Kamis, 27 September 2012

Sukses Dengan Kue Kering


Dalam menjalankan bisnis kue kering, Diah Andini menerapkan sistem produksi ramah lingkungan. Ia membuat sumur resapan untuk menampung limbah. Diah juga memberi lapangan kerja bagi banyak pengangguran di lingkungannya.
Diah Andini adalah sosok wanita yang patut dicontoh. Betapa tidak. Untuk membantu usahanya dalam berniaga kue kering, wanita yang akrab disapa Andini ini memberdayakan para pengangguran yang tinggal di sekitar tempat tinggalnya di Desa Bojong Koneng, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Eloknya, dalam menjalankan usahanya yang telah dirintis sejak tujuh tahun silam itu, Andini menerapkan sistem produksi ramah lingkungan. Contohnya, ia membuat sumur resapan di pabriknya untuk menampung limbah hasil produksi kue keringnya. Jadi, selain memberi manfaat ekonomi bagi lingkungan sekitar, usaha yang ditekuni Andini juga ramah lingkungan lantaran tidak meninggalkan bau tak sedap.

Manajemen produksi seperti itulah yang akhirnya mengantarkan Andini meraih penghargaan sebagai Social Entrepreneur di ajang BNI-Femina tahun 2009 lalu.

Andini mengaku, dirinya tidak menyangka bisnis kue keringnya bakal berkembang seperti saat ini. Maklum, saat awal membuka usaha kue, Andini tidak yakin dengan kondisi fisiknya ketika itu. Gara-garanya, dokter memvonis perempuan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran ini menderita penyakit jantung menjelang akhir studinya. “Saya sempat stres. Ibu saya lalu menyarankan agar saya berbisnis supaya bisa menenangkan pikiran,” kenang Andini.
Karena sejak kecil sering membantu sang ibu membuat kue kering, Andini memutuskan memulai bisnis kue kering.

Bermodalkan pinjaman dari ibunya, dia mulai merintis usaha kue kering. Bendera usahanya adalah Difa Cookies.
Pada tahap awal, ia mempekerjakan delapan ibu rumah tangga di sekitar rumahnya. Perempuan kelahiran 2 Juni 1975 ini mengisahkan, awalnya cukup berat mempekerjakan mereka. Yang tersulit adalah mengubah kebiasaan hidup karyawannya, baik dari sisi kebersihan maupun kedisiplinan dalam bekerja.

Itu sebabnya, sebelum resmi mempekerjakan mereka, Andini melakukan pelatihan awal selama sepekan. Salah satu hal yang ia tekankan adalah membuat standar operasional untuk melatih kedisiplinan para karyawan. “Awalnya untuk menerapkan kebersihan dan kedisiplinan pada diri sendiri saja berat, tapi sekarang bahkan ada yang menerapkannya sampai ke lingkungan rumah mereka,” tutur ibu dua anak ini.

Jadi, pelatihan kerja yang ia terapkan pada karyawannya tidak sia-sia. Kini, Andini telah merekrut 25 warga sekitar Bojong Koneng menjadi pekerja tetap Difa Cookies. Bahkan, saat pesanan melonjak menjelang Lebaran atau hari raya lainnya, dia mempekerjakan 80-120 orang tetangganya.

Dengan mempekerjakan warga, Andini pun bisa mengangkat perekonomian warga di desanya yang termasuk salah satu desa tertinggal di Jawa Barat. “Dengan bekerja di sini, mereka bisa menambah pendapatan bagi keluarganya. Selain itu, tindak kejahatan juga bisa diminimalkan,” ujar Andini.

Andini menuturkan, tahun lalu Difa Cookies berhasil meraup omzet Rp 900 juta. Setiap tahun penjualan kue keringnya meningkat sekitar 15%-20%. Konsumennya berasal dari Bandung, Jakarta, Balikpapan, Kuala Lumpur, hingga Brunei Darussalam.

Ke depan, perempuan kelahiran Semarang ini akan merintis sistem plasma di kampung tempat pabrik mininya beroperasi. Nantinya, beberapa warga akan dikelompokkan untuk memproduksi kue kering sendiri. Andini akan membantu memasarkan hasil produksi mereka. “Saya ingin mereka tidak tergantung terus pada pabrik saya yang kecil ini,” katanya merendah.

