Rabu, 28 November 2012

Dari Karyawan Kini Miliki Perusahaan


Siapa yang membayangkan orang yang dulunya bekerja di bagian produksi pabrik Toyota Astra Motor (TAM) bisa mengubah nasibnya menjadi rekanan yang memasok komponen pada perusahaan otomotif terbesar di Indonesia tersebut?

Mungkin ada, tidak tidak terlalu banyak. Dan salah satunya adalah Nur Dahyar. Nur—demikian ia biasa dipanggil-membuka usaha pallet setelah “mencuri” ilmu di TAM selama 9 tahun. Saat ini pallet buatan perusahaannya tidak saja digunakan memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga diekspor ke luar negeri. “Sejak awal saya memang mempunyai rencana menjadi pengusaha,” ujarnya.

Pada saat bekerja di Toyota tahun 1978 ia hanya berbekal ijazah SLTP. Namun keinginannya menjadi seorang pengusaha tidak pernah mati, sembari bekerja di Toyota pada malam harinya ia bersekolah SMA hingga lulus Akademi D3 komputer. Ketika bekerja di Toyota, ia pun bertekat menguasai semua bidang sehingga ia minta kepada atasannya supaya di-rolling dari satu bidang ke bidang lain.

Maka sejumlah bidang di industri otomotif ini sudah ia jalani. Mulai dari bidang pengelasan, press, pengepakan, pergudangan dan lainnya. Setelah ia memperoleh cukup ilmu akhirnya ia keluar untuk mendirikan perusahaan kecil-kecilan.

Secara kebetulan ketika di Toyota ia kenal dengan Setiadi, seorang teknisi mesin yang bekerja di PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Hubungan pertemanan ini berlanjut menjadi hubungan bisnis. Nur Dahyar lalu mendirikan perusahaan yang diberi nama PT Nuansa Raya Dinamika (NRD) tahun 1997.

Modal awal pengembangan usaha NRD berasal dari pinjaman BNI sebesar Rp 50 juta. Pertama kali memperoleh order dari Pelindo lewat jasa temannya tersebut. Proyek yang ditanganinya adalah pembuatan 9 pemancar lampu (tower) senilai Rp 135 juta yang dilaksanakan dalam beberapa periode.

“Pada bulan pertama NRD menyelesaikan order sebesar Rp 15 juta tetapi biaya yang dikeluarkan sebanyak Rp 25 juta,” ujarnya. Hal ini wajar mengingat NRD harus menginvestasikan mesin dan peralatan lain. Setelah memiliki prospek yang baik koleganya tersebut mengajukan pensiun dini agar bisa fokus dalam mengembangkan perusahaan tersebut. Pada mulanya 100 persen saham dimiliki Nur Dahyar tetapi setelah Setiadi bergabung komposisi kepemilikan saham fity-fifty.

“Kami membina hubungan berdasarkan prinsip saling percaya, walaupun sering kali beda pendapat tetapi sampai sekarang masih bisa bertahan,” kata Setiadi. Jika Dahyar lebih menguasai proses produksi maka Setiadi menangani yang berkaitan masalah keuangan. Pembagian tugas yang jelas menyebabkan masing-masing orang tahu apa yang harus dilakukan dan bidang apa yang harus dikerjakan.

Beralih ke Besi/baja
Semula NRD memproduksi pallet yang terbuat dari kayu tetapi mulai tahun 2001 beralih dengan bahan baku dari besi/baja. Sejak tahun 2002 pallet buatan NRD semua berasal dai besi/baja. Hal ini disebabkan negara seperti Malaysia dan Australia sudah tidak mau menerima pallet yang terbuat dari kayu karena menciptakan masalah lingkungan.

Saat ini produk yang dihasilkan NRD tidak saja pallet baja tetapi juga peralatan konstruksi baja dan mesin-mesin sederhana. NRD telah berkembang menjadi tiga pabrik kecil yang menempati wilayah seluas 2560 meter persegi di daerah Semper. 55 persen produksi NRD untuk memasok kebutuhan Toyota sedangkan 45 persen kepada pelanggan lain. Tercatat beberapa perusahaan seperti PT Maersk Line, SCI, American Line, Mulia Keramik mengguanakan produk NRD.

Saat ini beberapa bank telah menyalurkan kredit pada UKM ini yakni Bank Niaga, Bank Permata dan Citibank. “Sekarang kredit yang bisa dikucurkan bisa mencapai Rp 1 miliar per bulan seiring dengan perkembangan perusahaan,” kata Setiadi. Ia merasa bersyukur karena omzet perusahaan yang semula hanya dibawah Rp 100 juta sekarang sudah mencapai Rp 14 miliar.

Setiadi memperkirakan omset perusahaan di akhir tahun bisa mencapai Rp 20 miliar. Meskipun masih mengandalkan produksi pallet baja tetapi produk-produk lain non-pallet akan ditingkatkan. Pada 2005-2007, NRD ingin masuk pada pengembangan produk komponen mesin. Rencananya 2007-2010 investasi peralatan dan mesin-mesin sudah bisa dilakukan dan akhir tahun 2010 sudah bisa berproduksi.

Khusus bahan baku perusahaannya dipasok oleh PT Krakatau Steel melalui 5 distributor dan pipa dari perusahaan Bakrie. Sejauh ini pasokan lancar sehingga produksi tidak terganggu. Namun penguatan dolar terhadap rupiah akhir-akhir ini menyebabkan kekhawatiran karena dampaknya sangat buruk bagi usahanya.

Sementara untuk jumlah karyawan terus meningkat dari tahun 1997 yang hanya Nur Dahyar dengan anggota keluarga saja. Tahun 1998 berjumlah 7 orang sekarang sudah berkembang menjadi 122 orang. Kebanyakan atau sekitar 78 orang merupakan lulusan smu, 3 dari akedemi, 6 orang univeritas dan sisanya pendidikan SD dan SMP.

Jepang ingin masuk
Setelah melihat prospek bisnis yang baik maka ancaman terbesar yang dihadapi perusahaan adalah rencana perusahaan Jepang melakukan investasi di sektor ini. Hal inilah yang dikhawatirkan karena bisa mengancam eksistensi NRD. Namun kebijakan Toyota yang tetap ingin mempertahankan partner lokal menyebabkan mereka belum bisa masuk.

Tetapi indikasi perusahaan Jepang ingin masuk ke sektor ini sudah ada. “Kami meminta pemerintah memperhatikan ini sebab secara modal dan teknologi mereka pasti tidak kalah,” kata Dahyar.

Sebelumnya tahun 2004 NRD juga terancam setelah produk-produk bajakan dengan harga murah dari Cina diselundupkan melalui berbagai pelabuhan. “Modusnya mereka bekerja sama dengan beberapa orang aparat bea cukai untuk meloloskannya,” ujarnya.

Sumber : gustinaby.multiply.com

Christopher Gardner


Selalu bekerja keras dan tidak mau menyerah, rangkaian peristiwa di awal tahun dekade 1980 membuat Gardner tanpa rumah di San Francisco dan menjadi orang tua tunggal dari anaknya yang masih kecil yang masih belajar berjalan. Tidak ingin menyerahkan anaknya dan mimpinya tentang bebas dari masalah keuangan, Gardner mulai dari dasar. Tanpa koneksi dan tanpa gelar universitas, ia mendapatkan tempat sebagai peserta pelatihan di Dean Witter Reynolds program pelatihan. Sering tinggal di gereja atau kamar mandi di Bay Area Rapid Transit station di Oakland. Gardner adalah satu satunya peserta pelatihan yang ditawari pekerjaan di Dean Witter Reynolds pada tahun 1981. Dia bekerja dari tahun 1983-1987 di Bear Steams & Co., dimana dia menjadi pekerja dengan penghasilan tertinggi, dan kemudian di tahun 1987, dia mendirikan perusahaan broker dengan nama Gardner Rich & Co di Chicago.

