Senin, 03 Desember 2012

Bengkel Bubut Aset 2M


Langgeng Lujito, 41, mencoba berwirausaha sejak usia muda. Kegigihan dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Sebagai pengusaha bengkel bubut, dia kini memiliki ratusan pelanggan di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Kondisi ekonomi yang serba sulit membuat Langgeng Lujito bertekad mengubah nasib. Dia mulai merintis usaha dengan membuka toko oli pada 1989. Saat itu Langgeng Lujito masih duduk di kelas dua SMA PGRI Ngawi, Jawa Timur.

Pada saat teman-temannya masih asyik bermain seusai pulang sekolah, Langgeng justru sibuk mengelola bisnis. Lambat laun usaha yang digelutinya berkembang. Namun, persaingan usaha oli di Ngawi saat itu sudah sangat ketat. Sambil terus menjalankan bisnis oli, dia berpikir untuk mengembangkan usaha lain.

Seusai lulus dari SMA PGRI Ngawi, Langgeng bukannya melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, melainkan malah serius menekuni usaha. Tekadnya sudah bulat. Dia ingin memiliki usaha sendiri.

Dia merasakan banyak pelajaran yang bisa dipetik dari menekuni usaha mandiri. Langgeng mulai berpikir untuk menaikkan kelas usahanya. Pada 1993,berbekal tabungan dari usahanya,dia membuka usaha bengkel bubut di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Beran, Kota Ngawi.

Letak usaha bengkel itu sangat strategis lantaran berada di jalan utama penghubung Ngawi-Solo.Kala itu dia berpikir, usaha bengkel yang khusus melayani jasa bubut automotif belum ada di Ngawi.

Sebagai modal awal, dia membeli satu mesin bubut kecil, satu mesin kolter untuk sepeda motor, dan peralatan las. Modal yang dikeluarkan sekira Rp20 juta. Selain itu, dia juga merekrut teknisi yang mengerti tentang mesin mobil,sepeda motor, sekaligus bisa mengoperasikan mesin bubut dan mesin kolter.

Ketika itu, usaha bengkelnya masih sederhana dan sangat terbatas. Langgeng mengaku awalnya tidak menguasai soal bongkar pasang mesin sepeda motor atau mobil. Tapi, tekadnya saat itu sangat kuat, ingin menekuni usaha sambil belajar.

“Meski saya yang memiliki bengkel, tapi saya saat itu tak segan untuk belajar bongkar pasang mesin sepeda motor atau mobil. Prinsip saya, kalau mau belajar, akan bisa. Kemampuan itu bisa diasah asalkan mau belajar,” ujarnya.

Seperti lazimnya membuka usaha baru, tahap-tahap awal selalu menemui banyak kendala. Belum banyak yang mengenal usahanya. Namun, Langgeng pantang menyerah. Dia lantas berpromosi dan berupaya mengenalkan usaha bengkel bubut automotif ke sejumlah bengkel sepeda motor dan mobil di Ngawi. Upayanya ternyata berhasil.

Dalam hitungan enam bulan, banyak pelanggan yang mulai berdatangan ke usaha bengkel bubut miliknya. Bukan hanya dari Ngawi, melainkan juga dari Madiun, Bojonegoro, Cepu, Sragen, Nganjuk, Kediri, dan beberapa daerah lain.

Dia juga terus menambah pekerjanya dari semula hanya empat orang menjadi 24 orang. Selain tenaga teknisi, usaha bengkel bubut milik Langgeng Lujito juga sering digunakan untuk latihan kerja bagi para siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), terutama jurusan perbengkelan.

SMK Sragen, SMK Geneng, SMK PGRI Ngawi, bahkan hampir setiap tahun mengirimkan siswa untuk belajar dan mendapatkan keterampilan perbengkelan di bengkel bubut Langgeng tersebut.

“Kalau sudah bisa dan terampil, saya persilakan mereka membuka usaha bengkel sendiri. Saya senang kalau ada anak didik saya berhasil membuka usaha sendiri. Mereka menjadi mandiri dan tidak bergantung pada orang lain,” ujar Langgeng.

Namun, menjalani usaha terutama di bidang jasa bengkel bubut juga ada pasang surutnya.Apalagi, pada 2000 ke atas, usaha bengkel yang menyediakan jasa bubut automotif mulai merebak di Ngawi. Langgeng Lujito melihat kenyataan itu sebagai hal wajar seiring pesatnya perkembangan automotif.

Langgeng Lujito terus berinovasi agar tetap bisa eksis di dunia usaha jasa automotif. Setelah melalui perhitungan yang cermat, pada 2005, Langgeng membuka toko suku cadang sepeda motor dan mobil.

Untuk menambah modal, dia meminjam dana dari Bank Tabungan Negara (Bank BTN) Kantor Cabang Madiun sebesar Rp500 juta. Pinjaman modal itu sangat membantu usaha toko suku cadang yang juga diberi nama Langgeng tersebut.

Dalam perjalanannya, usaha bengkel bubut automotif yang kemudian dilengkapi usaha suku cadang semakin berkibar. Kini dia setidaknya memiliki 400 pelanggan jaringan bengkel yang ada di Jatim dan Jateng.

Selain itu, dia juga memiliki pelanggan setia yang tersebar di Ngawi dan Madiun. “Prinsip saya dalam menekuni usaha ini adalah berusaha memberikan yang terbaik pada pelanggan. Kalau ada pelanggan yang merasa tidak puas,saya akan mencoba memahami dan memberi pelayanan lebih lagi,” ujar Langgeng yang kini telah dikaruniai tiga anak dari pernikahannya dengan Darwati, 39, tersebut.

Kemampuan Langgeng Lujito mengelola dan mengembangkan usaha kian terasah dan teruji. Boleh dibilang, usaha bengkel bubut automotif dan suku cadang miliknya kini sudah mapan. Dia memiliki dua mobil operasional. Asetnya telah berkembang menjadi lebih dari Rp2 miliar. Adapun omzet per bulan rata-rata mencapai Rp50 juta.

Namun, cita-cita Langgeng Lujito tidak berhenti hanya di sini. Dia ingin keberhasilan yang telah direngkuh selama ini juga bisa dirasakan oleh generasi muda. Ke depan Langgeng Lujito berkeinginan membuka balai latihan kerja di Ngawi demi mendidik anakanak muda sehingga memiliki keterampilan perbengkelan dan teknisi.

Dengan begitu, anak-anak muda itu kelak bisa membuka lapangan kerja sendiri dan mengurangi pengangguran. Langgeng Lujito juga memiliki obsesi lain.

Dia ingin menjadikan Ngawi sebagai tempat tujuan wisata olahraga. Dia telah membangun gedung olahraga badminton dan berniat mendirikan gedung futsal di Kota Ngawi. Di usia sekarang ini,Langgeng Lujito merasa ingin memberi sesuatu kepada masyarakat Ngawi dan memajukan daerah yang berada di ujung paling barat Jawa Timur tersebut.

“Pada titik perjalanan hidup saya ini,saya ingin berarti bagi warga Ngawi. Saya ingin melahirkan sejarah,” tandasnya.