Sumber : kontan.co.id

Hobby Menjahit Beromzet Milyar


Berikut adalah kisah pendiri produk pakaian jadi “Dannis” specialis pakaian muslim. Dengan modal awal Rp.1juta dan keuletan berusaha kini beromset Rp 2 milyar. Salah satu kisah sukses yang bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.
Sebuah inspirasi bisa muncul dari mana saja, termasuk dari keluarga sendiri. Tati Hartati pun bisa menjadi seorang pengusaha pakaian muslim yang sukses berkat terinspirasi kemandirian ibu kandungnya.
Sewaktu kecil dulu, pemilik “Rumah Dannis” ini hidup dalam keprihatinan. Untuk membeli pakaian saja tidak mampu. Bila ingin baju baru, sang ibu rajin membuatkan baju untuk Tati dan juga saudara-saudaranya.
Alhasil, Tati terbiasa mengenakan pakaian hasil jahitan sang ibu. Begitu pula ketika Hari Raya Lebaran tiba. Ketekunan dan ketelatenan sang ibu inilah yang menjadi sumber ilham bagi Tati untuk memberanikan diri menjahit pakaiannya sendiri saat duduk di kelas empat sekolah dasar (SD).
Sejak itu pula Wati belajar mandiri. Setidaknya, dia tak lagi meminta uang jajan kepada orangtuanya lantaran dia bisa mencari uang sendiri dari jualan pakaian boneka dan tempat pensil. Apalagi hasil keterampilan tangan Tati semakin terkenal di kalangan teman-temannya. “Di sekolah jadi banyak yang tahu, dan pesanan terus bertambah,” kenang Tati.
Setelah lulus sekolah kejuruan itu, bukannya bekerja, Tati malah masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tidak tanggung-tanggung, dia bisa kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga berhasil meraih gelar insinyur kimia.
Setelah lulus kuliah, Tati pun harus bekerja di kantoran. Maklum, ketika itu sang ayah memasuki masa pensiun dari sebuah badan usaha milik negara (BUMN). Tanggung jawab keluarga seolah berpindah ke pundak Tati. “Ibu saya tidak bekerja dan ayah pensiun. Jadi, untuk biaya kuliah adik, saya harus mencari uang,” kata Tati.
Setelah menikah pada 1998, ternyata sang suami tidak mengizinkannya bekerja di kantoran. Larangan inilah yang menjadi dorongan kuat bagi Tati untuk berjualan pakaian buatan sendiri. Dengan modal Rp 1 juta dari suami, Tati mulai membuktikan keahliannya dalam menggambar dan mendesain pakaian. Itu semua dia lakukan di sela-sela kegiatan mengurus rumah dan anak.
Meski disambi mengurus rumah tangga, saban bulan, Tati mampu membikin 50 potong pakaian anak. Semuanya dia desain, jahit, dan bordir sendiri. “Jiwa saya selalu ingin menghasilkan sesuatu,” ujar Tati.
Dan ternyata, baju anak hasil kreasinya diterima pasar. Tati pun kian semangat. Dia juga mulai berani memasang merek Dannis pada baju bikinannya.
Lantas, tumbuh pula kepercayaan dirinya untuk mengembangkan usaha. Tati mulai memproduksi pakaian muslim dewasa, mukena, hingga jilbab.
Sayang, kali ini tidak laku. Toko-toko pakaian di Surabaya tidak mau menjual produknya. Ternyata, pakaian muslim buatan Tati bukan segmen dari toko-toko pakaian itu. Dia lantas berpikir, produk Dannis harus jelas target dan segmentasinya. “Akhirnya saya fokuskan produk ini untuk kalangan menengah ke atas,” tutur Tati.
Untuk bisa membuat model baju dengan mode mutakhir, Tati rajin menonton acara mode di televisi, membuka majalah wanita, hingga jalan-jalan ke berbagai kota. “Kalau lihat ada pameran fashion di televisi, saya selalu membayangkan berada di acara tersebut dan melihat semua desain untuk menyelami,” ujar Tati.
Omset Rp 2 miliar
Di dunia mode, Tati merasakan sebuah ide itu menguras pikiran dan tenaga; hingga terkadang Tati merasa jenuh. Tapi, karena bisnis ini menguntungkan, dia pun tetap senang menjalaninya.
Kemampuannya berimajinasi soal model membuat busana Dannis selalu segar. Karena itu, tak perlu heran kalau bisnis Tati juga terus berkembang. Sekarang ini Tati mampu memproduksi 35.000 potong baju dengan omzet mencapai Rp 2 miliar per bulan. Harga termahal dari baju muslim bermerek Dannis ini Rp 250.000.
Tati kini memperkerjakan 1.000 orang karyawan dengan melibatkan 500 agen yang tersebar di kota-kota besar. Dia menerapkan konsep kemitraan. “Jadi, saya tidak perlu membuat gerai, sehingga lebih efektif dan efisien,” imbuh Tati.
Kendati sudah malang melintang di dunia busana, pakaian muslim buatan Tati tak lepas dari kritikan, termasuk dari konsumen. “Saya anggap kritikan itu sebagai pemacu untuk menampilkan produk yang lebih baik lagi,” ujar Tati.
Sumber : diradja.wordpress.com

Pengusaha Tekaya & Termuda di India

Image Sameer Gehlaut, 35, dinobatkan sebagai pengusaha kaya dan termuda di India, yang diperolehnya melalui keringatnya sendiri.

Dalam kiprahnya sebagai pebisnis, Sameer menggebrak bisnis di India dengan menelurkan Indiabulls, sebuah perusahaan layanan finansial online pertama di India.
Gebrakannya itu menjadikan dirinya sebagai pengusaha muda serta mendatangkan banyak keuntungan baginya. Ameer, panggilan akrab Sameer, banyak disebut sebagai pengusaha yang memiliki tampang bak aktor Bollywood. Wajahnya tampan, gayanya yang percaya diri, langkahnya tegap ke depan, tidak ketinggalan kekayaan melimpah, menjadikan dia selalu dipandang dan dihormati.