Lahir pada tanggal 9 Februari 1954 di Milwaukee, Wiskonsin, Gardner tidak pernah mengenal ayahnya. Dia tinggal dengan ibunya, Bettye Jean Gardner, yang dia kagumi, dan jika diharuskan tinggal di rumah penampungan. Walaupun dihadang dengan kesulitan hidup dan peristiwa yang menakutkan secara emosi, ibunya menurunkan secara genetik semangat jiwa yang kuat dan memberikan pelajaran kepadanya beberapa pelajaran terhebat di kehidupannya, yang sampai sekarang masih diikutinya. Bettye Jean meyakinkannya bahwa apapun latar belakangnya dan darimana asalnya, ia dapat mencapai apapun tujuan yang ia tetapkan untuk dirinya dengan mengatakan “Jika kamu menginginkan, suatu hari kamu bisa mendapatkan satu juta dollar.” Gardner percaya ini sebagai kenyataan, dan ia perlu menemukan karir yang paling ia minati dengan hasrat menggebu, dan dimana karir itu bisa membuatnya “menjadi kelas dunia dalam sesuatu yang dikerjakannya.”

Langsung dari SMA, Gardner mendaftar di angkatan laut, sama seperti pamannya, sebagai model yang diikutinya, pernah lakukan. Setelah tugas militer, Gardner pergi ke San Francisco dan mengambil pekerjaan sebagai wiraniaga keliling barang untuk peralatan kedokteran. Kemudian ia sampai pada titik kehidupan yang akan merubah nasibnya. Di tempat parkir, ia bertemu dengan seseorang mengendarai mobil Ferrari berwarna merah. “Ia sedang mencari tempat parkir. Saya berkata ‘Kamu boleh mendapatkan tempat saya, tetapi saya harus bertanya dua pertanyaan.’ Dua pertanyaan itu adalah: Apa pekerjaan kamu? Dan bagaimana kamu melakukannya? Ternyata orang itu adalah seseorang penjual saham dan penghasilannya adalah sebanyak $80.000 sebulan.”

Kejadian yang sangat mempengaruhi hidupnya itu membuat Gardner mempunyai tujuan karir yang jelas dan dia mulai mengetuk pintu pintu, mendaftar sebagai peserta pelatihan di perusahaan penjual saham walaupun untuk itu ia harus hidup hampir tanpa apapun ketika ia belajar. Ketika ia akhirnya diterima di program pelatihan itu, ia meninggalkan pekerjaannya sebagai wiraniaga penjual peralatan kedokteran. Tetapi rencananya hancur berantakan ketika orang yang menawarkan program pelatihan tersebut dipecat, dan Gardner tidak mempunyai pekerjaan dimana ia bisa kembali bekerja. Kemudian ia dimasukan ke penjara karena tidak bisa membayar denda parkir sebanyak $1,200. Isterinya meninggalkannya dan Gardner, walaupun dengan situasi yang sangat sulit, berjuang untuk terus mempertahankan anaknya karena seperti katanya, “Saya membuat keputusan dalam pikiran saya sebagai anak yang masih muda bahwa jika saya mempunyai anak, maka anak anak harus tahu ayahnya, dan anaknya tidak boleh pergi kemanapun.”

Akhirnya setelah berjuang untuk masuk sebagai peserta pelatihan di Dean Witter Reynolds, upahnya yang kecil sebagai peserta pelatihan berarti ia, seperti banyak pekerja yang miskin di Amerika, mempunyai pekerjaan tetapi tidak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Teman teman kerjanya tidak pernah tahu bahwa ia melewatkan waktu sorenya untuk mencari day care (tempat perlindungan sosial untuk anak atau orang tua), mencari makanan dan tempat yang aman untuk ia dan anaknya tidur. Setelah tinggal di WC terkunci berhari hari di stasiun kereta api di Oakland, Gardner membujuk pendeta Cecil Williams, pendiri program baru untuk perlindungan wanita yang tidak mempunyai rumah di gereja Glide Memorial United Methodist, agar ia dan anaknya bisa tinggal di tempat itu.

Gardner lulus ujian untuk mendapatkan sertifikat pada tahun 1981 dengan sekali coba. Dia datang awal, pulang lambat dan bekerja dengan telepon hari demi hari untuk mendapatkan pelanggan baru. Dia dan anaknya mendapatkan apartemen dan pada tahun 1983 bergabung dengan Bear, Stearns & Company. Setelah menjadi seorang penjual dengan penjualan tertinggi di San Francisco dan kemudian di New York, Gardner keluar dan membuat perusahaan Gardner Rich & Company, Inc., sebuah institusi perusahaan broker yang spesialisasinya pada penagihan hutang, modal dan produk produk turunan transaksi untuk beberapa institusi terbesar, perencanaan pensiun umum dan serikat serikat pekerja. Perusahaannya telah diperluas dengan Christopher Gardner International Holdings dan sekarang mempunyai proyek usaha bisnis yang sedang dilakukan di Afrika Selatan.

Gardner mengulurkan tangannya ke banyak program untuk melayani orang tanpa rumah, memberikan waktunya, pertolongan, dan dana. Terbanyak diantaranya adalah gereja Glide United Methodist di San Francisco dan The Cara Program di Chicago. Di Glide, Gardner menolong pengumpulan dana, menyumbangkan pakaian pakaian dan sepatu sepatu, dan berbicara pada pelayanan pelayanan dan acara acara khusus. Dia juga terlibat di sebuah rencana untuk me revitalisasi dan menyediakan perumahan di sekitar Glide. Di Cara, tempat untuk membantu tuna wisma dan di tempat dengan populasi beresiko tinggi seperti Chicago dengan program program pelatihan bekerja dan penempatan, Gardner berbicara di sesi konseling, membantu dengan penempatan pekerjaan, dan juga menyumbangkan pakaian dan sepatu sepatu.

Gardner melayani sebagai anggota dewan dari National Fatherfood, dimana misinya adalah untuk memajukan kesejahteraan anak anak dengan meningkatkan proporsi anak anak yang sedang tumbuh dengan ayah yang terlibat, bertanggung jawab dan ayah yang berkomitmen. Gardner adalah salah satu dari grup yang menerima penghargaan sebagai Father of the Year Award pada tahun 2002.

Gardner terutama sekali berkomitment kepada organisasi pendidikan. Dia melayani sebagai anggota dewan dari National Education Foundation dan memberikan sponsor dua penghargaan tahunan: the National Education Association’s National Educational Support Personnel Award and the American Federation of Teachers’ Paraprofessionals and School-Related Personnel (PSRP) Award. Dia juga ikut terlibat dengan serikat guru di Chicago, memberikan sponsor untuk aktivitas aktivitas dan piknik atau study tour untuk sekolah publik bagi anak anak di Chicago.