Sumber : economy.okezone.com

Usaha Bengkel Menjanjikan


Jumlah pengendara motor terus bertambah di Indonesia. Seiring dengan itu, bisnis bengkel sepeda motor pun turut menggeliat. Terbukti, bisnis jasa pemeliharaan dan perbaikan sepeda motor ini makin menjamur. Bahkan, lantaran peluang pasarnya besar, kini banyak bengkel motor menawarkan waralaba dan kemitraan. Dalam review kali ini, KONTAN kembali mengulas perkembangan usaha beberapa kemitraan bengkel motor. 

Diantaranya ada Bengkel Motor Center, Mr. Montir, dan Bengkel Bikemart. KONTAN pernah mengulas tawaran usaha mereka di tahun lalu. Nah, saat ini, perkembangan bisnis ketiga bengkel itu ternyata masih mencatat pertumbuhan positif. Mereka berhasil mengalami pertumbuhan usaha dan jumlah mitra. Seperti apa persisnya perkembangan usaha mereka, berikut ulasannya:

Bengkel Motor Center (BMC)
Pertumbuhan bengkel motor asal Yogyakarta ini terbilang cukup baik. Sejak berdiri tahun 2008, BMC berhasil terus menambah jumlah mitra usahanya. Jumlah gerai BMC kini sudah ada 24. Padahal, saat diulas KONTAN pada November 2011, jumlah gerainya baru ada 19. Jadi, dalam sembilan bulan terakhir, BMC berhasil menambah lima gerai baru. Dari seluruh gerai itu, gerai milik sendiri hanya ada satu. Selebihnya milik mitra. Mitra usahanya ini tersebar di Jakarta, Bandung, Kediri, Klaten, Denpasar, dan Palembang."Selepas Lebaran, kami sudah ada kesepakatan untuk membangun BMC baru di Jambi dan Wonogiri," jelas Adi Rosadi, pemilik BMC.

Maka, paling tidak sampai akhir tahun jumlah gerainya bakal mencapai 25 cabang. Menurut Rosadi, jumlah mitranya terus bertambah karena biaya investasi yang ditawarkannya tidak memberatkan mitra. "Paket investasinnya masih sesuai kemampuan calon mitra," kata Adi. 

Dalam kemitraan ini, BMC menawarkan tiga pilihan paket mandiri. Yakni, paket kecil, menengah, dan paket besar. Sebelumnya, nilai investasi untuk paket kecil dibanderol Rp 150 juta. Adapun paket menengah dan besar, investor harus menyediakan duit masing-masing sebesar Rp 185 juta dan Rp 250 juta.

Nah, saat ini paket investasinya sedikit diturunkan. Untuk paket kecil dengan luas lahan minimal 75 meter persegi turun menjadi Rp 125 juta. Sementara paket besar turun menjadi Rp 245 juta. Adapun harga paket menengah masih tetap sama senilai Rp 185 juta. "Penurunan biaya investasi ini karena saya semakin mengerti cara memaksimalkan biaya pembangunan bengkel baru," katanya. Meski harganya turun, Rosadi menjamin gerainya tetap nyaman bagi pengunjung. Kualitas layanan juga tidak ada yang berubah. "Ruang tunggu kami bersih, ada pendingin ruangan dan setiap orang mendapat welcome drink gratis," ujar Adi. 

Selain paket mandiri, BMC kini menawarkan paket baru yang dinamakan paket full control. Paket full control ini mulai ditawarkan pada Januari 2012 lalu. Pada paket ini, mitra akan mendapat kontrol dan pendampingan yang lebih intensif dari pihak pusat. Sedangkan pada paket mandiri, mitra lebih bebas. 

"Pada paket full control kami menyediakan CCTV di lima titik toko dan membeli cashback 5 juta untuk operasional awal," jelas Adi. Program cashback diharapkan bisa meminimalisir risiko gerai mengalami kerugian. Harga paket full control ini dipatok Rp 185 juta untuk paket kecil, Rp 245 juta untuk paket menengah, dan Rp 350 juta untuk paket besar. Omzet mitra ditargetkan sekitar Rp 1,5 juta per hari. Dengan pendapatan sebesar itu, mitra BMC diperkirakan bisa balik modal pada bulan ke-18 hingga ke-24.

KONTAN pernah mengulas tawaran waralaba Mr Montir pada Desember 2010. Saat itu, bengkel yang berada di bawah bendera usaha PT Tecno Motor Indonesia ini masih memiliki tujuh gerai, dan satu diantaranya milik mitra. Nah, saat ini, Mr Montir sudah memiliki 50 gerai. Lima diantaranya milik sendiri. R. Dwi Kristianto, Sales Manager PT Tecno Motor Indonesia mengatakan, Mr Montir akan membangun 18 gerai lagi pada tahun ini.

Ditargetkan, jumlah gerai Mr Montir sampai akhir tahun ini mencapai 150 di seluruh Indonesia. Untuk memcapai target itu, bengkel yang mulai diwaralabakan November 2009 ini akan menjalankan strategi baru. "Kami fokus buka cabang di luar Pulau Jawa," ujar Dwi.

Selain itu, supaya semakin dikenal, Mr Montir juga rajin mengikuti pameran franchise.Saat ini, gerai Mr Montir banyak berlokasi di Jabodetabek, Jawa, dan Palembang. Agar bisa bersaing dengan bisnis yang lain, Mr Montir mematok harga yang tidak terlalu mahal, tapi juga tidak terlalu murah. Harga biaya sevice sekitar Rp 25.000. Harga tersebut masih bisa berubah tergantung lokasi cabang. 

Saat ini, Mr Montir juga sudah menaikkan biaya investasi. Sebelumnya, setiap calon mitra harus menyediakan dana sebesar Rp 199 juta. Dana ini untuk franchise fee Rp 50 juta. Sisanya untuk peralatan standar, lima bikelift, seragam, toolbox dan pegawai. Investasi ini juga termasuk furnitur, komputer, training selama dua minggu dan pajak reklame setahun. Namun, saat ini, mitra harus menyediakan investasi sekitar Rp 300 juta. Sebesar Rp 100 juta dialokasikan buat franshise fee. "Tapi saat ini ada diskon 25% menjadi Rp 75 juta," ujarnya. Adapun sisanya untuk penyediaan peralatan. 

Bikermart milik Hendry Edy Wahono menawarkan konsep bengkel motor dan minimarket sparepart dalam satu atap. Berdiri sejak 2008, bengkel motor ini resmi menawarkan kemitraan setahun kemudian. Edy mengklaim, bengkel motornya mengusung konsep bengkel modern. KONTAN sendiri pernah mengulas usaha bengkel yang bermarkas di Purwokerto ini pada September 2011. Saat itu, Bikermart telah memiliki 24 mitra. 

Sebelas bulan berlalu, kini Bikermart telah 30 gerai milik mitra serta lima gerai milik sendiri. Menurut Hendry, paket investasi yang ditawarkan tetap sama dan tak berubah. Begitupun dengan omzet dan balik modalnya masih tetap. Bikermart menawarkan paket minimarket sparepart dan minimarket plus bengkel. Untuk paket minimarket sparepart tersedia tiga pilihan. Yakni, gold, silver, dan bronze yang masing-masing bernilai Rp 200 juta, Rp 150 juta, Rp 100 juta. Paket minimarket plus bengkel juga tersedia tiga pilihan. Yakni gold, silver, dan bronze dengan nilai masing-masing Rp 300 juta, Rp 200 juta, dan Rp 100 juta. Hendry memperkirakan, mitra bisa meraih omzet Rp 60 juta-Rp 150 juta per bulan. Dengan pendapatan sebesar itu, mitra bisa balik modal sekitar satu hingga 1,8 tahun.