Majalah Forbes pada tahun 2008 menempatkannya pada peringkat ke-962 sebagai pengusaha terkaya di dunia. Di India, Sameer menjadi pengusaha terkaya dengan peringkat ke-45. Dalam hitungan Forbes, kekayaan Sameer mencapai 1,2 miliar dolar AS (Rp 11,16 triliun).

Perusahaan yang didirikan pada 2000 ketika Sameer berusia 26 tahun, kini telah menjadi perusahaan yang sangat dipertimbangkan dalam bisnis keuangan di India. Padahal, awalnya perusahaannya hanya melayani keuangan online di India. Berkat kejelian dan pandai melihat peluang, Indiabulls makin melebarkan sayapnya di berbagai sektor bisnis.

Awalnya, perusahaan itu didirikan setelah mengakuisisi perusahaan Inorbit Sekuritas, sebuah perusahaan broker saham di New Delhi. Hanya dengan memiliki kantor di sebuah ruko kecil di dekat Terminal Bus Hauz Khas, New Delhi, Sameer tetap percaya diri menjalankan bisnis. Ketika itu, kantornya hanya memiliki dua buah komputer.

Pada 2004, perusahaannya terus melebarkan sayapnya serta menyediakan layanan kredit bagi masyarakat. Pada 2005, sektor bisnis pegadaian juga diincarnya.

Pada 2008, dia berinvestasi pada bisnis pembangkit listrik. Bukan sampai di situ saja, Indiabulls yang memiliki Indiabulls Wholesale Service mengakuisisi 63,92 persen saham Piramyd Retail, perusahaan ritel yang memiliki 35 gerai dan tujuh toko yang menyediakan perlengkapan gaya hidup, seperti pakaian dan fesyen. Dengan akuisisi itu, tidak mengherankan, Indiabulls Wholesale pun memiliki konsep bisnis hypermarkets, lifestyle, dan toko kebutuhan rumah tangga.

Bisnis asuransi pun diliriknya. Sameer bekerjasama dengan perusahaan asuransi Sogecap. Bisnis properti pun tetap digeber. Salah satu anak perusahaannya, Indiabulls Real Estate, mengembangkan 50.000 apartemen di seluruh India. Saat ini dia membangun Indiabulls Centre One seluas 130.000 meter persegi.

"Semua bisnis yang menguntungkan akan saya geluti," tuturnya dikutip Indiatoday. Dapat diprediksi, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, Indiabulls mampu menjadi perusahaan pelayanan finansial terdepan dan perusahaan properti terdepan.

Cengkeraman bisnis Indiabulls bukan di India semata. Berkat tangan dingin Sameer, bisnisnya pun mampu mendapatkan kepercayaan dari perusahaan investasi kelas dunia.

Pada 2005, Indiabulls berhasil mengumpulkan keuntungan sebesar USD2 miliar (Rp18,5 triliun) dengan saham senilai USD2 juta (Rp1,8 triliun). "Kita sudah mengidentifikasi bahwa bisnis pembiayaan keuangan, properti, dan ritel perusahaan kita telah tumbuh 50 kali lipat dibandingkan bisnis broker," ujarnya dikutip Businesstoday.

Merrill Lynch dan Goldman Sac, salah satu bank investasi telah meningkatkan kepemilikan sahamnya pada Indiabulls. Bahkan,salah satu perusahaan investasi paling prestisius di dunia,Morgan Stanley Capital International Index (MSCI), juga menanamkan sahamnya pada Indiabulls. Pengaruh perusahaan investasi itu menjadikan Indiabulls memegang 31persen bisnis perdagangan saham online.

Pengusaha kaya dunia LN Mittal dengan LNM India Internet Venture Ltd juga memiliki 8,2 persen saham di Indiabulls Credit Service, salah satu anak perusahaan Indiabulls. Ditambah dengan kepemilikan saham Farallon Capital pada Indiabulls Financial Services.

"Saya selalu membuka kesempatan pada perusahaan asing untuk terus menanamkan sahamnya pada bisnis saya," paparnya. Sameer dengan Indiabullsnya mendapatkan penghargaan dari pemerintah India.

Penghargaan tertinggi bagi perusahaan-perusahaan di India,yang mengembangkan multiproduk pada bisnisnya. Pemerintah India menilai bahwa Indiabulls mengembangkan bisnis yang beragam dan inovatif.

"Jangan ragu untuk terbuka dengan investasi asing. Jika investor asing tertarik dengan bisnis Anda, itu merupakan kelebihan dan keberuntungan. Perusahaan Anda akan semakin besar, dan berkembang," tuturnya. Kadang,memang pekerjaan dan bidang bisnis sangat jauh dengan ilmu di kampus yang digelutinya.

Sameer mengambil kuliah jurusan teknik mesin di Institut Teknologi India di New Delhi. Dia mendapatkan gelar sarjana pada 1995. Setelah lulus, dia langsung ke AS bekerja di Halliburton, salah satu perusahaan minyak. Walaupun sudah bergelimang uang dengan jaminan pendapatan yang tinggi ketika itu, tetap saja Sameer merupakan orang yang nasionalis.