Selain dari penghargaan tahunan sebagai ayah teladan, Gardner juga diberikan penghargaan oleh komisi penyerangan terhadap wanita di Los Angeles(LACAAW) dengan penghargaan 25th Annual Humanitarian Award, dan oleh Continental Africa Chamber of Commerce with the 2006 Friends of Africa Award.
Cerita yang mengagumkan dari perjuangan Chris Gardner, kepercayaan, jiwa kewirausahaan dan devosi seorang ayah telah melontarkan ia jauh dari kemasyuran yang ia temukan di Wall Street (tempat bursa efek seperti BEJ). Dia telah di wawancarai di acara “Evening News with Dan Rather,” “20/20,” “Oprah,” “Today Show,” “The View,” “Entertainment Tonight,” CNN, CNBC, Fox News Channel dan juga menjadi subjek berita sebagai profil di banyak surat kabar dan majalah termasuk People, USA Today, Associated Press, New York Times, Fortune, Jet, Reader’s Digest, Trader Monthly, Chicago Tribune, San Francisco Chronicle, The New York Post dan the Milwaukee Journal Sentinel. Dia juga menjadi pembicara yang sering dicari.

Sumber : tokohdunia.com

Sukses Bisnis Garam


From zero to hero!” ungkapan inilah yang paling pas untuk menggambarkan lika-liku perjalanan Sanim (60), seorang laki-laki paruh baya asal Kabupaten Cirebon yang dulunya hanya berprofesi sebagai tukang becak. Kini Ia bisa sukses memiliki dua pabrik dan hidup serba berkecukupan dari bisnis garam yang Ia tekuni bersama sang istri tercinta.
Menggantungkan nasib keluarganya dari kayuhan becak yang Ia geluti selama bertahun-tahun, pada akhirnya Sanim terdorong untuk mengubah nasibnya dan melamar pekerjaan di sebuah pabrik garam yang berada di persimpangan Jalan Cirebon, tempat dimana Ia sering mangkal untuk mendapatkan calon penumpang. Dari sinilah, ayah empat anak ini menimba ilmu tentang cara membuat garam krosok.
Setelah dua bulan lamanya Ia mencoba peruntungan sebagai buruh pabrik, Sanim pun memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan membangun pabrik garam di belakang rumahnya. Ia menyadari bahwa peluang bisnis garam menjanjikan keuntungan yang cukup besar bagi pelakunya. Sebab, garam tidak hanya dibutuhkan sebagai penyedap atau bumbu dapur saja, namun juga dibutuhkan untuk memenuhi keperluan industri, pertanian, bahkan sektor perikanan.
Memanfaatkan empang peninggalan orang tuanya, Sanim menggandeng sang istri untuk mencoba memproduksi garam dan memasarkannya ke pasaran. Tak disangka-sangka, garam buatan Sanim diterima pasar dengan baik dan mengalami perkembangan usaha yang cukup pesat.
Bila awalnya mereka memanfaatkan halaman rumah belakang sebagai tempat produksi, kini seiring dengan perkembangan omzet yang semakin besar. Ia bisa membeli sebidang tanah yang lebih luas, dan mendirikan sebuah pabrik yang memproduksi aneka jenis garam kebutuhan para konsumen. Sebut saja seperti garam krosok (garam non-yodiom), garam dapur yang biasa dikonsumsi kalangan masyarakat, serta garam industri yang banyak dipasarkan ke pabrik-pabrik tekstil.
Dalam setahun, sedikitnya pabrik Sanim bisa memproduksi garam sebanyak 2.000 ton. Selain itu, Ia juga membeli garam-garam dari para petani di sekitar Cirebon untuk memenuhi permintaan pasar yang semakin hari semakin besar. Sehingga tidak heran bila omzet bisnis garam tersebut kini bisa melonjak tajam, hingga mencapai Rp 400 juta setiap tahunnya.
Tak hanya itu saja, merasa belum puas dengan kesuksesan yang Ia raih. Sanim pun mencoba melakukan ekspansi usaha, dengan mendirikan pabrik pupuk organik. Ia mencoba membuat pupuk jenis KCL (kalium clorida), yang berfungsi meningkatkan unsur hara kalium di dalam tanah.
Kerja keras dan ketekunan Sanim dalam merintis usahanya, kini mengantarkan keempat anaknya menjadi seorang sarjana dan mengubah hidup Sanim yang awalnya serba pas-pasan menjadi seorang juragan garam yang kehidupannya serba berkecukupan. Semoga kisah inspiratif yang mengangkat seorang mantan tukang becak menjadi pengusaha sukses setelah terjun di bisnis garam  ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca dan memotivasi seluruh kalangan masyarakat untuk segera memulai usaha dan meraih kesuksesannya. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses.
Sumber : bisnisukm.com

Warteg Sukses Milyaran


Cerita pemilik warung tegal (warteg) meraih sukses selama merantau di Jakarta memang bukan hal yang baru. Pasalnya, hampir tiap Lebaran mereka pulang ke kampung sembari membawa simbol-simbol kemewahan untuk ukuran desa atau kelurahan seperti mobil mewah dan segepok uang.

Namun, siapa sangka bahwa kesuksesan itu mereka raih dengan keringat dan perjuangan yang panjang. "Ya biasa, orang melihat kami ini berhasil dari sisi usaha, tapi lihat saja 20 tahun lalu, kami hidup untuk makan saja sulitnya minta ampun," tutur H Karjo (53), warga Kelurahan Kalinyamat Kulon, Margadana, Kota Tegal.

Ya, boleh jadi pandangan sebagian kalangan bahwa pemilik warteg itu dibilang sukses memang tidak semua keliru. Suara Merdeka ketika bertandang ke rumah H Karjo sempat melihat, kendati dari bagian depan tampak sederhana, di garasi rumah terdapat mobil jenis Kijang berjejer. Apalagi, dia kini sedang membangun rumah senilai hampir Rp 1 miliar.

Konon, menurut keterangan saudaranya, H Asmawi Azis yang merupakan tokoh masyarakat setempat, dia kini sedang membangun rumah untuk enam anaknya. Tentu saja rumah yang dibangun mencapai miliaran rupiah. Hal itu juga dikuatkan oleh rencana dia seusai Lebaran ini memenuhi nazarnya menanggap wayang golek dengan dalang terkenal Ki Enthus Susmono.

"Sudah, baru saja, dan itu untuk memenuhi nazarnya karena sudah selesai membangunkan rumah untuk enam anaknya. Jadi, dia merasa tidak memiliki beban lagi," kata Asmawi. Benarkan demikian? H Karjo yang didampingi istrinya, Hj Siti Fatimah (44), kelihatan tidak ingin melebih-lebihkan. Kendati demikian, dia mengakui kehidupannya sekarang lebih ringan, tidak punya beban yang terlalu berat.

Dengan balutan sarung dan kaus oblong, dia lebih suka berbicara tentang kisah masa lalunya. Seingat dia, kali pertama menapakkan kaki di Jakarta pada tahun 1972 dalam rangka merintis usaha warteg harus dia awali dengan menjadi pedagang asongan.

"Kalau boleh dibilang, banyak dukanya pada saat itu. Apalagi setelah menjadi pedagang asongan, saya ngenger (ikut) di tempat usaha warteg orang lain. Ketika itu, saya hanya dibayar Rp 60.000 per bulan. Bahkan, kadang hanya dibayar jam tangan dan topi laken. Itu saja senangnya minta ampun," kenang dia.

Hidup merantau itu dia jalani hingga tahun 1985. Dia kemudian banting setir, bersama istrinya mendirikan warteg kecil-kecilan di wilayah Glodok, Jakarta Barat.

"Ya, kami waktu itu biasa tidur menyatu dengan dapur. Bahkan, kalau mau tidur harus mematikan kompor dulu karena lantainya panas. Itu pun warungnya kontrak Rp 60.000 per tahun. Sekarang sampai Rp 9 juta," ujarnya.