Hendry mengaku, masih tetap fokus mengembangkan kemitraan di seluruh Pulau Jawa. "Pulau Jawa masih tetap ujung tombak pasar bengkel sepeda motor di Indonesia, mungkin tahun depan kami akan ekspansi ke luar Jawa" ujarnya. Untuk mengembangkan usahanya, akhir Agustus nanti Bikermart berencana meluncurkan konsep supermarket sparepart motor. Nantinya paket ini akan dilengkapi pencucian motor dan helm serta kafe "Saya perkirakan nilai investasinya sekitar Rp 2 miliar," jelasnya. Meski menawarkan paket supermarket, paket minimarket tetap dipertahankan.

Sumber : usahabisnis.com

Omzet Jutaan Berbisnis Donut


Berawal dari hobi membuat kue, Rosidah Widya Utami kini sukses mengembangkan bisnis pembuatan donat dengan brand Donat Kampung Utami (DKU). Omzetnya dalam sebulan mencapai ratusan juta.

Usaha ini, ia awali dari bisnis skala kecil-kecilan di Jombang, Jawa Timur. Utami pertama kali merintis bisnis tahun 2001. Sebagai jajanan kampung, saat itu donatnya dijual dengan harga Rp 500 per biji. Sebenarnya Selepas lulus kuliah Fakultas Administrasi Negara Universitas Brawijaya, Malang, Utami sempat bekerja sebagai tenaga administrasi. Namun, kecintaannya pada dunia masak-memasak mendorong Rosidah untuk membuka usaha sendiri.

Di tahun 2001 itu, Rosidah Widya Utami mulai membuka bisnis aneka masakan, termasuk kue. Modal awalnya hanya Rp 100.000. Setelah beberapa bulan berjalan, Rosidah terpikir untuk memfokuskan usahanya pada satu jenis makanan. Ia pun memilih donat dengan pertimbangan kue ini termasuk jajanan yang disukai semua kalangan.

Ia merintis usaha pembuatan donat dengan modal dan peralatan seadanya. Untuk mengaduk adonan donat, semisal, seharusnya memakai mixer ukuran besar. Namun, Rosidah memakai mixer biasa. "Peralatan saya sangat minim. Di bawah standar pabrik kue. Tapi itu tidak menyurutkan semangat saya," ujar Utami.

Dibantu seorang pembantu, ia membuat ratusan donat saban hari dan menjajakan ke sekolah-sekolah. Agar produknya makin dikenal, Rosidah juga rajin mengikuti berbagai pameran wirausaha makanan. Setiap ada pameran di sekitar Jawa Timur, ia pasti ikut serta.

Bukan cuma itu saja, Utami juga memasarkan donat buatannya yang diberi merek Donat Kampung Utami (DKU) lewat blog pribadi.

Sehari-hari, Rosidah tak pernah lupa menuliskan setiap aktivitas seputar usaha donat yang ia geluti, di blog. Bahkan, rezeki mengalir deras berkat blog pribadi tersebut.


"Saya pilih donat karena banyak yang suka," katanya. Ia memulai dengan peralatan rumah tangga seadanya dan menitipkan donatnya ke sekolah-sekolah.

Berkat kegigihannya membesarkan usaha, kini donat Utami sudah dikenal di berbagai wilayah Indonesia. Bahkan, donatnya sudah kesohor hingga ke luar negeri.

Tentu bukan lagi jajanan kampung, donat buatan Utami kini masuk kategori premium. Rasanya tak kalah dengan donat kelas mal dengan harga lebih terjangkau. "Saya jual Rp 4.000 per buah," katanya.

Pelanggan donatnya terbesar di berbagai daerah di Pulau Jawa, Sumatra, hingga Kalimantan. "Selama ini, saya banyak kirim ke pelanggan di daerah-daerah," ujarnya.

Sejak tahun 2008, beberapa negara, seperti Hong Kong, Malaysia, dan Singapura juga telah menjadi langganan tetap donat buatan Utami. Selain itu, ia juga memasarkan produk donat itu ke London dan Belanda.

Khusus di Malayasia, ada seorang pengusaha kuliner setempat yang mengembangkan donat dengan resep donat racikan Utami.

Kesuksesan Rosidah Widya Utami mengembangkan bisnis donat tidaklah dalam sekejap mata. Ia ulet mengenalkan produknya lewat berbagai cara. Titik baliknya saat ada investor Malaysia membeli resep donat buatannya.


Pada tahun 2008, ada investor Malaysia tertarik untuk membeli resep donat milik Utami. Bahkan, ia sampai diundang ke Malaysia.

Sang investor Malaysia itu kemudian membuka gerai donat di Penang Malaysia dengan nama Nash Donut. Kini Nash Donut telah memiliki empat gerai yang berasal dari resep dasar Rosidah. Tiap bulan Nash masih membayar royalti pada Rosidah.

Hasil dari penjualan resep plus pembayaran royalti itu cukup lumayan. Rosidah memanfaatkannya untuk mengembangkan usaha yang membuka gerai donat di Jombang. Pada 2009, Rosidah mulai membuka gerai donat bernama Roshberry Donuts and Coffee di Jombang.


"Sementara di negara-negara lain saya hanya menjual donat lewat orang-orang Indonesia yang tinggal di negara itu, seperti pelajar dan TKI," jelasnya,

Kendati tak mau menyebut angka, Utami mengaku nilai penjualan resep donatnya cukup mahal. Terbukti, dari hasil menjual resep itu, ia mampu membuka gerai khusus donat di Jombang. Gerai donat ini dinamakan Roshberry Donuts and Coffee."Saya dirikan tahun 2009," tuturnya.

Selain resep, pengusaha asal Negeri Jiran itu juga membeli tepung donat dari Utami. Selama ini, ia memang memasarkan tepung donat ke kalangan umum tidak hanya ke pengusaha Malaysia itu. Harga jual tepung donat mulai Rp 50.000-Rp 200.000 per 1,5 kilogram (kg).

Selama 11 tahun mengendalikan usaha, telah banyak kemajuan yang dicapai. Bahkan, DKU telah menjelma sebuah grup usaha yang membidangi beberapa cabang usaha.

Selain donat, Utami juga merambah usaha pembuatan aneka kue kering, kue tart, brownies, dan roti manis. Usaha ini dikelolanya di bawah bendera DKU Cookies. Pendapatan dari kue kering ini melonjak tajam saat Lebaran dan akhir tahun. "Lebaran tahun ini, omzet saya dari penjualan kue kering saja mencapai Rp 500 juta," ujar Utami.

Ia juga merambah bisnis restoran dengan mendirikan rumah makan Sari Rasa di Jombang. Tahun ini, Utami juga telah menambah tiga bisnis baru ke dalam grupnya. Di antaranya bisnis toko oleh-oleh khas Jombang. Dua lainnya tidak terkait dengan bisnis makanan, yakni jasa hosting desain web dan marketing, serta bisnis fashion and jewelry.