Misi idealismenya untuk membangun negara tercinta, India, menjadikan dirinya kembali pulang. Bagi Sameer, berbisnis juga membangun negaranya. Apa yang dilakukannya tidak terlepas dari kebutuhan negaranya untuk terus berkembang menjadi negara maju. Menurut dia, kontribusi para pengusaha pada negara sangatlah besar. Negara juga bergantung pada para pengusaha.Tanpa pengusaha, penguasa tidak akan berkutik membangun negaranya.

"Kekuatan ekonomi suatu negara bukan berada di tangan pemerintah, melainkan di tangan pengusaha," paparnya dikutip Indiatimes. Sameer juga menuturkan bahwa untuk membangun bangsa yang kuat diperlukan pemuda-pemudi yang memiliki jiwa entrepreneur,dan kemampuan untuk terus berinovasi. "Tidaklah salah jika masa depan suatu negara berada di tangan generasi muda.Pasalnya, kebanyakan negara-negara memiliki energi yang berlebih, dan kebanyakan energi itu dimiliki para pemuda dan pemudi.

Toh, rata-rata negara-negara memiliki 40 persen populasi penduduk merupakan anak muda,"paparnya. Untuk bisa maju,menurut Sameer, pemuda jangan hanya bisa beretorika, tetapi mampu mengaktualisasikan kepeduliannya pada lingkungan dan sosial.Paling mudah, dalam pandangan Sameer, adalah menuangkan ide dengan berbisnis. "Pertama, pengusaha butuh inovasi, modal nomor kedua," katanya. Sameer Gehlaut dinobatkan sebagai pengusaha kaya dan termuda di India. Pundi-pundi kekayaannya diperoleh melalui keringatnya sendiri.
Sumber : suaramedia.com/

Sukses Home Industry


Tapai (sering dieja sebagai tape) adalah salah satu makanan tradisional Indonesia yang dihasilkan dari proses peragian (fermentasi) bahan pangan berkarbohidrat, seperti ketan hitam atau putih yang setelah jadi disebut "tapai pulut" atau "tapai ketan".Dalam proses fermentasi tapai, digunakan beberapa jenis  mikroorganisme Saccharomyces cerevisiae, Rhizopus oryzae, Endomycopsis burtonii, Mucor. Candida utilis, Saccharomycopsis fibuligera, Pediococcus dan lain-lain. Tapai hasil fermentasi dariS. cerevisiae. seperti umumnya berbentuk semi-cair, berasa manis keasaman, mengandung alkohol, dan memiliki tekstur lengket Umumnya, tapai diproduksi oleh industri kecil dan menengah sebagai kudapan atau hidangan pencuci mulut.

Kerja keras yang dibarengi ketekunan selalu berbuah keberhasilan. Hal itu juga terbukti pada apa yang dilakoni Sukaesih (34) yang merintis usaha tape ketan dengan merek "Binangkit" khas kuningan sekitar empat tahun lalu.

Dengan modal 25 kilogram beras ketan, Sukaesih memulai usaha pembuatan tape ketan dirumahnya di Desa Tarikolot Kec. Cibeureum Kabupaten Kuninga, dan hanya baru dijual didaerah sekitarnya saja. Namun seiring waktu usahanya kini sudah bisa dikatakan sangat berhasil.

"Sebelum bikin tape dulu sempat buat keripik dan menjahit pakaian tapi kurang berhasil. Mungkin jalannya di bisnis tape ketan, alhamdulillah bisa seperti sekarang bisa membantu lingkungan sekitar dan mempekerjakan 30 orang pegawai," kata Sukaesih yang akrab dipanggil ibu Panji.

Dalam merintis usahanya ia tidak terlepas dari peran koperasi, ia mendapatkan bantuan modal dan pembinaan dalam hal cara pemasaran dan mengembangkan kualitas produk, termasuk bantuan peralatan yang diperlukan dari badan koperasi didaerahnya.

"Dulu sempat mendapatkan pinjaman modal dari koperasi sekitar Rp 10 juta yang saya gunakan untuk menambah modal untuk mengantisipasi pesanan yang terus meningkat. Dan Alhamdullilah tape ketan buatan saya disukai banyak orang," ujarnya sambil melayani pembeli saat mengikuti pameran KUMKM Bank Jabar Banten (BJB) baru-baru ini.

Seiring usahanya yang terus berkembang, Sukaesih setiap tahun menambah permodalan usahanya. Dan terakhir ia mendapatkan bantuan pinjaman modal dari BJB sebanyak Rp 100 juta yang digunakan untuk menambah modal untuk memperluas pemasaran dan menyiapkan stok menjelang lebaran.

“Modalnya masih butuh lebih banyak, karena sekarang saja bisa menghabiskan 2 - 5 kuintal beras ketan setiap hari, apalagi bila menjelang lebaran, bisa habis sampai 1 ton perhari,” pungkas sukaesih yang biasa menjual tape ketannya seharga Rp 350 perbungkus kecil dan memasarkan kebeberapa toko makanan di daerah Kuningan dan pantura.

Menurutnya pesanan terus banyak berdatangan dari luar daerah. Bahkan dalam sehari bisa sampai mengirim hingga 100 ember atau sekitar 2 kuintal tape ketan siap saji. Ia mengaku tape ketan Binangkit miliknya banyak dipesan dari berbagai daerah diantaranya Bandung, Jakarta, Palembang, dan Yogyakarta.