Kondisi tersebut dia jalani dari waktu ke waktu. Suka duka menjadi pengusaha warteg telah cukup untuk menjadi bekal mengembangkan usahanya hingga sekarang. Dengan modal ketekunan, H Karjo kini memiliki tiga warung yang cukup besar, satu di daerah Kemurnian, Jakarta Barat, dua warung di Glodok.

"Ya, alhamdulillah. Berkat karunia Allah, usaha saya sekarang cukup baik. Kadang-kadang artis juga sempat mampir ke warung saya. Misalnya almarhum Taufik Savalas, Mpok Atik, dan Gogon. Yang penting, prinsip kerja yang baik dan halal," tutur bapak dari enam putra itu. Musim Lebaran bagi H Karjo sekeluarga merupakan waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga di kampung.

"Ya, beginilah kondisinya. Namanya saja orang merantau, bisa ngumpul keluarga hanya saat Lebaran seperti sekarang ini," ungkapnya. 

Sumber : amieryess.pengusaha.com

Sukses Aritoteles Onassis

Aristoteles Onassis dilahirkan pada tanggal 20 Januari 1906 di Simyrna, sebuah kota Yunani yang makmur di pantai Barat Turki. Di antara kesepuluh orang kaya kita, Aristotle Onassis memiliki kekayaan luar biasa, yang dihitung dalam miliaran, bukannya jutaan. Kemasyhuran namanya masih ditambah lagi dengan hubungannya yang penuh gejolak dengan Maria Callas, penyanyi opera yang terkenal, dan kemudian dengan Jacquiline Bouvier Kennedy. Dan seperti lazimnya, berbagai kisah yang dilebih-lebihkan atau setengah dongeng telah beredar, mengenai dia, terutama mengenai asal-usulnya yang sederhana. Konon, ia lahir dari sebuah keluarga miskin, yang hidupnya selalu kekurangan. Konon, ayahnya adalah penjaja dagangan buatan sendiri dari pintu ke pintu, dan ibunya pembantu rumah tangga. Onassis tidak pernah mencoba meluruskan pendapat orang banyak tentang masa lalunya, sekurang-kurangnya dimuka umum, karena kisah-kisah seperti itu biasanya malah menambah cemerlang aura misteri yang mengelilingi dirinya. Ia selalu menyadari pentingnya citra diri seseorang dalam meraih sukses, suatu hal yang akan kita bicarakan lagi nanti. 

Dalam kenyataan, ayah Onassis adalah seorang pedagang grosir yang berkecukupan dan mempunyai nama sebab ia juga menjabat presiden sebuah bank dan rumah sakit setempat. Namun Onassis bukan ahli waris kekayaan ayahnya, dan ia menjadi kaya karena kekayaan keluarganya. Seperti yang akan kita lihat, ia pergi ke Amerika Serikat ketika terjadi pertikaian keluarga selagi ia berumur 17 tahun. Ia membawa bekal $450 dalam sakunya, itu pun hanya $250 adalah uang dari keluarganya. Ayahnya dengan enggan memberikan uang sebanyak itu yang baru diberikan pada saat akan terpisah, sebab ia tidak setuju dengan kepergiannya. Ayah dan anak memang tidak pernah akrab, suatu hal yang aneh di antara keluarga Yunani di tanah air. Ayah Onassis yang dibesarkan pada sebuah pertanian dengan susah payah mengumpulkan kekayaan. 

Wataknya sangat disiplin dan keras. Walaupun selalu sadar akan rasa tanggung-jawab, ia bukanlah seorang yang dapat disebut hangat dan menarik. 

Segera Onassis memberontak terhadap setiap bentuk disiplin. Sejak anak sampai remaja ia banyak menimbulkan keributan dan geger, duri di mata ayahnya. Hubungan mereka bertambah rumit lagi karena suatu kenyataan lain. Ibunya, Penelope, meninggal ketika Onassis baru berumur enam tahun. Hanya 18 bulan sesudah itu ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita bernama Helen. Onassis memandang ibu tirinya sebagai orang lain yang menyelundup, dan karenanya wanita ini tidak mendapat tempat sedikit pun di hatinya. 

Di sekolah, ia bodoh dan suka mencari perkara, mengikuti contoh banyak orang kaya. Tidak aneh kalau ia diusir dari beberapa sekolah. Ia paling sering menduduki ranking terbawah di kelasnya. Salah seorang gurunya berkata: 
Teman-teman sekelas memuja dia, tetapi gara guru dan keluarganya berputus asa. Selagi ia masih muda, dengan mudah orang dapat melihat bahwa dia akan menjadi seorang di antara mereka yang akan menghancurkan diri sama sekali atau sukses secara gilang-gemilang. 


Walaupun raport Ari di sekolah jauh dari bagus, bakatnya untuk berdagang dan mencari uang telah tampak sejak dini. Mungkin anekdot berikut dapat menerangkan. Salah seorang temannya yang telah merancang sebuah kitiran kecil, sebuah mainan sederhana yang terdiri atas baling-baling kertas berpasak jarum yang ditancapkan pada sepotong kayu. Bangga atas prestasinya, anak itu dengan berani membuat beberapa buah dan mencoba menjualnya. 
“Mau kau jual berapa kitiranmu ini?” tanya Onassis. “Eh…saya tidak tahu. Bagaimana kalau seharga jarum . 
“Dasar bodoh!” bentak Onasiss. “Kau minta satu jarum sedang yang kau jual satu jarum, tambah baling-baling, tambah kayu, belum lagi kau hitung waktu yang kau perlukan untuk membuatnya.” 


Teman Onassis mengambil kesimpulan: “Inilah pelajaran saya yang pertama tentang arti keuntungan.” Pada waktu itu tidak terpikir olehnya bahwa ia sedang mendengarkan pelajaran dari seorang jago uang masa mendatang. Sebuah kisah lain menggambarkan bakat bisnis Onasis pada masa mudanya. Pada suatu hari, suatu kebakaran terjadi di gudang sekolah di kota tempat kelahirannya. Onasiss membeli seonggok pinsil bekas kebakaran itu dengan harga murah. Ia menanamkan sedikit modal dengan membeli dua ala peruncing pinsil. Ia, berdua dengan temannya, mulai membersihkan bagian-bagian pinsil yang hangus. Kemudian ia menjual pinsil-pinsil itu kembali kepada teman-teman di sekolah dengan harga sangat murah, namun tetap memberikan untung cukup besar. Mungkin contoh ini biasa-biasa saja, tetapi justru pekerjaan seperti inilah kelak bisnis besar Onassis. Ia memperbaiki kapal-kapal laut yang rusak dan membuatnya layak melaut, dan menjualnya dengan harga yang jauh lebih tinggi, tentu saja. Di sekolah, waktu berjalan terus, tetapi Onassis tidak bertambah maju. Tahun 1922 mulai tidak menyenangkan. Banyak teman sekelasnya pergi untuk menuntut ilmu di universitas-universitas besar di Eropa. Tetapi Onassis sendiri tidak lulus. Masa depan tampak suram baginya. Beberapa hari setelah upacara penyerahan ijazah, salah seorang temannya melihat Onassis berjalan tanpa tujuan di taman kota. Ia mencoba menghibur hati Onassis. 


“Jangan khawatir, Aristotle, kau lihat nanti, semua akan beres. Kau coba sekali lagi tahun depan. Kau pasti lulus. “Goblok,” jawab Onassis. “Kau kira saya akan tinggal saja selamanya di sini? Dunia ini sempit. Saya tidak perlu ijazah. Pada suatu hari kau akan heran akan apa yang saya lakukan.” Waktu membuktikan bahwa omongan Onasis bukanlah lelucon belaka. 