Rosidah sadar akan pentingnya peran marketing agar usahanya makin berkembang. Rosidah pun mulai membenahi sistem pemasaran dan operasional usahanya. "Melihat di Malaysia, donat saya bisa dipasarkan dengan baik, saya mulai fokus membenahi manajemen," ujar dia.


Dengan membuka gerai donat, Rosidah juga ingin agar donat buatannya itu naik kelas sehingga lebih bergengsi. Kualitas donat produknya dinaikkan ke kelas premium dengan harga Rp 4.000 per buah. Logo dan kemasan donatnya pun ia buat dengan standar yang lebih baik.

Utami juga membuat website sendiri, bahkan mengiklankan produknya secara berbayar via sejumlah media internet, seperti Google dan Facebook.

Tak percuma, permintaan pun mulai berdatangan. Bahkan juga dari pembeli luar negeri. Toh, sukses mengembangkan bisnis donat belum membuat Rosidah puas.

Rosidah Widya Utami kini sukses menjadi produsen donat ternama di Jombang, Jawa Timur. Dipasarkan dengan brand Donat Kampung Utami (DKU), produk donatnya dikenal luas hingga ke luar negeri. Omzetnya ratusan juta dalam sebulan.

Bisnis yang digeluti Rosidah Widya Utami kini makin berkembang. Selain makanan, ia juga merambah bisnis lain, seperti perhiasan, fesyen, dan jasa pembuatan desain web. Ia ingin semua lini usahanya tersebut bisa berkembang.

Berawal dari donat, bisnis Rosidah Widya Utami terus berkembang. Setelah donat, ia merambah bisnis kue kering dan rumah makan di Jombang, Jawa Timur.

Masih di bisnis makanan, tahun ini ia juga mendirikan toko oleh-oleh khas Jawa Timur di Jombang. Selain menyediakan sejumlah suvenir khas Jombang, toko oleh-oleh ini juga menjual aneka kue kering serta Donat Kampung Utami (DKU) buatannya.

Ia berharap, toko ini bisa menopang usaha donat dan kue keringnya. Ia juga ingin menjadikan DKU sebagai pusat oleh-oleh khas Jombang. "Saya maunya nanti orang-orang akan bilang belum afdal ke Jombang kalau belum bawa jajanan DKU," ujar Utami.

Selain makanan, tahun ini juga merambah bisnis perhiasan, fesyen, dan jasa pembuatan desain web. Ia tertarik terjun ke bisnis desain web karena selama ini banyak bersentuhan dengan dunia maya. "Saya mengembangkan usaha donat melalui internet," ujarnya.

Kebetulan, suaminya yang berlatar belakang konsultan marketing mendukung rencananya ini. Bisnis perhiasan dan fesyen yang baru digeluti Rosidah juga dilatarbelakangi minatnya yang tinggi di bidang itu.

Menurutnya, dalam mengembangkan usaha jangan pernah menutup kemungkinan terhadap bidang apa pun yang diminati. Ia mengaku, seluruh bidang usaha yang digelutinya berasal dari minat dan ketertarikannya di bidang itu. "Semula yang saya pikir tidak bisa, ternyata bisa. Dan, saya memulai semuanya dari skala kecil," ujar Utami.

Di dunia usaha, ia mengaku banyak terinspirasi dari kisah sukses Johnny Andrean, pemilik gerai donat J.Co. Kendati besar di usaha salon, Johnny juga bisa sukses di usaha donat.

Rosidah pun yakin ia bisa melakukan hal serupa. Makanya, dari bisnis donat, ia juga merambah dunia fesyen.

Lantaran masih baru, tentu masih diperlukan kerja keras untuk membesarkan seluruh usahanya ini. Selain bisnis yang masih baru, Rosidah juga masih terus ingin mengembangkan bisnis donatnya.

Masih ada beberapa inovasi lain yang ingin dilakukannya. Dalam waktu dekat, misalnya, ia ingin memasarkan donat dalam bentuk makanan beku (frozen food).

Ia terinspirasi membuat donat frozen karena banyak konsumen di luar kota yang berminat mengonsumsi donat DKU, namun terkendala waktu pengiriman yang lama. Padahal, donat DKU hanya mampu bertahan maksimal sehari.

Ia berharap, masalah itu bisa diatasi dengan adanya donat frozen. Rosidah mengaku sudah melakukan penelitian untuk donat frozen ini.

Nantinya, donat ini bisa bertahan selama satu tahun jika disimpan pada suhu rendah. "Donatnya pun tinggal digoreng lalu bisa langsung disajikan," ujar Rosidah.

Ia berharap, tahun depan rencana ini sudah mampu terealisasi. Masih terkait dengan donat, ia juga akan membuat divisi cooking class. Divisi ini khusus memberikan kegiatan kursus pembuatan donat.

Kursus membuat donat ini sebenarnya sudah dirintis sejak tahun lalu. "Tapi belum serius. Karena peminatnya banyak, ingin saya seriusi lagi," imbuh Utami.

