, menjalankan strategi relationship marketing merupakan hal yang tepat,” ujar Darmadi. Selain itu, harus bisa mengetahui siapa peserta utama di pasar institusi yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Pemasar harus tahu apa saja keputusan mereka, seberapa besar level pengaruhnya, kriteria evaluasi apa yang mereka gunakan, dan mereka berorientasi pada harga ataukah kualitas. Dalam hal ini pemasar harus mempertajam strategi relationship marketing dengan meningkatkan level manfaat finansial, manfaat sosial, dan ikatan struktural dengan pelanggan.

Sumber : wordpress.com

Keripik Pisang Merubah Hidup


Kehidupan terus berputar, dan selama hal itu masih terjadi maka setiap manusia berhak untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Inilah yang ingin diberitahukan Sinta, wanita kelahiran Teluk Betung, 24 oktober 1986 ini melalui merek keripik pisang yang diberi nama Istana Keripik Ibu Mery.
Dengan membubuhkan nama ibundanya sebagai merek dagang keripik pisang olahannya Sinta ingin bahwa orang-orang yang dulu pernah menghina dan memandang keluarganya sebelah mata tahu bahwa setiap manusia berhak untuk maju dan bisa hidup sejahtera.
Sinta adalah wanita yang berasal dari keluarga kurang mampu, kehidupannya pun tidak selalu berkecukupan, bahkan untuk membantu ekonomi keluarganya pada saat masih duduk di  bangku SMA, selama 6 bulan sepulang sekolah Sinta bekerja di pabrik keripik pisang.
Berbekal pengalamannya bekerja di pabrik pisang, selain mendapatkan penghasilan yang cukup Sinta juga mendapatkan banyak ilmu mulai dari memilih pisang berkualitas baik, memotongnya menjadi irisan yang tipis, menggorengnya hingga renyah, sampai memberikan variasi rasa. Inilah yang menjadi modal Sinta untuk memperbaiki kehidupan bersama keluarganya.
Dengan jiwa enterpranuer yang dia miliki, Sinta di bantu saudara dan 2 sahabatnya mulai mencoba mengolah pisang menjadi keripik. Kegagalan demi kegagalan pun dia rasakan, namun dengan semangat wirausahanya akhirnya Sinta berhasil membuat produk keripik pisang. Walalupun sempat tersandung masalah standarisasi produk, namun hal itu pun mampu di laluinya.
Keripik Pisang 9 Variasi Rasa
Sinta sengaja menekuni bisnis camilan keripik pisang karena bahan bakunya melimpah di Lampung. Selain itu, daerah tempat tinggal orang tuanya merupakan salah satu sentra produksi keripik pisang.
Dia mengakui, persaingan bisnis keripik pisang kian ketat. Untuk mengatasinya, Sinta selalu berusaha mengembangkan kreativitas, antara lain dengan membuat produk baru dan memberikan kepuasan kepada pelanggan
Istana Keripik Ibu Mery tawarkan inovasi baru, menyediakan keripik pisang dengan varian 9 rasa diantaranya keripik pisang rasa cokelat, keju, jagung, stroberi dan masih banyak lainnya. Di samping keripik pisang, juga tersedia keripik singkong dan talas.
Usaha yang awalnya merupakan usaha kecil kini mampu menjadikan Sinta sebagai seorang jutawan. Dengan bertambah besarnya omzet, Sinta mulai mewujudkan mimpi-mimpinya. Sebagian hasil usahanya sudah dipakai untuk membuat rumah kakaknya pada tahun 2006. Ia juga membeli mobil Kijang pikap untuk kegiatan operasi, seperti membeli pisang ke pelosok daerah dan membeli tanahyang kini menjadi tempat dibangunnya empat unit ruko.
Semoga kerja keras Sinta dalam artikel mengangkat derajat keluarga melalui keripik pisang bisa menginspirasi wanita-wanita muda untuk tetap berusaha mewujudkan mimpi dan menjadi kebanggaan bagi keluarga.
Sumber : usahamakanan.com