Pada tahun 1922, invasi Turki menimbulkan bayangan gelap pada masa remaja Onassis yang penuh gejolak. Smyrnba diduduki dan warga kota dibabat habis tanpa belas kasih. Ayah Onassis, seorang tokoh yang terkenal luas, dipenjarakan dan Ari menjadi kepala rumah tangga pada usia 16 tahun. Ini masa yang sulit baginya. Dan pada masa ini ia menerapkan kehebatannya sebagai diplomat dan kemampuannya untuk bertahan dalam keadaan apa pun. Masa yang sulit ini justru merupakan pengalaman yang tepat untuk membentuk wataknya. Sesudah malapetaka Smyrna berlalu, Ari adalah Ari yang lain dari sebelumnya. Segala sesuatu yang dialaminya tidak pernah hilang dari ingatannya; kenangan-kenangan itu disertai suatu kesadaran akan kemampuannya untuk bertahan. Ia telah mempertaruhkan diri dan menang. Dewi fortuna memihak pada kaum yang berani dan ia pusatkan visinya tentang dunia atas pengetahuan tersebut. 

Onasis yang memetik manfaat dari pendudukan Turki untuk berbisnis. Ia menyelundupkan minuman keras ke Tentara Turki, dengan maksud merebut hati para jenderal agar mau membebaskan ayahnya, yang bagaimana pun harus meringkuk dalam penjara selama setahun. 

Sukses Onassis sangat tergantung pada daya tarik pribadi dan kemampuannya mengadakan hubungan dengan umum. Beberapa orang sebayanya menyebut dia si bunglon. Memang ia pandai sekali menyesuaikan diri dengan semua orang yang dijumpainya. Pada umumnya, kalau kita membuat apa-apa menjadi mudah bagi orang lain, mereka akan bersimpati kepada kita, demikian pendapat Onassis.Pernah Onassis mengaku kepada Winston Churchill salah seorang kenalannya yang berjabatan tinggi, yang pada waktu itu sedang menjadi tamu di atas, kapalnya Christina, mengenai teori pribadinya tentang “keharusan sejarah” yang tercipta pada masa sulit. Pengalamannya telah mengajar dia bahwa bila alam memberikan suasana yang cocok dan makanan berlimpah, ia tidak mempunyai banyak energi dan kurang berinisiatif. Sebaliknya, orang yang didesak-desak “minggu” dan harus berjuang keras untuk tetap bertahan, dalam keadaan sulit akan lebih mungkin mampu menyesuaikan diri dengan segala keadaan. Dengan demikian ia akan tetap berhasil selagi orang lain mati karena adanya rancangan untuk bertahan. Demikianlah, menurut Onassis, kesulitan dan kemelaratan sering kali mendorong orang untuk menemukan sumber dayanya sendiri, yang tak diduga adanya sebelumnya, dan dengan demikian membuat dia maju dengan mendobrak hambatan dan keterbatasan pribadinya. Kisah hidup Onassis adalah sebuah gambaran yang baik sekali tentang prinsip tersebut. Socrates, ayah Onassis, tidak mau mengakui jasa anaknya dalam peranan yang dimainkannya selama masa pendudukan, dan tidak membiarkan dia meneruskan peranannya sebagai penanggung jawab keluarga. Onassis sangat sakit sekali karena perlakuan ayahnya ini dan, menurut pengakuannya, sampai berbulan-bulan sesudah itu sering kali dilanda rasa marah yang tanpa daya. Sikap ayahnya tak berterima kasih dan berkesan disingkirkan dari keluarganya memotivasi keputusannya untuk mencoba keberuntungannya di Amerika Selatan. Mula-mula, tentu saja ia berpikir untuk pergi ke Amerika Serikat, tetapi mendapatkan visa tidaklah mudah. Onassis mengalihkan perhatiannya ke Argentina: ia mendengar berita bahwa banyak orang Yunani sudah menjadi kaya di sana. 

Onassis mendarat di Buenos Aires pada tanggal 21 September 1923. Bawaannya sebuah koper tua dan uang sebanyak $450. Tetapi di dalam dirinya ia membawa bekal yang lebih berharga: tekad keras untuk membuktikan kepada ayahnya bahwa ia mampu menjadi kaya tanpa bantuan ayahnya. Rasa percaya diri ini akan dibawanya sepanjang hayatnya. 

Tanpa diploma, tanpa pekerjaan, uang dan koneksi orang berpengaruh, Onassis terpaksa mulai dengan melakukan aneka pekerjaan kasar. Ia menjadi kenek tukang batu, kuli pengangkut bata pada suatu proyek pembangunan, tukang cuci piring di restoran, dan akhirnya menjadi magang instalator listrik di River Plate United Telepchone Co. Bagi seseorang dengan ego yang sehat seperti dia, ini bukan prestasi yang pantas. 

Beberapa bulan sesudah memulai pekerjaan ini, Onassis minta dipindah ke giliran malam, dengan dalih bahwa ia harus mengerjakan beberapa hal di siang hari. Dengan ambisinya yang besar, Onassis tidak berniat menghabiskan banyak waktu untuk belajar menyolder kabel. 

Pada masa itu, tembakau Yunani terkenal baik, bahkan diklasifikasikan di antara tembakau-tembakau paling enak oleh para ahli. Namun, karena masalah pengimporan dan penyediaan, barang ini menjadi sukar didapat. Onassis menulis kepada ayahnya minta kiriman. Socrates setuju dan mengapalkan kiriman pertama sebagai sampel. Mula-mula hasilnya tidak menggembirakan. Onassis membawa sampelnya ke beberapa pabrik, dan minta agar ia dihubungi. 

Beberapa minggu berlalu tanpa berita. Kini Onassis mengerti bahwa seharusnya tidak membuang-buang waktu dengan mendatangi pabrik-pabrik kecil, tetapi harus datang ke yang besar sekalian. Untuk itu ia harus menemui Juan Gaona, kepada salah satu firma tembakau terbesar di Argentina. Selama 15 hari berturut-turut, Onassis tampak bersandar pada dinding gedung Gaona, untuk mengamati datang dan perginya bos itu. Akhirnya Gaona merasa tergoda juga oleh perilaku orang muda ini, dan ia mengundang Onassis ke kantornya. Onassis menyampaikan tawarannya dengan sebaik-baiknya. Gaona rupanya terkesan dan Onassis disuruh menghadap manajer persediaannya. Dengan memanfaatkan nama Gaona, Onassis berhasil membujuk orang itu untuk meneken kontrak pembelian tembakau seharga $10.000 dengan komisi biasa sebesar lima persen. Kelak, Onassis sering menyatakan bahwa uang komisinya yang sebesar $500 itu merupakan batu sendi kekayaannya besar. Ia tidak menggunakan uang itu untuk apa-apa, tetapi menabungnya di bank untuk jaga-jaga, ibarat sedia payung sebelum hujan. Dengan sikapnya yang hemat dan bijak, Onassis mencukupi hidupnya dengan hasil yang diperolehnya di perusahaan telepon, dan semua uang yang tersisa disimpannya, sehingga ia dapat terjun ke dunia bisnis tanpa meminjam uang kepada siapa pun. 

Onassis kadang-kadang terpaksa berutang sementara menunggu pembayaran dari pelanggan. Tetapi ia jarang meminjam lebih dari $3.000 dan selalu melunasinya secepat mungkin. Kelak, tentu saja, setelah menemukan gunanya uang Orang Lain (UOL), suatu hal yang akan kita bicarakan nanti, Onassis akan meneken kontrak pinjaman sampai sebesar beberapa juta dolar, dengan jadwal pengembalian sesudah beberapa tahun. Tetapi, adalah satu prinsip utama bila orang memulai suatu bisnis adalah mengembalikan utang secepat mungkin. Onassis membangun kepercayaan beberapa bank kepadanya: suatu hal yang akan sangat dia butuhkan pada tahun-tahun mendatang. 