Sumber : peluangusahamakmur.com

Gunawan Ardiyanto Sukses Jasa Training


Jatuh bangkrut, adalah kisah yang selalu menarik perhatian dari seorang pengusaha sukses. Di berbagai media masa – baik di Indonesia pun di manca negara, kisah pahit getir itu selalu menjadi daya tarik tersendiri untuk disimak. Umumnya kisah-kisah pengusaha itu menggugah perasaan, sebab mereka menjadi pengusaha lantaran kepepet.
Beruntung, belajar dari pengalaman mereka sendiri, akhirnya kini mereka bisa menjadi pengusaha sukses. Lantas, apakah menjadi pengusaha sukses harus jatuh bangkrut terlebih dahulu seperti kisah jatuh bangun tersebut? Itulah pertanyaan yang sering terlontar dari mulut para pengusaha pemula.
Tak disadari, ternyata memang kisah jatuh bangun itu memberi momok menakutkan bagi siapa pun yang ingin menjadi pengusaha. Padahal, bila tahu rahasianya, bukannya takut, justrupassion besar menjadi pengusahalah yang tercipta. Bahkan, kian bergelora untuk dicapai.
Adalah Gunawan Ardiyanto, pemilik usaha jasa konsultan berlabel AGOEN Consultant punya rahasia untuk itu. Seperti apa? Ia mengatakan, agar sukses pengusaha harus mampu membuat rencana bisnis yang matang, memiliki jaringan yang luas, mengikuti berbagai seminar dan training entepreneurship, menulis buku dan masih banyak lagi.
Tak mampu lakukan sendiri, Gunawan mengimbuhkan, AGOEN Consultant miliknya siap membantu. Usaha yang bermula dari Balikpapan itu, kini sudah me-nasional. Ia pun jalankan usaha ini kendati masih berstatus sebagai Construction Manager di salah satu mining service, di kota Balikpapan.
“Saya ingin agar usaha para klien bisa berkembang lebih baik,” ujarnya seraya melanjutkan, melalui jasanya, siapa juga bisa menjadi konsultan atau trainer berdasarkan pengalaman dan ilmunya masing-masing.
Latar belakang gunawan sebagai seorang penulis berbagai judul buku dan kolumnis di beberapa media ternama – seperti kolumnis di Tribun Kaltim, Jambi Independent, Majalah Pengusaha Indonesia dan jambitourism.com, membuatnya terpanggil untuk membagikan keahlian tersebut melalui jasa pelatihan menulis buku. “Bahkan peserta langsung action menulis buku dan saya bimbing sampai buku tersebut terbit,” sebutnya tentang salah satu jasanya yang ia sebut Writerpreneur itu.
Kursus menulis itu, pria kelahiran Bogor ini melanjutkan, ia berikan baik jarak dekat di sekitar kota Balikpapan, maupun jarak jauh untuk siapa pun yang berminat dari luar kota itu. “Selain memberikan kursus menulis secara private, saya juga bersedia untuk memberikan kursus untuk kelompok atau komunitas,” jelasnya.
Sementara, jasa yang disebutnya Business Planner, menurutnya wajib dikuasai oleh pengusaha. “Dengan jasa business plan ini, diharapkan pengusaha mempunyai controlling tools dalam memulai dan mengembangkan usahanya, sehingga kerugian-kerugian  yang mungkin terjadi dapat diminimalisir,” jelasnya. Gunawan sendiri telah mengikuti berbagai seminar dan pelatihan yang bahkan yang diselenggarakan berhari-hari.
Punya business plan yang matang, pandai menulis buku tetapi tak memiliki jaringan juga merupakan sebuah kegagalan. Untuk itu Gunawan memberikan jasa mendongkrak jaringan pengusaha yang seluas-luasnya. “Saya berusaha untuk menghubungkan satu client dengan client yang lain sehingga usaha mereka bisa saling mendukung,” tukas lulusan Fakultas Teknik Jurusan Sipil Universitas Sebelas Maret Solo (1994).
Sementara, Smart parenting, kata dia, merupakan seminar yang ia berikan tentang cara mendidik anak. Bukan untuk menggurui, tetapi berdasarkan pengalaman, ilmu dari berbagai buku dan seminar, ia ingin membagikannya kepada setiap orang tua di Indonesia. “Kegiatan ini akhirnya berkembang menjadi peluang usaha untuk mengadakan seminar atau workshop tentang parenting,” kata bapak dua anak ini.
Semua jasa konsultan yang ia berikan tak main-main memberikan hasil. Beberapa perusahaan telah mempercayakan konsultannya. “Saya mengerjakan beberapa business plan dan SOP untuk usaha di berbagai bidang usaha seperti Kuliner, digital printing, agen properti, bimbingan belajar, event organizer, Klinik Bersalin, Klinik Kecantikan, dan lain-lain,” ujarnya.
Biaya yang ia tetapkan untuk berbagai jasanya relatif terjangkau. “Untuk usaha kecil, jasa pembuatan business plan dan SOP 5 juta rupiah saja, karena tujuan utama saya adalah mengedukasi pengusaha kecil bahwa membuat business plan dan SOP bukan hanya diperlukan oleh usaha besar, tetapi sejak usaha masih kecil juga diperlukan, sebagai persiapan sebelum usaha itu menjadi besar,” urainya.
Sedangkan untuk usaha menengah dan besar biaya jasa tersebut tergantung dari jenis dan besarnya usaha, juga kompleksitas yang ditinjau, misalnya business plan, sop, financial plan dan seterusnya.
Sementara, untuk kursus atau konsultasi menulis buku tergantung dari level kemampuan mereka. “Apakah mereka mulai dari nol, atau sudah bisa menulis tetapi masih perlu dikembangkan sehingga buku tersebut layak untuk bisa diterbitkan,” imbuhnya. Ia mematok biaya berkisar antara 1 – 2,5 juta rupiah untuk jasa tersebut.
Selain usaha konsultan, Gunawan kini juga memiliki usaha event organizer dan lembaga training kerjasama dengan rekan-rekannya, baik di Balikpapan maupun di Pulau Jawa. Dari usaha itu, ia menyelenggarakan even di bidang entrepreneur, bisnis-manajemen, public speaking dan smart parenting.
Alhasil, animo akan jasa konsultannya demikian besar. “Saya merintis usaha jasa konsultan ini sejak 2 tahun yang lalu, dimulai dengan harga Rp. 100 ribu,” katanya. Jasa pembuatan business plan ia tawarkan ke teman-teman dekat, pembaca buku hingga kepada teman-teman facebook.
Tak berhenti sampai di situ. Ke depan, Gunawan masih memiliki sejumlah mimpi. “Target saya ke depan 1-2 tahun lagi adalah membuat sebuah training centre untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di kota kelahiran saya (Bogor)” pungkas Gunawan.
Sumber : forumpengusahaindonesia.com

Minggu, 02 Desember 2012

Sukses di Jepang


INSPIRASI besar memang bisa datang dari mana saja, termasuk dari film animasi untuk anak-anak. Anda mungkin tak pernah mengira, sebuah film anime Jepang ternyata bisa mengilhami penemuan penting yang merevolusi anggapan tak terpatahkan di jagat transmisi telekomunikasi nirkabel.
Tapi cerita itulah yang terjadi pada diri Khoirul Anwar, dosen sekaligus peneliti asal Indonesia yang bekerja di laboratoriom Information Theory and Signal Processing, Japan Advanced Institute of Science and Technology, di Jepang.
Saat terdesak karena harus mengajukan tema penelitian untuk mendapatkan dana riset, Khoirul memeras otaknya. Akhirnya ide itu muncul juga dari Dragon Ball Z, film animasi Jepang yang kerap ia tonton.

Ketika Goku, tokoh utama Dragon Ball Z, hendak melayangkan jurus terdahsyatnya, ‘Genki Dama’ alias Spirit Ball, Goku akan menyerap semua energi mahluk hidup di alam, sehingga menghasilkan tenaga yang luar biasa.