“Saya berharap bisa menambah kapasitas produksi lagi sehingga bisa membuka lapangan kerja dikampung saya. Dan selain itu bisa memperluas pemasaran keseluruh daerah di Indonesia dan tidak hanya di wilayah dekat saja, karena pesanan juga sudah banyak dari luar Jawa Barat,” tuturnya. (Krishna Ahadiyat/”PR”)

Dari kisah sukses yang terungkap di atas, ada banyak hal yang menarik yang dapat menjadi pembelanjaran bagi yang ingin melakukan wirausaha. Antara lain untuk memulai usaha tidak perlu dengan modal yang besar, Ibu Sukaesih memulai usahanya hanya dengan 25 kg ketan, tetapi dengan kerja keras dan ketekunannya usahanya terus berkembang hingga saat sekarang telah mencapai 5 kuintal beras ketan per hari, bahkan bisa mencapai 1 ton per hari pada saat menjelang lebaran.

Sumber : khamsahamida-khamshamida.blogspot.com

Sukses Pembudidayaan Jambu Organik

Melihat peluang usaha yang menjanjikan di bidang agribisnis khususnya tanaman buah menarik Suko Budi Prayogo banting setir menjadi petani. Dari satu hektar lahan yang ditanami varietas terbaru Jambu Biji Mutiara asal Thailand, tiap minggu ia bisa panen 800 kg jambu yang nyaris tak berbiji itu. Menariknya tanaman ini bisa dipanen sepanjang tahun dan permintaan pasar cukup tinggi serta pembudidaya masih sangat sedikit. Bagaimana potensi usahanya?

Suko Budi Prayogo begitu nama lengkap pria yang akrab disapa Budi ini. Sebelumnya Budi bekerja di Jawa Muda Group (perusahaan yang bergerak dalam bidang pertanian, peternakan, dan farmasi di Jawa Timur) selama 14 tahun dan terakhir menjabat posisi General Manager. Tak puas dengan kariernya, Budi pun memutuskan berhenti dan. memilih menjadi petani berbagai jenis tanaman buah dataran rendah sejak tahun 2003. Kecintaannya mengoleksi tanaman buah membuka matanya akan peluang besar budidaya tanaman buah.

Di atas kebun seluas dua hektar miliknya Budi memulai usaha dengan menanam berbagai tanaman buah seperti Kelengkeng Kristal, Jeruk Santang, Jeruk Kepok Madu, Blimbing Dewa, Sawo Jumbo Thailand, Srikaya Jumbo, Mangga Golden, Jambu Air Black Diamond dan varietas terbaru Jambu Biji Mutiara asal Thailand.

Di awal usahanya. Budi merogoh kocek hingga Rp 50 juta yang digunakan untuk membeli peralatan dan perlengkapan pertanian, bibit, hingga mengolah kebun yang berlokasi di Desa Pongangan, Kec. Gunung Pati, Kab. Semarang,

Jawa tengah. Budi mengatakan, sebagian kebunnya tersebut (1 hektar) digunakan untuk menanam 840 pohon varietas Jambu Biji Mutiara yang diperolehnya langsung dari Thailand. Selain budidaya jambu biji yang nyaris tidak berbiji tersebut, ia juga menjual berbagai macam bibit dan buah yang ditanam di kebunnya.

Jambu Mutiara Organik. Jika jambu biji biasanya dipenuhi dengan biji, lain halnya dengan Jambu Biji Mutiara yang memiliki sedikit biji (seedless). Selain itu, meski dikenal sebagai tanaman dataran rendah, tapi tanaman ini bisa ditanam pada ketinggian 5OO-1.2OO mdpl. Menariknya, kurang dari satu tahun sudah bisa dipanen dan akan terus panen sepanjang tahun hingga masa produktif selama 10 tahun.

Jambu Biji Mutiara mempunyai keistimewaan rasa buah manis segar dengan tekstur buah renyah, berukuran berat 0,3-0,7 kg per buah diameter 5-10 cm dan termasuk dalam tanaman dengan perawatan yang mudah.

Budi mengatakan, Jambu Biji Mutiara budidayanya, ditanam secara organik. Selain biaya yang dikeluarkan lebih murah, hasil panen yang dihasilkan bebas dari pestisida maupun residu bahan kimia lainnya. Yang menarik pemeliharaan Jambu Biji Mutiara juga sangat mudah. "Setelah tanam, kita cukup siram satu minggu sekali dan pembuangan rumput maupun gulma yang tumbuh di sekitar kebun, agar penyerapan nutrisi tanaman sempurna," kata Budi.