Setelah bekerja pada giliran malam selama setahun, Onassis minta keluar dari United Telephone, dengan menyatakan bahwa ada suatu gagasan yang akan diikutinya. Impian barunya ialah membuat pabrik rokok. Untuk itu ia mempunyai modal $25.000 hasil tabungannya dengan tambahan pinjaman dari bank sebanyak itu pula. Kepercayaan bank sudah mulai tampak manfaatnya. Ia mempekerjakan 30 orang imigran Yunani. Usahanya dengan cepat bertambah besar tetapi tidak memberikan keuntungan yang diharapkanya. Segera Onassis menutup usahanya. Wirausahanya yang pertama gagal. Onassis tidak kehilangan semangat. Bahkan sebaliknya. Ia bertambah gigih. Sementara itu bisnis import tembakaunya masih tetap berjalan dengan keuntungan lumayan. 

Selama musim panas tahun 1929, pemerintah Yunani menaikkan pajak dalam beberapa bidang, termasuk untuk tembakau. Onassis memutuskan untuk menggunakan kesempatan ini untuk kembali ke Yunani untuk mencoba mendekati pihak yang berwenang. Mula-mula Menteri yang bersedia menerima dia memperhatikan kukunya sendiri daripada mendengarkan permintaan pedagang muda itu. Akhirnya ia potong kata-kata Onassis dan tiba-tiba saja ingin menghentikan pembicaraan itu. 

Ia menjawab:  
Terima kasih. Kalau kita kapan-kapan bertemu lagi, saya harap Anda lebih tertarik akan tawaran saya. Saya pikir Anda mempunyai banyak pekerjaan, tetapi tampaknya kuku-kuku jari Anda sudah cukup menyibukkan. Tangan Anda rupanya lebih penting daripada ekspor negeri kita. 

Kata-kata onassis ternyata mengena. Sang Menteri tampak terkesan, dan ia mulai berbicara secara serius dengan Onassis. Sesudah itu, negosiasi antara Yunani dan Argentina di buka kembali. 

Akhir tahun 1922 menandai suatu keputusan besar bagi kehidupan Onassis. Kegagalan pertamanya sebagai pemilik kapal tidak membuat ia mundur untuk tetap menanamkan uang dalam sektor itu. Ia sudah gandrung akan perkapalan. Ia tergerak oleh keyakinan batin bahwa kapal sajalah yang akan membawa dia ke jenjang sukses. Maka, dikumpulkannya semua uang miliknya, yang waktu itu sudah lumayan, lalu berangkat ke London. Ia baru berusia 26 tahun. Ia telah dikenal karena reputasinya sebagai seorang usahawan yang berani, apalagi setelah penunjukannya sebagai Konsul Jenderal Yunani di Buenos Aires. Namun fungsi diplomatik ini tidaklah menyita banyak waktunya. 

Pasar, yang menderita berat akibat jatuhnya pasar modal Wall Street tahun 1929, memberikan kesempatan baik bagi para penanam modal. Kapal-kapal menjadi murah, jauh di bawah harga semula. Langkah paling baik adalah membeli kapal-kapal berusia 10 tahunan. Kapal sebesar sembilan ton yang semula harganya $1.000.000, kini hanya laku dijual $20.000, kira-kira seharga sebuah Rolls-Royce. Apa yang dilakukan Onassis selagi masih kanak-kanak kini akan terulang, tetapi barang bekasnya adalah kapal. 

Walaupun kini bisnisnya di London. Onassis membeli kapal pertamanya, dua buah kapal tua masing-masing seharga $20.000, di Montreal. Kedua kapal yang bernama Miller dan Spinner, diganti namanya menjadi Onassis Socrates dan Onassis Penelope, sebagai tanda penghormatan kepada kedua orang tuanya. Untuk mendapatkan untung dalam bisnis perkapalan, pentinglah memperhatikan turun naiknya biaya muatan dan membuat keputusan yang tepat. Onassis mampu dalam hal ini. 

Lebih dari itu, ia seorang optimis yang tak pernah mundur. Dengan sifat petualang dan keberaniannya, ia segera menonjol di antara pemilik-pemilik kapal Yunani lain yang berpangkalan di London, karena tidak seperti mereka, ia tidak mempunyai pemikiran tentang krisis ekonomi. Mereka, ia tidak takut menanamkan uangnya. 

Kegesitan dan diplomasi bawaannya dengan cepat mengantar dia ke kalangan masyarakat kelas tinggi. Tidak boleh dilupakan, salah satu pelicin jalan dalam kenaikannya ke kelas elit adalah hubungan dengan salah satu wanita simpanannya yang pertama, si cantik dari Norwegia Ingeborg Dedichen, putri seorang pemilik kapal yang terkenal. 

Sifat lain yang memudahkan jalan Onassis adalah kemampuannya mendengarkan orang. Memang, keluwesan dan kefasihan bicara memainkan peranan penting dalam membujuk orang dan mendesak orang agar menerima gagasan kita serta kita sendiri. Tetapi tidak banyaklah orang yang tahu benar cara mendengarkan orang lain. Kebanyakan orang kaya dalam buku ini telah belajar keahlian tersebut, sehingga mereka tidak hanya selalu mengerti apa yang diketahui oleh lawan bicaranya, tetapi juga menyesuaikan diri dengan mereka. Demikianlah, agar mampu mempengaruhi orang dan mendapat jaminan bahwa mereka akan menolong dalam perjalanan menuju sukses, orang harus mulai dengan mengetahui siapakah orang yang dihadapinya. Onassis adalah seorang pakar dalam keahlian mendengarkan. Lord Moran, yang menulis buku The Great Onassis, mungkin karena dia sendiri tidak menggunakan keahlian ini, tidk menyebut-nyebut kemampuan Onassis untuk mendengarkan orang lain. Padahal semua orang yang pernah berhubungan dengan Onassis terkesan oleh kelebihan ini. Bila mereka berhadapan dengan Onassis, ia memberikan kesan bahwa mereka adalah manusia paling penting di dunia. 

Karena kemampuan ini, Onassis sebenarnya bisa menjadi ahli politik yang baik. Bakat ini dimanfaatkan benar oleh Onassis, seperti disaksikan oleh si cantik dari Norwegia dalam buku catatannya: 
Lelaki muda penuh pesona yang dapat menyesuaikan diri dengan segala keadaan ini meniru orang yang menjadi lawan bicaranya dengan begitu sempurna. Ada sementara orang yang menafsirkan kemahiran ini sebagai kecerdikan, orang lain menyebutnya sebagai kemunafikan dan menganggapnya kepandaian membunglon belaka. Tetapi saya percaya kepandaian mendengarkan adalah suatu cara khusus memberikan perhatian tulus kepada orang lain dan seluruh dunia. Kebetulan, selama hidupnya Onassis mempunyai rasa haus yang tak terpuaskan akan pengetahuan di samping daya ingatnya yang kuat. Ia mempunyai daya konsentrasi yang telah sangat berkembang. 