“Konsep itu saya turunkan formula matematikanya untuk diterapkan pada penelitian saya,” kata Khoirul, kepada VIVAnews melalui surat elektroniknya, Jumat 13 Agustus 2010.
Maka inspirasi itu kini mewujud menjadi sebuah paper bertajuk “A Simple Turbo Equalization for Single Carrier Block Transmission without Guard Interval.”
Khoirul memisalkan jurus Spirit Ball Goku sebagai Turbo Equalizer (dekoder turbo) yang mampu mengumpulkan seluruh energi dari blok transmisi yang ter-delay, maupun blok transmisi terdahulu, untuk melenyapkan distorsi data akibat interferensi gelombang.
Asisten Profesor berusia 31 tahun itu dapat mematahkan anggapan yang awalnya ‘tak mungkin’ di dunia telekomunikasi. Kini sebuah sinyal yang dikirimkan secara nirkabel, tak perlu lagi diperisai oleh guard interval (GI) untuk menjaganya kebal terhadap delay, pantulan, dan interferensi. Turbo equalizer-lah yang akan membatalkan interferensi sehingga receiver bisa menerima sinyal tanpa distorsi.
Dengan mengenyahkan GI, dan memanfaatkan dekoder turbo, secara teoritis malah bisa menghilangkan rugi daya transmisi karena tak perlu mengirimkan daya untuk GI. Hilangnya GI juga bisa diisi oleh parity bits yang bisa digunakan untuk memperbaiki kesalahan akibat distorsi (error correction coding).
“GI sebenarnya adalah sesuatu yang ‘tidak berguna’ di receiver selain hanya untuk menjadi pembatas. Jadi mengirimkan power untuk sesuatu yang ‘tidak berguna’ adalah sia-sia,” kata Khoirul.
Gagasan ini sendiri, dikerjakan Khoirul bersama Tadashi Matsumoto, profesor utama di laboratorium tempat Khoirul bekerja. Saat itu ia dan Tadashi hendak mengajukan proyek ke Kinki Mobile Wireless Center.
Setelah menurunkan formula matematikanya secara konkrit, Khoirul meminta rekannya Hui Zhou, untuk membuat programnya.
Metode ini bisa dibilang mampu memecahkan problem transmisi nirkabel. Apalagi ia bisa diterapkan pada hampir semua sistem telekomunikasi, termasuk GSM (2G), CDMA (3G), dan cocok untuk diterapkan pada sistem 4G yang membutuhkan kinerja tinggi dengan tingkat kompleksitas rendah.
Ia juga bisa diterapkan Indonesia, terlebih di kota besar yang punya banyak gedung pencakar langit, maupun di daerah pegunungan. Sebab di daerah tadi biasanya gelombang yang ditransmisikan mengalami pantulan dan delay lebih panjang.
Tak heran bila temuan ini membesut penghargaan Best Paper untuk kategori Young Scientist pada Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC) 2010-Spring yang digelar 16-19 Mei 2010, di Taiwan.
Kini hasil temuan yang telah dipatenkan itu digunakan oleh sebuah perusahaan elektronik besar asal Jepang. Bahkan teknologi ini juga tengah dijajaki oleh raksasa telekomunikasi China, Huawei Technology.
Ini bukan sukses pertama bagi Khoirul. Pada 2006, pria asal Kediri, Jawa Timur itu juga telah menemukan cara mengurangi daya transmisi pada sistem multicarrier seperti Orthogonal frequency-division multiplexing (OFDM) dan Multi-carrier code division multiple access (MC-CDMA).
Caranya yaitu dengan memperkenalkan spreading code menggunakan Fast Fourier Transform sehingga kompleksitasnya menjadi sangat rendah. Dengan metode ini ia bisa mengurangi fluktuasi daya. Maka peralatan telekomunikasi yang digunakan tidak perlu menyediakan cadangan untuk daya yang tinggi.
Belakangan, temuan ini ia patenkan. Teknik ini telah dipakai oleh perusahaan satelit Jepang. Dan yang juga membuatnya membuatnya kaget, sistem 4G ternyata sangat mirip dengan temuan yang ia patenkan itu.
Namun, putra dari pasangan (almarhum) Sudjianto dengan Siti Patmi itu, tak pernah lupa dengan asalnya. Hasil royalti paten pertamanya itu ia berikan untuk ibunya yang kini hidup bertani di Kediri. “Ini adalah sebagai bentuk penghargaan saya kepada orang tua, terutama Ibu,” katanya.
Ayah Khoirul meninggal karena sakit, saat ia baru lulus SD pada 1990. Ibunyalah kemudian berusaha keras menyekolahkannya, walaupun kedua orang tuanya tidak ada yang lulus SD.
Sejak kecil, Khoirul hidup dalam kemiskinan. Tapi ada saja jalan baginya untuk terus menuntut ilmu. Misalkan, ketika melanjutkan SMA di Kediri, tiba-tiba ada orang yang menawarkan kos gratis untuknya.
Saat ia meneruskan kuliah di ITB Bandung, selama 4 tahun ia selalu mendapatkan beasiswa. “Orang tua saya tidak perlu mengirimkan uang lagi,” kata Khoirul mengenang masa lalunya. Otaknya yang moncer terus membawa Khoirul ke pendidikan yang tinggi.
Ia mendapatkan beasiswa S2 dari Panasonic, dan selanjutnya beasiswa S3 dari perusahaan Jepang. “Alhamdulillah, meski saya bukan dari keluarga kaya, tetap bisa sekolah sampai S3. Saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pemberi beasiswa.” katanya.
Sukses di negeri orang tak membuatnya lupa dengan tanah kelahiran. “Suatu saat saya juga akan tetap pulang ke Indonesia. Setelah meraih ilmu yang banyak di luar negeri,” kata Khoirul.
Di luar kehidupannya sebagai seorang periset, Khoirul juga mengajar dan membimbing mahasiswa master dan doktor. Kedalaman pengetahuan agama pria yang sempat menjadi takmir masjid di SMA-nya itu, juga membawanya sering didaulat memberi ceramah agama di Jepang, bahkan menjadi Khatib shalat Iedul Fitri.
Tak hanya itu, Khoirul juga kerap diundang memberikan kuliah kebudayaan Indonesia. “Keberadaaan kita di luar negeri tak berarti kita tidak cinta Indonesia, tapi justru kita sebagai duta Indonesia,” kata dia.
Selama mengajar kebudayaan Indonesia, ia banyak mendengar berbagai komentar tentang tanah airnya. Ada yang memuji Indonesia, tentu, ada pula yang menghujat. Untuk yang terakhir itu, ia biasanya menjawab dalam bahasa Jepang: Indonesia ha mada ganbatteimasu (Indonesia sedang berusaha dan berjuang).
Kini, Khoirul tinggal di Nomi, Ishikawa, tak jauh dari tempat kerjanya, bersama istrinya, Sri Yayu Indriyani, dan tiga putra tercintanya. “Semua anak saya memenuhi formula deret aritmatika dengan beda 1.5 tahun,” Khoirul menjelaskan.
Yang paling besar lahir di Kawasaki, Yokohama, berusia 7 tahun. Yang kedua lahir di Nara berusia 5,5 tahun, dan ketiga juga lahir di Nara, kini berusia 4 tahun. Ia tak sependapat dengan beberapa rekan Jepangnya, yang mengatakan kehadiran keluarga justru akan mengganggu risetnya.
Baginya keluarga banyak memberikan inspirasi dalam menemukan ide-ide baru. “Belakangan ini saya berhasil menemukan teknik baru dan sangat efisien untuk wireless network saat bermain dengan anak-anak,” katanya.
Malahan, Khoirul sering mengajak anak-anaknya melakukan riset kecil-kecilan di rumahnya. Bersama anak-anaknya pula, Khoirul sering menyempatkan waktu menonton bersama, terutama film animasi kegemarannya: Dragon Ball Z, Kungfu Panda, Gibli, atau Detektif Conan.
“Film animasi mengajarkan anak kita nilai yang harus kita pahami dalam kehidupan,” kata Khoirul. Film animasi Gibli, misalnya, banyak bercerita bagaimana seharusnya manusia bisa bersahabat dengan alam, tidak merusaknya, serta mencintai mahluk hidup.
Bahkan ide dan semangat baru terkadang muncul dari menonton film. Misalnya nilai kehidupan yang dia petik dari film Kungfu Panda: ‘There is no secret ingredient, just believe’. “Nilai ini saya artikan bahwa tidak ada rahasia sukses, percayalah bahwa apapun yang kita kerjakan bisa membuat kita sukses.” kata Khoirul.