Biaya produksi pun bisa ditekan, karenanya Budi tak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli pupuk kimia (NPK, Urea, TSP) serta pestisida. Hanya saja untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman Budi memberi tanaman tersebut suplemen berupa mikroorganisme probiotik EM4 yang dibeli Rp 17 ribu/botol. "Tiap dua bulan sekali kita berikan mikroorganisme probiotik, dosisnya tergantung dari umur pohon itu sendiri. Misal untuk umur pohon kurang dari 2 tahun kita berikan 5 cc per pohon, selebihnya sebanyak 10 cc per pohon yang dicampur dengan air sebanyak 10 liter dan disiramkan pada lubang tanam. Selanjutnya, tiap 4 bulan diberikan pemupukan ulang dengan pupuk kandang sebanyak 4 ton/hektar. Tujuannya agar nutrisi terpenuhi dan tanaman berkembang baik dan menghasilkan buah yang maksimal," beber Budi.

Lantaran Jambu Biji Mutiara ini dipanen sepanjang tahun, maka sejak panen pertama, dari satu pohon akan terus menghasilkan buah dan produktif hingga 10 tahun. Tak heran jika Budi mengatakan bisa panen 800 kg tiap minggunya dari 840 pohon. "Dari satu pohon ya

bisa dipanen sekitar 50 kg tiap tahunnya," akunya. Dengan demikian, dalam setahun Budi bisa panen 42 ton Jambu Biji Mutiara/tahunnya. Adapun harga jual satu kilo Jambu Biji Mutiara di tingkat petani dengan harga Rp 12 ribu.

Pemasaran. Budi mengatakan, Jambu Biji Mutiara dipasarkan ke beberapa swalayan buah organik (Total Buah Segar dan All Fresh) dan end user yang mengonsumsi buah organik di sekitar Semarang, Jakarta, dan Bali.

Dari satu hektar lahan miliknya, mampu menghasilkan 42 ton/tahun. Jika harga di tingkat petani Rp 12 ribu, maka omset yang dicapai sekitar Rp 504 juta/tahun atau Rp 42 juta/bulan.

Karena permintaan dari supermarket yang besar, Budi menjalin kerja sama dengan beberapa petani di berbagai daerah seperti Pekalongan, Ungaran, Magelang, Demak, Sukorejo dan Kendal untuk membudidaya Jambu Biji Mutiara ini. "Saya kerja sama dengan petani (Mitra) di mana saya suplai bibit, dan petani hanya tinggal siapkan lahan , dan    tanam.   Setelah panen, bisa dijual ke saya dan kita bagi hasil fifty-fifty," ungkap Budi. Selain  itu, kerja sama juga dilakukan dengan  para  peternak sapi di daerah sekitar kebun miliknya, untuk mendapatkan kotoran sapi sebagai bahan baku utama dalam pembuatan pupuk kandang. Saat ini Budi telah menjalin kerja sama dengan 5 orang peternak   dengan   rata-rata   pengeluaran sekitar Rp 700 ribu-Rp 2 juta per orang tergantung jumlah ternak yang dimiliki. "Peternak yang memiliki 10 ekor sapi saya hargai Rp 700 ribu per bulan, lebih dari 10 ekor saya hargai Rp 2 juta per bulan untuk kotoran sapinya," jelas Budi.

Dengan permintaan yang terus meningkat dan belum terpenuhi, Budi mengatakan prospek usaha budidaya jambu mutiara ini sangat bagus. Hal ini dikarenakan pem-budidayanya masih sedikit, apalagi dengan teknik budidaya organik tentunya harga per kilo lebih menjanjikan.

Kendala. Dalam budidaya biasanya yang menjadi momok bagi para petani adalah serangan hama dan penyakit. Begitu pula pada budidaya Jambu Mutiara ini sendiri. Budi mengaku hama dan penyakit yang biasanya menyerang tanaman jambunya adalah serangan ulat, belalang dan lalat buah. Namun bagi Budi hal semacam itu tidak begitu ia khawatirkan. "Pencegahan dan penanggulangan hama dan penyakit seperti itu cukup saya lakukan secara manual saja, tidak melakukan penyemprotan pestisida," jelasnya. Menurut Budi bila tanaman jambunya terkena serangan hama/penyakit, ia cukup memotong daun/batang yang terkena serangan secara manual saja. 

Biji Mutiara asal Thailand, tiap minggu ia bisa panen 800 kg jambu yang nyaris tak berbiji itu. Menariknya tanaman ini bisa dipanen sepanjang tahun dan permintaan pasar cukup tinggi serta pembudidaya masih sangat sedikit.  Dari satu hektar lahan, mampu menghasilkan 42 ton/tahun. Jika harga di tingkat petani Rp 12 ribu, maka omset yang dicapai sekitar Rp 504 juta/tahun atau Rp 42 juta/bulan.
 
Sumber : http://khamsahamida-khamshamida.com

Merangkai Bunga Jadi Jutawan


Bagi kebanyakan orang, bisnis merangkai bunga mungkin merupakan hal biasa. Namun bisnis merangkai buah-buahan segar adalah hal yg tak biasa dan jarang ditemui.

Adalah Tariq Farid, warga Amerika Serikat (AS) yg menggeluti bisnis merangkai buah-buahan segar. Berkat bidang usaha itu, pria kelahiran Pakistan yg bermigrasi ke Amerika pada usia 11 tahun tersebut kini memetik "segarnya" keuntungan dari bisnisnya.

Di bawah bendera Edible Arrangements International (EAI), bisnis yg dikembangkan Tariq bisa disebut telah menjadi pemimpin pasar di bidangnya.