Sukses Alfamart


Pekan lalu, Majalah Forbes merilis 40 orang terkaya di Indonesia. Meskipun kondisi perekonomian global sedang gonjang-ganjing, total kekayaan ke-40 orang kaya Indonesia tahun ini meningkat hingga 19 persen menjadi 85,1 miliar dollar AS.
Di antara ke 40 orang terkaya tersebut, ada beberapa orang yang merupakan wajah baru, diantaranya adalah  Djoko Susanto, bos industri ritel PT Sumber Alfaria Trijaya atau dikenal dengan nama Alfamart.
Kekayaan ayah dari 5 orang anak ini mencapai 1,040 miliar dollar AS atau Rp 9,36 triliun. Dari mana Djoko mendapatkan kekayaan tersebut? Berikut sepenggal perjalanan kesuksesan Djoko mulai dari merintis bisnisnya hingga menjadi salah satu orang terkaya di bumi Indonesia, seperti dikutip dari Forbes.
Umur 17 tahun, Djoko mulai mengambil alih kios milik orang tuanya di Pasar Arjuna, Jakarta. Saat itu, kios bernama Sumber Bahagia itu hanya menjual makanan, namun seiring dengan waktu, Djoko muda memutuskan untuk menjual rokok. Keputusan tersebut berjalan dengan baik, pembeli tidak hanya datang dari para perokok, tapi juga para pembeli grosiran dan ritel juga menjadi pelanggan.
Keberhasilan Djoko di bisnis rokok ini, rupanya menarik perhatian Putra Sampoerna, yang saat itu masih menjadi pemilik produsen rokok bermerk HM Sampoerna. Keduanya bertemu pada awal 1980an dan akhirnya pada tahun 1985 sepakat untuk membangun 15 kios sejenis di beberapa wilayah di Jakarta. Kerjasama tersebut sukses, sehingga menginspirasi keduanya untuk membuka supermarket Alfa Toko Gudang Rabat. Di tahun yang sama Djoko juga menjadi salah satu direktur distribusi dan penjualan Sampoerna yang semakin menjadi perusahaan maju.
Untuk menjangkau kalangan menengah ke bawah yang mencari harga murah dan kenyamanan, tahun 1994 keduanya membuka Alfa Minimart yang kemudian berganti nama menjadi Alfamart. “Saya tadinya akan menamakannya Sampoerna Mart, tapi kemudian memilih Alfa, yang sudah menjadi merk yang teruji dan dikenal,” ungkap Djoko.
Kerjasama Djoko dengan Putra Sampoerna harus berakhir tahun  dan 2005.  Sampoerna menjual perusahan rokok dan anak perusahaannya termasuk 70 persen saham di Alfamart, kepada Philip Morris sebesar 5 miliar dollar AS.
Philip Morris sendiri ternyata tidak tertarik bermain di sektor ritel, sehingga perusahaan asal Amerika Serikat ini pun menjual saham Alfamart kepada Djoko dan Northstar. Tahun lalu Djoko membeli Northstar, sehingga membuatnya menjadi pemegang 65 persen saham. Keputusannya dinilai sebagai langkah yang cerdas, karena saham peritel ini melonjak dua kali lipat dalam 12 bulan terakhir dan empat kali lipat dalam dua tahun terakhir. Hal ini mendorong Djoko masuk ke dalam jajaran miliuner dunia, sekaligus menjadi orang terkaya baru di Indonesia.
Djoko yang beberapa tahun lalu menjual bisnis supermarketnya, ternyata masih nyaman dengan minimart. Penjualan sektor ini tumbuh rata-rata dari 15 persen menjadi 20 persen setahun. Alfamart yang saat ini memiliki 5.500 toko dengan melayani hampir 2 juta orang konsumen per hari dan memperkerjakan lebih dari 57.000 karyawan, memimpin transformasi dari toko pinggir jalan menjadi minimart modern dengan barang-barang pilihan berharga sama bahkan lebih baik.
Tahun 2012 Alfamart berencana membuka 800 outlet lagi. “Minimarket ini selalu dituduh menghambat pasar tradisional. Padahal, apa yang dilakukan minimarket adalah mendorong pasar tradisional untuk meningkatkan pelayanan mereka,” pungkas Djoko.
Sumber : jpmi.or.id

Sukses Jack Canfield


Pada awalnya Jack dan Mark  berupa untuk menerbitkan Chicken Soup ke penerbit besar. Bersama-sama mereka bergerilya ke banyak penerbit. Namun apa daya, 130 penerbit yang mereka datangi menolak. Salah satu alasannya adalah nggak ada yang mau membeli buku kumpulan cerita. Tidak putus asa, akhirnya keduanya memutuskan untuk menerbitkannya sendiri alias melakukan self publishing.

Ini bagian yang ingin Anda ketahui. Bagaimana mereka bisa sukses menjual buku tanpa melalui penerbit? Dari bukunya, The Success Principle, ada beberapa poin yang ditulis oleh Jack Canfield yang berkaitan dengan perjuangannya menjual Chicken Soup:
  1. Jika ingin menghasilkan hal yang besar, bermimpilah besar.
Jangan takut bermimpi besar, begitu pesan Jack. Orang yang bermimpi besar akan menarik hal-hal yang besar. Jadi jangan peduli kalau ada orang yang bilang ah buku gitu doang mana mungkin jadi bestseller.Nyatanya memang ada buku yang gitu doang menjadi bestseller. Ingat poconggg? Saat menerbitkan Chicken Soup, Jack dan Mark membuatvisi 2020 yaitu menjual 1 milyar buku pada tahun 2020 dan mengumpulkan dana amal sebesar $500 juta pada tahun 2020.Memang saat ini belum sampai tahun 2020. Tetapi mengingat kesuksesan Chicken Soup yang luar biasa, mungkin banget kan mereka berhasil mencapainya.