Sumber : wordpress.com

Bisnis Semerbak Coffee


Kegemaran menikmati hangatnya secangkir kopi membawa Muadzin F Jihad dan Iwan Agustian menjadi pengusaha sukses. Kedua sahabat ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) ini adalah pemilik usaha kopi booth yang telah tersebar di seluruh Indonesia, Semerbak Coffee.
Rutinitas sehari-hari merasakan nikmatnya secangkir kopi membuka naluri bisnis Muadzin. Tepatnya pada 20 Juni 2009, Muadzin yang gemar menikmati kopi dari salah satu merek internasional berkeinginan membuka bisnis serupa, namun dengan merek kopi Indonesia.
Bertempat di Jalan Nusantara Raya 27A, Depok, Jawa Barat, Muadzin dan Iwan memberanikan diri membuka outlet pertama dengan modal awal Rp3,6 juta. ”Jujur, saya penggemar salah satu brand kopi yang sangat terkenal. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak buka usaha yang sama, tapi tentunya kopi Indonesia.
Mengawali karier sebagai karyawan, Muadzin F Jihad mengaku memang memiliki mimpi sebagai pebisnis yang sesuai dengan kegemarannya menikmati kopi. Pertemuannya dengan Iwan Agustian yang memiliki ide sama mewujudkan mimpi Muadzin untuk menjadi entrepreneur.
Tepat tiga bulan yang lalu, Muadzin akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempat ia bekerja selama 15 tahun.Keputusannya itu akhirnya dia pilih agar dirinya bisa fokus pada bisnis yang telah dirintis bersama Iwan. Muadzin tidak menyangka bisnis yang digelutinya hingga kini bisa sukses dan diterima banyak kalangan. Dia pun bercerita awal mula memilih nama Semerbak Coffee.
”Saya memang punya mimpi untuk buka usaha ini. Saya ingin punya nama atau brand yang Indonesia sekali. Kopi lokal punya Indonesia dan dengan desain yang menarik. Makanya, kami pilih nama Semerbak Coffee dengan dominasi warna ungu,” kata Muadzin yang punya hobi fotografi sebagaimana dikutip dari Harian Seputar Indonesia, Minggu (30/10/2011). Lain halnya dengan Iwan. Dia memang seorang pebisnis dan memiliki mesin pembuat kopi.
Muadzin dan Iwan menceritakan, Semerbak Coffee bisa diterima masyarakat karena cita rasa dan ciri khasnya. Muadzin mengungkapkan, saat itu belum ada usaha kopi booth serupa dan Semerbak Coffee yang pertama kali menawarkan merek kopi booth di Indonesia.
”Banyak yang menyebut kami sebagai pionir kopi booth Indonesia. Kami berdua tidak menyangka sambutan terhadap Semerbak Coffee sangat baik. Kami tawarkan investasi hanya Rp9,5 juta untuk punya franchise (waralaba) Semerbak Coffee. Harga yang cukup murah dengan high profit,” ujar Muadzin. Selain bisnis yang menawarkan kopi cepat saji dan murah, Muadzin dan Iwan juga ingin menarik mitra-mitra baru yang ingin membuka usaha Semerbak Coffee melalui sistem waralaba.
Dalam waktu dua hingga tiga bulan setelah outlet Semerbak Coffee dibuka, kedua pengusaha muda ini melebarkan bisnisnya dengan konsep waralaba. Ditanya soal keunggulan produk bisnisnya, Iwan menjelaskan, yang membedakan Semerbak Coffee dengan usaha franchise kopi lainnya di Indonesia adalah karena cita rasa dan mutu yang baik, enak, dan tidak mahal. Harga satu sajian Semerbak Coffee hanya dibanderol Rp5.000-10.000.
Selain itu, kemasan Semerbak Coffee juga memiliki desain yang menarik dan kesan mahal layaknya kopi-kopi brand internasional. ”Slogan kami adalah kopi nikmat, gaya dan enggak pakai mahal. Semua lapisan bisa minum karena harganya yang terjangkau, rasanya enak, dan desainnya tidak murahan,” kelakar Iwan. Dengan kesuksesan yang telah diraih Iwan dan Muadzin, kedua pengusaha ini bukan berarti tidak memiliki kendala-kendala dalam menjalankan bisnisnya.
Iwan mengatakan, kendala hingga saat ini adalah mencari tenaga kerja yang baik dan kompeten untuk bisnisnya ini. Iwan pun menjelaskan salah satu visi dari Semerbak Coffee adalah membuka kesempatan kerja sebesar-besarnya. Dari itu sebagian besar dari 360 karyawan yang dimilikinya saat ini hanya memiliki latar belakang pendidikan sekolah menengah atas (SMA).
Dalam hal ini, Iwan dan Muadzin ingin mengajarkan para karyawannya tersebut bagaimana cara bekerja dengan baik dan profesional. Terkait dengan kompetitor-kompetitor Semerbak Coffee yang juga mengusung tema sama dengan brand kopi miliknya, kedua sahabat ini tidak merasa takut atau khawatir akan kompetisi sehat yang menanti di depan. Iwan dan Muadzin sangat optimistis bisnis yang dijalaninya saat ini mampu bersaing karena mutu, layanan dan ciri khas yang akan terus dijaga.
”Tentunya persaingan dengan kompetitor lainnya tidak bisa dihindari.Tetapi yang pasti, ke depan kami tetap optimistis Semerbak Coffee tetap berada di jalur yang tepat,sambil kami terus meningkatkan mutu, inovasi dan layanan terbaik kami,” kata Iwan. Dalam waktu satu tahun, Semerbak Coffee sudah memiliki 110 booth yang tersebar di seluruh Indonesia. Tanggapan dan animo baik dari pelanggan maupun mitra kerja yang tertarik pada bisnis ini pun semakin deras.
Saat ini Semerbak Coffee telah memiliki 360 booth yang tersebar di 70 kota Indonesia termasuk di daerah-daerah nonperkotaan seperti Serui dan Timika di Papua, serta Langsa di Aceh. Dalam sehari, Semerbak Coffee bisa menjual 180 gelas/booth. Jika dihitung per sachet kopi yang dijual mencapai tujuh ton/hari.
”Kalau bicara soal omzet, kami kan juga menghitung dari mitra kerja. Kira-kira sebesar Rp150-250 juta per bulan. Mitra kerja kami juga terus meningkat sekitar 15-20 mitra kerja baru per bulan. Pencapaian yang sangat kami syukuri hingga saat ini,” ujar Iwan diamini oleh Muadzin.
Muadzin dan Iwan mengatakan, antusiasme pelanggannya yang di Bali sangat tinggi. Begitu pula yang ada di kota-kota lain. Terbukti sebanyak 50 booth kopi berada di Bali, 40 di Jakarta, 20 booth dan kafe di Jalan Arif Rahman Hakim, Depok. Belum termasuk beberapa boothyang tersebar di Bogor, Cirebon, Indramayu, dan lainnya.
Iwan yang kesehariannya menjalankan Semerbak Coffee dengan Muadzin mengatakan, salah satu kunci sukses bisnisnya adalah media sosial yang cukup memiliki andil besar dalam mempromosikan produk-produknya. Iwan mengatakan, sebesar 60 persen penjualannya melalui media sosialseperti Facebook dan Twitter.
Dia mengakui mendapatkan efek yang cukup besar dari sarana media tersebut. Semerbak Coffee memang membidik konsumen remaja yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Dengan menggunakan media sosial, informasi-informasi mengenai Semerbak Coffee bisa dengan cepat tersebar. Iwan dan Muadzin pun sering mengikuti pameran-pameran waralaba yang diselenggarakan di Jakarta sebagai bagian dari promosi Semerbak Coffee.
”Banyak yang tahu Semerbak Coffee dari Facebook atau Twitter. Media sosial sangat membantu sekali memasarkan produk kami,” ujarnya.
Sumber : tdadepok.com