Edible Arrangements pertama kali didirikan pada 1999 dengan toko bunga pertamanya yang didirikan di East Haven, Connecticut. Jika ditelusuri, ada tiga tren warga Amerika yg menginspirasi Tariq membuka usaha tersebut. Ketiga tren yang saling kait tersebut adalah peningkatan konsumsi warga Amerika akan buah-buahan segar, semakin menjamurnya toko-toko buah, serta meningkatnya pengeluaran warga Amerika untuk membeli hadiah.

Faktanya, insting bisnis lelaki yang sudah diperkenalkan dengan dunia entrepreneur sejak usia 17 tahun tersebut terbukti tepat. Sepuluh tahun sejak awal pendiriannya, Edible tercatat mampu meraih pendapatan senilai USD19,4 juta (Rp184,3 miliar) pada 2008. Angka tersebut jelas bernilai berkali-kali lipat dari modal awal yg digunakan Edible sebesar USD100.000 (Rp950 juta).

Malah, Edible terhitung telah mampu balik modal dalam kurun waktu enam bulan sejak awal didirikan. Berkat kesuksesannya, Edible mendapat anugerah sebagai salah satu lembaga bisnis yg memiliki pertumbuhan cepat di Amerika oleh majalah Inc. Edible juga menjadi satu di antara bisnis franchise terbaik dalam majalah Entrepreneur Franchise 500.

Untuk franchise, Edible mulai mengembangkan sistem bisnis tersebut pada 2001 dgn membuka toko di Waltham, Massachusetts. Tak kurang dari 10 tahun, gerai Edible telah mencapai 800 buah tersebar di AS, Puerto Riko, Kanada, Inggris, Dubai, Qatar, Arab Saudi, dan pasar internasional lainnya.

Selain bergerak dalam bisnis utama, yakni merangkai buah dan franchise, unit bisnis lain yg juga dijalankan Edible adalah bisnis camilan buah dengan mengusung bendera Frutation. Didirikan pada 2006, Frutation menyediakan buah-buahan segar siap saji. Beragam menu disajikan Frutation seperti sup buah segar yang dibuat langsung di hadapan konsumen, jus buah segar, salad buah, es krim buah, dan buah yang dicelupkan ke dalam cokelat.

Semua produk berasal dari buah-buahan segar ditambah bahan-bahan alamiah lainnya. "Kerja keras dan pantang menyerah menjadi kunci saya meraih kesuksesan," terang Tariq tentang prinsip hidupnya.

Tariq memang dikenal sebagai sosok pekerja keras. Saat masih remaja dia pernah bekerja di gerai McDonald's untuk beberapa tahun. Dia menyerap banyak pelajaran tentang bisnis di gerai makanan cepat saji itu.

Tariq memulai pengalamannya dgn dunia entrepreneur saat berusia 17 tahun. Dia menggunakan uang pinjaman dari orangtuanya sebesar USD5.000 untuk mendirikan toko bunga. Usahanya terbilang sukses karena dalam kurun waktu dua tahun, empat toko lainnya berhasil didirikan.

Sumber : http://id.88db.com

Sukses Bukan untuk Gelar Sarjana Saja

Sebut saja namanya Agus anak ini hanya berbekal pendidikan SMP karena saat dia bersemangat mengenyam pendidikan ia harus pupus dan berhenti pada tingkatan SMP dikarenakan ayah dan ibunya terpaksa harus berpisah karena masalah ekonomi dan keluarga Agus yang hanya berbekal pendidikan SMP tersebut kemudian mencoba mengadu nasib untuk merantau ke Jakarta .

Agus kemudian mencari pekerjaan dengan tujuan untuk menimba pengalaman dan mencari uang di perantauan kota Jakarta seperti layaknya teman teman sedaerahnya. Agus yang berlatar belakang pendidikan hanya SMP tersebut kemudian di terima sebagai penjaga toko . Dua tahun berlalu Agus menjadi penjaga toko di sebuah toko peralatan perumahan di Kelapa gading Jakarta utara.

Dua kali berturut turut agus menjadi pemudik saat lebaran ia pun bisa berkumpul dengan ayah serta adiknya di kampung untuk bertemu dengan sanak saudaranya saat lebaran.

Agus memang menjadi harapan penopang ekonomi keluarganya yang telah tercerai antara ayah dan ibunya yang akhirnya hidup terpisah. Dua tahun sudah agus menjadi perantauan yang mengadu nasib berbekal ijazah SMP yang ia kantongi berusaha bekerja keras untuk memenuhi harapan ayahnya .

Hingga suatu saat ayah agus menderita sakit dimana agus harus menunggui karena adik perempuan dari agus juga berada di perantauan mencari uang sebagai baby sister , karena agus adalah anak pertama maka ia akhirnya mengalah untuk menunggui ayahnya lagi pula di rasakan oleh agus bahwa selama dua tahun menjadi perantauan ia tak segera mendapatkan hasil seperti yang di harapkan.

Rumah yang di tempatinya  malah semakin usang dan tak terawat karena bapaknya hanya tinggal sendirian sementara uang kiriman dari agus hanya habis untuk biaya hidup saja.