Kemampuan mendengarkan orang lain adalah salah satu ciri khas yang vital bagi setiap salesman yang baik. Itulah sebabnya Onassis adalah seorang salesman yang luar biasa. Walter Saunders, yang jelas bukan seorang yang naif karena dia adalah penasihat pajak bagi metropolitan Life, menggambarkan kesannya tentang pemilik kapal Yunani ini: 
Ada perasaan pada diri saya bahwa orang yang penuh semangat ini mampu menjual alat pendingin kepada orang Eskimo. Tetapi saya pun berperan bahwa setiap detail sudah dipersiapkan secara tuntas sebelumnya. Kebanyakan orang yang bertemu dengan Onassis merasakan pengaruh daya persuasifnya dan merasa bahwa Onassis tidak berimprovisasi dalam langkah-langkahnya, tetapi sudah mengetahui segala sesuatu dalam berkas catatannya sampai ke detail-detailnya. 

Pada penghujung tahun 1947, Onassis melewati ambang lain dalam kariernya yang gemilang. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia akan mulai secara sistematis menerapkan prinsip yang dikenal sebagai OPM (Other People’s Money, Uang Orang Lain UOL), dengan meminjam kepada Metropolitan Life Insurance Company sebesar $40 juta untuk membangun kapal-kapal baru. Sebagai siasat ia menggunakan sebuah perusahaan minyak sebagai mitra. Onassis akan mengangkut minyak mereka dan kontraknya akan tetap berlaku sampai habisnya batas waktu utang. Karena perusahaan minyak pada waktu itu sangat terandalkan, meminjam atas nama perusahaan itu sangat mudah. Dalam arti tertentu, badan keuangan meminjamkan uang kepada perusahaan minyak, bukan kepada Onassis. Onassis sering mengingat masa itu dengan berbangga diri. Dikatakannya bahwa perusahaan minyak yang kaya itu dalam hubungan dengan kapal-kapal Onassis adalah ibarat seorang penyewa dengan rumah yang dihuninya dengan membayar uang sewa. Kalau yang menyewa adalah Rockefeller, tidak menjadi soal apakah atapnya bocor atau bergenting emas. Kalau Rockefeller menyanggupi membayar uang sewanya, siapa saja bersedia memberikan pinjaman untuk mengurusi rumah itu. Keadaan itu berlaku pula untuk kapal-kapal Onasssis. 

Prinsip ini sekarang lumrah sekali. Prinsip inilah dasar segala investasi pembangunan real-estate. Bila seorang meminjam uang untuk suatu bangunan bisnis, bank sebenarnya meminjamkan uangnya kepada penyewa bangunan itu. Merekalah yang akan mengembalikan uangnya, terkecuali bangunan itu milik seorang penanam modal. Prinsip ini pada zaman Onassis tergolong revolusioner, dan keorisinal gagasan Onassis patut dipuji karena sebagian besar pemilik kapal Yunnai pada waktu itu berpegang pada prinsip: Mau dapat kapal, bayar uang kontan. 

Walaupun ia seorang inovator sejauh ia tidak menggunakan metode-metode para pesaingnya, ia bukanlah penemu OPM, walaupun mungkin ia menyatakan begitu. Konsep ini lahir dari otak Daniel Ludwig, seorang usahawan Amerika yang kaya. Dia telah mulai menanamkan uang dalam kapal armadanya bahkan jauh lebih unggul daripada milik Onassis dan kemudian beralih ke usaha real estate. Sudah sejak tahun 1930-an Ludwig mengembangkan apa yang kelak menjadi praktek biasa di mana-mana. Gagasan itu muncul dalam benaknya setelah sebuah Bank menolak permintaannya untuk meminjam uang yang akan digunakannya untuk membeli kapal dan merombaknya menjadi kapal tangki. Onassis meninggal pada tanggal 15 Maret 1975, tapi dalam menjelang akhir hayatnya ia minta kepada salah satu akuntannya apakah ia dapat mengatakan besarnya keuntungan yang dimilikinya secara cepat dengan pembulatan ke angka sepuluh dolar.


Sumber : ukafahrurosid.com

Betta Farah Ciptakan Lumpia Gudeg


Kota gede, adalah sebuah kawasan tua di Yogyakarta yang syarat akan sejarah Keraton Yogyakarta di masa lampau. Dulu, di perkampungan bekas ibukota kerajaan ini banyak terdapat saudagar pembuat perhiasan emas dan perak untuk para bangsawan keraton. Konon, salah satunya bernama Pak Tembong. Ia adalah saudagar kaya raya yang memiliki sejumlah aset gedung di sepanjang jalan yang kini dikenal sebagai Jalan Tegalgendu.
Itu cerita masa lalu. Kini, salah satu gedung tua nan artistik milik Pak Tembong sudah beralih tangan ke saudagar perak, Suryatin Anshor, pada tahun 1990-an. Bangunan tua nan megah itu kemudian bagian depannya dipergunakan untuk membuka toko perak bernama Anshor Silver.

Dalam beberapa tahun, cerita Betta Farah, SE , (29) putri bungsu Suryatin Anshor, gedung bagian belakang dibiarkan kosong, hanya dipergunakan untuk tempat istirahat para pelanggan yang berbelanja perak di toko ayahnya. “Saat beristirahat, tamu-tamu terlihat amat menikmati keindahan dan keanggunan rumah yang masih asli ini. Dari sinilah timbu keinginan kami untuk membuat sesuatu yang lain di rumah ini. Jadi tamu toko silver tidak sekadar istirahat saja,” terang ibu dua anak itu.

Perempuan lulusan Jurusan Manajemen STIE YKPN, Yogyakarta ini kemudian melakukan survei. “Akhirnya pilihan difersivikasi usaha ayah mengarah ke food and baverage . Saya lalu menemui konsultan dari Hotel Grand Hyat Jakarta yang sudah berpengalaman men-set up restoran seperti yang saya inginkan. Jasa konsultan ini penting agar perusahaan kami kelak bisa berjalan dengan baik,” tutur Betta saat menceritakan sejarah Restora Sekar Kedaton yang kini dikelolanya.

Pilihan nama restoran selanjutnya adalah Sekar Kedaton. Alasannya, lanjut Betta, “Ayah saya memang ingin punya kerajaan. Ha..ha..ha… Ayah saya itu pencinta seni. Beliau kolektor benda-benda antik dari keraton. Makanya ingin punya kerajaan sendiri. Kebetulan minat ayah dan minat saya sama. Suka benda seni. Saya memang tidak suka yang minimalis. Seiring berjalannya waktu, kami sampai pada pemikiran, kenapa tidak menjadi bunga dalam kedaton atau keraton? Akhirnya muncullah nama Sekar Kedaton, yang berarti bunga dari keraton. Logonya seperti bunga yang kini kami tempelkan di berbagai tiang atau sudut restoran. “

Setelah melakukan soft launching selama sekitar dua bulan, tepat pada tanggal 22 Januari, bersamaan dengan tanggal resepsi pernikahan Betta dengan Aldi Fadhil Dianto, Restoran Sekar Kedaton pun dibuka secara resmi. Perkiraan Betta tak meleset. Dengan mengundang 2000 tamu di acara pernikahannya, di antaranya para pemilik agen perjalanan yang sering membawa tamu ke toko perak ayahnya, Sekar Kedaton pun segera dikenal dan didatangi banyak orang. “Selanjutnya, rata-rata 70 persen tamu yang santap siang di Sekar Kedaton adalah wisatawan asing. Mereka datang seusai belanja perak. Selebihnya tamu lokal yang dinner menjamu tamu instansi atau perusahaannya.”