Sukses dari Hutang


Miming Pangarah memang pandai mengelola hutang sehingga omset perusahaannya mencapai puluhan miliar hanya dalam waktu dua tahun. Bagaimana?

Perasaan apa yang dialami oleh seseorang ketika berhutang pada bank? Malukah atau merasa khawatir tidak mampu membayar angsuran?. “Kedua perasaan itu pernah saya alami dua setengah tahun yang lalu,” kenang Miming Pangarah, pemilik perusahaan percetakan asal Bandung, Indoprint. “Bila sekarang, berapa pun besarnya jumlah hutang yang di tawarkan pasti saya akan ambil,” tukasnya. Pada tahun 2002 Miming hanyalah pengusaha biasa dan belum dikenal sukses seperti sekarang.

Baru setelah dia mendapatkan berkah dari ‘bermain hutang bank’ namanya berkibar khususnya di kalangan komunitas Entreprenur University (EU). “Saya belajar bagaimana caranya agar uang dapat bekerja untuk kita,” ungkapnya. “Sebelum ini, saya hanya mempunyai hutang sekian puluh juta, dan pada waktu itu saya hanya berfikir bagaimana caranya agar hutang saya lunas. Saya berbuat bagaimana menutupi hutang, ternyata itu adalah cara yang salah!” katanya.

Belajar dari pentolan EU, yakni Purdi E Chandra, ia baru paham di dalam menjalankan bisnis yang lebih tepat adalah bukan berusaha bagaimana agar hutang-hutang menjadi lunas, tetapi sebaliknya adalah bagaimana agar bisa mendapatkan hutang lebih besar dari utang tersebut. Maka ketika dia hanya memiliki hutang kecil, ia mengaku mesti bekerja menjaga toko mati-matian agar bisa menutup tanggungan angsuran bulanan. “Kebalikan dengan sekarang, besarnya bunga yang harus saya bayar per bulan kepada bank kira-kira Rp 60 juta, tetapi bukan saya yang membayar, karena keuntungan bisnis yang berjalan itulah yang menutup sendiri,” paparnya. Logikanya sederhana. Hitungan kasar bunga bank adalah sekitar 1,5% besarnya tiap bulan. Sedangkan profit yang didapatkan dari bisnis paling tidak adalah 5% dan bisa lebih. Dari situ besar bunga yang mesti ditanggung sudah tertutup masih ditambah sisa keuntungannya. Meski selisih hanya 3,5% itu sudah cukup besar bila dikalikan dengan jumlah hutang sebesar Rp 500 juta, misalnya.

Mengenai resiko kredit macet karena bisnis yang tidak bisa jalan atau merugi Miming menepis bahwa kemungkinan itu kecil terjadi asalkan pengusaha disiplin dalam mengelola manajemen keuangan. Prinsip yang harus dipegang bahwa menggunakan kuncuran kredit untuk keperluan konsumtif adalah tabu dilakukan. Ia mewanti-wanti bila orang sudah mulai berani menggunakan sekian ribu uang dari bank untuk di luar kepentingan bisnis, maka hal sembrono itu akan terus terulang dalam jumlah yang makin membesar. “Saya pastikan bahwa dia akan bangkrut,” ancamnya. Miming membenarkan bahwa masalah yang kerap dihadapi oleh pelaku usaha tingkat UKM ketika berhubungan dengan bank adalah tidak bisa meyakinkan pihak pemberi utang. Maka sejak awal hendak mengajukan keredit ia telah menerapkan pembukuan yang mengikuti standar berikut neraca dan rekening koran. “Laporan keuangan kita buat bagus sehingga bank percaya sama kita,” ujarnya. Soal agunan? Bukan masalah, karena aset yang di miliki itulah yang diagunkan, “Sehingga resiko tidak ada, karena paling-paling ruko saya yang diambil,” ucapnya enteng.

Saat ini ia mengaku sudah mempunyai lima buah ruko dan sedang membangun pabrik percetakan sendiri, di samping membuka usaha yang lain yaitu beberapa buah salon yang di waralabakan, BPR, usaha sablon, dan juga telah membeli franchise Primagama. Sehingga total asset yang di miliki adalah sekitar Rp 7 miliar yang dicapai hanya dalam tempo 2,5 tahun. Sedangkan total kredit mencapai sekitar Rp 3,5 miliar besarnya. “Ketika dulu saya takut sama bank, omset bisnis saya kira-kira cuma Rp 150 juta setahun, sekarang ketika saya berani menggunakan hutang bank omset saya sudah di atas 10 miliar setahun,” tuturnya mantap. Kredit dalam jumlah besar tentu saja tidak bisa diharapkan dengan serta-merta. “Saya juga mulai dari jumlah kecil,” ujarnya. Pertamakali mengajukan kredit senilai Rp 30 juta, kemudian meningkat seiring dengan pertambahan aset yang di hasilkan dari kucuran dana sebelumnya. “Maka perlu sekali untuk menjaga hubungan baik dengan tidak membuat kesalahan dengan bank,” imbuhnya. Meski jaringan usahanya sudah mulai menggurita bukan berarti pembicara aktif EU tersebut mesti sibuk mengurusi bisnis tiap hari. Sebaiknya dia leluasa menjalani aktifitasnya berkeliling sebagai pembicara ke berbagai kota di seluruh Indonesia baik di Jakarta, Cilegon, Bogor, Semarang, Yogyakarta, Palembang, Padang, Denpasar dan lain-lain. “Saya adalah orang yang paling dicari setelah Pak Purdi,” katanya. Sedangkan urusan bisnis ia telah mempercayaksan pada SDM yang menangani secara profesional. “Saya menerapkan manajemen profesional termasuk untuk menggaji diri saya,” tuturnya. Ia ingin meyakinkan bahwa kalau dengan apa yang dilakukannya dia bisa melakukan loncatan seperti sekarang, tentu orang lain akan bisa pula.

Saya hanya ingin merubah pikiran banyak orang bahwa bisnis itu tidak mesti memakai uang, yang penting butuh keberanian,” tegasnya. Ditambahkan, “Ketika seseorang sudah memiliki niat untuk berbisnis, pikirkan bisnis jenis usahanya dan jalannya. Artinya tidak bisa hanya dengan berangan-angan tetapi sambil diam saja.”

Sumber: garagarapurdi.com