  1. Bawa tujuanmu yang paling penting di dalam dompet.
Jack dan Mark menulis keinginan mereka dalam selembar kertas dan membawanya ke mana-mana dalam dompet mereka.  Jack menulis,Saya bahagia bisa menjual buku chicken soup 1,5 juta copy chicken soup pada tanggal 30 Desember 1994. Meskipun sempat ditertawakan, nyatanya keduanya memang berhasil mencapai 1,3 juta kopi chicken soup. Meleset? Hm.. so what? Toh di kemudian hari Chicken soup berhasil 8 juta kopi di seluruh dunia dalam 30 bahasa. 

  1. Lakukan Lima Hal dalam satu hari.
Salah satu kunci keberhasilan Chicken soup masuk menjadi bestseller adalah dengan melakukan aturan Lima, yaitu melakukan lima hal dalam satu hari untuk mempromosikan bukunya. Ada banyak hal yang dilakukan Jack Canfield dan Mark Hansen untuk mempromosikan Chicken Soup: mulai dari menulis press release, mengirimkan buku secara gratis ke sejumlah selebritas, menelpon orang yang bersedia melakukan book review, bersedia melakukan book signing di toko buku manapun, berusaha menjual chicken soup di gift shop, pom bensin, dan lain-lain. Jack juga rajin mengirimkan artikel ke lima puluh  majalah lokal dan regional di seluruh Amerika Serikat. Tiga puluh lima di antaranya menerbitkannya, memperkenalkan Chicken Soup ke lebih dari 6 juta pembaca. Pokoknya lima aktivitas promosi setiap harinya! 

Dan kapan mereka sukses? Dua tahun kemudian! Mungkin Anda terperangah membacanya. Tetapi begitulah kenyataannya. Kesuksesan tidak diraih dalam semalam. Namun kesuksesan mereka juga tidak main-main. Chicken Soup adalah salah satu buku terlaris di dunia (cek saja wiki kalau tidak percaya) dan telah dialihbahasakan ke tiga puluh bahasa dunia.


  1. Banyak dan Rajin Beramal
Heh? Apa hubungannya dengan dengan sukses menulis buku? Jack Canfield percaya bahwa semakin banyak kita memberi, maka semakin banyak kita menerima. Bersama para penulis Chicken Soup, Jack Canfield telah mendonasikan lebih dari 100 lembaga amal. Para Penulis Chicken Soup bahkan pernah membuat buku untuk didistribusikan secara gratis untuk para narapidana. Hasilnya? Justru muncul permintaan menerbitkannya untuk umum! Di Indonesia, setahu saya penulis Ippho Santosa melakukan doa bersama anak yatim ketika ia meluncurkan buku 7 Keajaiban Rezeki. Dan kita tahu buku itu menjadi salah satu bestseller di Indonesia.

  1. Banyak Berbagi
Poin ini mirip dengan poin nomer empat. Namun fokusnya adalah berbagi dengan orang dalam, bukan orang luar.  Jack Canfield mengatakan ia selalu berusaha membagi pendapatan secara adil dengan sekretaris, editor, penulis, dan orang-orang yang terlibat dalam Chicken Soup. Bukan saja digaji lebih tinggi dibanding penerbit biasa, karyawannya juga memiliki rencana pension dan bonus tahunan yang menarik.  Saya pribadi berharap banyak penerbit yang melakukan hal ini. Sudah sering saya mendengar penerbit yang kurang menghargai penulisnya dan membayar mereka di bawah kepantasan (hmm pernah mendengar ajakan antologi yang penulisnya dibayar dengan sejumlah pulsa?) atau editor yang tuntutan kerjanya tidak sebanding dengan gajinya. 

Dan kalau Anda sedang melakukan self publishing seperti Jack Canfield? Bayarlah cover designer Anda dengan harga layak. Bayarlah penulis Anda dengan harga pantas. Berterimakasihlah kepada orang yang telah membeli buku Anda. Berterima kasihlah kepada orang yang sudah mengkritik buku Anda.  Hargai orang-orang yang telah bekerja bersama Anda.  Pada akhirnya kebaikan yang Anda lakukan akan kembali kepada Anda berupa kebaikan juga.

Sumber : enterpreneur.com