Memang susah yang di alami agus , mestinya banyak juga agus yang lain yang ketika sekedar mengandalkan ijazah SMP kemudian untuk membekali diri mencari pekerjaan di Jakarta , tentu saja harus di akui paling banter yah jadi penjaga toko, tukang kebun , office boy atau sekelasnya yang sudah barang tentu dengan gaji yang sekedar pas untuk hidup , dan jikala harus sebagai penopang keluarga nya yang di kampung tentu saja tidak akan mencukupi.

Agus yang hanya berbekal Ijazah SMP tentu saja tidak mungkin bersaing di perantauan seperti teman teman yang lain sedesanya yang rata rata mengantongi ijazah SLTA dan mampu bekerja di Pabrik maupun perusahan perusahaan yang lumayan bergensi dan mampu memberi gaji yang cukup.
Belum lagi Agus harus berbagi pikiran untuk mengurus ayahnya yang sendirian di rumahnya tentu sangat lah dilematis apa yang di alami Agus.

Agus akhirnya memberanikan diri untuk menggaduh ( memelihara dengan sistem bagi hasil dari investor ia hanya merawat dan dapat separuh dari keuntungan ), Agus kemudian menggaduh ternak kambing dan menyederhanakan pola pikirnya untuk beternak kambing etawa walaupun di awali dengan system gaduh, karena Agus belum memiliki modal untuk membeli kambing.

Pada awal ia menggeluti peternakan memang masih terlalu kaku dan banyak hal yang ia harus pelajari dalam usaha beternak kambing etawa namun lama kelamaan ia menemukan  dunianya .
Hanya butuh beberapa jam dalam satu hari untuk mengurus ternaknya tentu saja ia tetap bisa melakukan pekerjaan yang lain seperti mengurus kebun dll simpelnya ia menjadi petani dan peternak untuk keseharian nya.

Hari hari ia nikmati sebagai seorang peternak kambing etawa dan sebagai petani, tanpa terasa dua tahun sudah ia benar benar menjadi peternak kambing yang cukup mampu dalam segi pengetahuan di bidang peternakan kambing etawa yang berawal dari menggaduh,  kini sedikitnya telah memiliki 8 ekor kambing di luar jatah kambing yang ia pergunakan untuk memperbaiki rumah serta mencukupi kehidupan sehari hari dan prestasi yang lain kini agus telah mampu membeli kendaraan roda dua sendiri selayaknya para remaja di kampung kami untuk mobilitas kegiatan nya sehari hari.

Belum lagi di sisi lain agus telah banyak memiliki pohon mahoni serta kekayuan seperti albasiah yang ia tanam di selasela ia mengurus kambing yang juga merupakan aset kekayaan ekonomi untuk dirinya.

Agus memang tak lagi menenteng ijazahnya yang sekedar tamatan SMP untuk mencari pekerjaan, namun hari ini ia telah mampu menunjukan pada setiap orang yang pernah melecehkan dalam kehidupannya karena hanya berijazah SMP namun tetap bisa eksis untuk mandiri mengidupi diri dan keluarganya tanpa bergantung pada majikan atau perusahaan .

Agus akhirnya tetap mensyukurinya walau ia berijazah SMP, namun dalam benaknya selalu tertanam pikiran selagi ia mau belajar dan mau mempelajari apapun ia tetap bisa untuk mengikuti perkembangan dunia Technologi atau pun ilmu yang lain , dan iapun dengan rajin mengikuti perkembangan Internet walau bermula dari sekedar Face book kemudian merambah ke dunia blogg  .
Dua tahun berlalu sudah ia menjadi peternak dan petani memang mungkin belum terlalu nampak segnifikan kesuksesanya namun jikala kita perbandingkan dengan teman teman sedaerahnya yang berijazah di atas SMP ia masih mampu untuk mensetarakan dirinya baik secara ilmu pengetahuan maupun strata social ekonomi.

Hidup ini memang untuk belajar dan putuskan rantai kemiskinan dari belajar sebab jikala kita tidak mau belajar alias malas akhirnya akan menjadi bodoh setelah bodoh menjadi malas kemudian menjadi tidak mampu dan berlanjut menjadi miskin berakhir menjadi putus asa   …..putuskan rantai itu dari belajar

Tamatan SMP mungkin di anggap pendidikan yang masih menengah, namun itu hanyalah sekedar ijazah formal, bagi yang tak mampu sekolah secara formal tentu saja jikala mereka mau belajar tetap mampu untuk mengikuti perkembangan ilmu di manapun.
Hari ini Agus masih dalam perjalanan untuk menjadi pengusaha  dan itu tidak menutup kemungkinan Agus akan benar benar menjadi peternak handal atau pengusaha Yang besar dalam bidang peternakan serta  mumpuni  dalam bidang usaha peternakan walau ia hanya berijazah SMP. Kisah ini didasari kisah nyata Agus dalam perjalanan dan di tujukan untuk memotivasi teman teman yang harus putus sekolah di SMP.

Agus sangat dekat dengan saya dan hampir setiap hari juga meluangkan waktunya untuk merenangi dunia maya mudah mudahan dia akan menemukan bagian hidupnya di dunia maya juga.

Sumber : gunungkelir.com/