Mengingat tamu yang datang ke Sekar Kedaton kebanyakan wisatawan asing, Betta pun melakukan strategi dengan menawarkan menu yang bervariasi, Asia dan Eropa atau Western. Berhubung banyak juga wisatawan asing yang ingin mencicipi menu khas Jogja, “Kami punya andalan snack Lumpia Gudeg. Camilan ini dikemas khusus supaya berbagai level masyarakat masuk. Orang Jakarta kalau sekadar makan gudeg, hal biasa. Sementara wisman yang semula tidak suka masakan manis, jadi antusias sekali setelah mencoba Lumpia Gudeg. Lumpia Gudeg ini ikon Sekar Kedaton, lho. Ide membungkus gudeg dengan kulit lumpia ini tercetus bersama antara saya dengan staf bagian kithecn . Chef memberi konsep, unsur Jawa kami angkat ke kancah internasional agar wisatawan ikut merasakan. Sedangkan untuk tamu lokal kami punya menu utama Iga Brongkos”Restoran berlantai dua itu menjadi kebanggaan Betta. “Karena kami orang Jawa jadi masih membanggakan tradisi keraton.Biasanya wisatawan asing betah berlama-lama duduk di restoran, lalu betrtanya-tanya sejarah gedung ini dan siapa pemiliknya. Tetapi saya sengaja tidak banyak menemui para tamu secara lansgung. Karena pesan Ayah, tidak baik terlalu menonjolkan diri. Kalau banyak pertanyaan biasanya staf yang menjelaskan.“

Rupanya, Betta tak cuma sukses mengelola Sekar Kedaton yang kini membuka cabang di kawasan Candi Borobudur. “Saya suadh diajari bisnis oleh Ayah sejak SMP. Duduk di bangku SMA, saya sudah punya swalayan Betta. Modalnya pinjam dari Ayah. Padahal sebenarnya mau minta apa saja bisa keturutan . Tapi Ayah memang ingin saya belajar. Bila remaja seusia saya masih bersenang-senang, hura-hura, saya justru sibuk kulakan  dagangan di Pasar Beringharjo. Tapi karena niatan saya ibadah, menyenangkan hati orangtua, jadi sampai sekarang tidak pernah ada penyesalan, tidak pernah melakukan kegiatan hura-hura seperti remaja pada umumnya. Yang penting bagi saya, menyenangkan hati orangtua.”

Kini, Betta yang kelahiran Yogyakarta, 1 Mei 1982 bertekad terus melakukan perbaikan restorannya agar menjadi salah satu tempat yang dibanggakan wisatwan, menjadi tujuan utama kunjungan wisatawan di Jogja. “Saya ingin Sekar Kedaton menjadi resto terbaik dengan makanan dan gedung yang masih mempertahankan tradisi Jawa, yang sudah banyak ditinggalkan orang. Intinya ingin mengusung tema tradisional dan mempertahankan kebudayaan. Karena itu kami juga melayanientertainmen untuk acara khusus. Misalnya dengan suguhan sendratari Ramayana atau tarian khusus Jawa dan modren. Resto ini, kan, bisa memuat sampai 3 ribu tamu, lho!”

Untuk menjadikan tujuan utama wisata di Jogja, sejak tahun lalu Betta pun mulai membuka butik Brilliant dan Rumah Baju Jogja di samping restoran. Kata Betta, itu dibuka atas saran pemilik agen perjalanan serta tamu yang datang. ”Rata-rata waktu kunjungan mereka mepet. Jadi saya ingin Sekar kedaton menjadi one stop shopping . Belanja silver, makan siang, lalu belanja batik. Nah, sebentar lagi saya akan buka rumah spa dan refleksi. Wisatawan bisa melepas lelah di sana.” Produk Butik batik Brilliant Exclusive didesain Betta sejak pembuatan desain motif, proses pembatikan, hingga menjadi busana siap pakai yang eksklusif dan mewah.

Lalu, bagaimana Betta mengelola waktu antara bisnis yang memiliki jadwal padat dengan urusan keluarganya? “Saya selalu mengukur keterbatasan saya. Berusaha semaksimal mungkin memprogramkan waktu per minggunya. Jadi dalam satu hari tidak mengurus berbagai bisnis sekaligus. Kan, sudah dibantu staf. Kalau mengurus anak-anak, saya lakukan sebelum atau sesudah kerja. Di rumah saya ibu rumah tangga. Ibu dari anak-anak. Saya juga biasa memandikan mereka. Tapi saya akui, tidak bisa sepenuhnya menangani mereka. Karena itu di rumah ada psikolog khusus buat membantu pendidikan anak-anak dan baby sitter yang mengasuh saat saya tidak di rumah.“

Untuk melepas kepenatan atau kejenuhan, Betta pun masih mau pergi ke suatu tempat bersama keluarga, untuk sekadar makan atau jalan-jalank. “Cari selingan dan suasana beda saja,” pungkasnya.

Sumber : tabloidnova.com

Pengusaha Michael Dell

Michael Dell bukanlah satu-satunya pengusaha muda yang mengendarai booming komputer di akhir tahun 1980an dan awal 1990an dari keusangan menuju kejayaan. Seperti Rod Canion dari Compaq dan Steve Jobs dari Apple, Michael mengubah bisnis muda yang belum banyak pengalaman menjadi kerajaan komputer milyaran dolar. Tetapi tidak seperti Canion dan Jobs yang mengalami nasib buruk, yang kehilangan kendali atas ciptaan mereka ketika mereka bertumbuh, Michael telah menangani untuk tetap memegang kendali atas usaha maverick -nya dan menerima pengakuan unik untuk menjadi CEO terlama dalam industri komputer.

Mengikuti ide sederhana dengan menjual sistem-sistem komputer personal yang terkustomisasi langsung ke para kustomer ia dapat sangat mengerti kebutuhan-kebutuhan mereka dan menyediakan solusi-solusi komputer paling efektif untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, Michael telah menjadikan Dell Computer Corp. Sebagai perusahaan pemimpin penjualan langsung sistem-sistem komputer.

Orang-tua Michael menginginkan ia menjadi seorang dokter. Tetapi sewaktu ia berada di masa sekolah menengah pertama, Michael terpaku pada komputer-komputer. Selagi kebanyakan teman-teman seangkatannya terpaku di bawah atap-atap mobil tua, Michael menyukai terpaku dengan Apple IIe-nya.

Untuk menyenangkan orang-tuanya, Michael terdaftar sebagai pra-mahasiswa kedokteran di Universitas Texas pada tahun 1983, tetapi tetap saja yang menjadi kegemarannya adalah komputer-komputer. Sepanjang semester pertamanya, Michael menghabiskan waktu luangnya membeli PC-PC lama yang perlu dibetulkan dari ritel-ritel lokal, lalu meng-upgradenya dan menjualnya dari kamar asramanya. Usahanya itu sukses, hingga akhirnya satu hari teman sekamarnya menumpuk inventarisnya yang semakin banyak dekat pintu kamar asrama mereka.

Michael menganggap itu sebagai satu tanda sudah waktunya untuk memindahkan bisnisnya yang berkembang dari kampus. Kedua orang-tuanya geram ketika ia mengatakan kepada mereka bahwa ia ingin drop out dari kampus, maka untuk menenangkan mereka, Michael setuju untuk kembali ke sekolah jika penjualan musim panas terbukti mengecewakan. Di bulan pertama bisnisnya, Michael menjual beberapa PC seharga $180.000. Ia pun tak pernah kembali lagi masa senior sekolahnya.

Selagi mencari jalan untuk memperlebar bisnis awalnya yang sedang bertumbuh, Michael menyimpulkan bahwa komputer dengan cepat akan menjadi sebuah komoditas, dan dengan komoditas-komoditas, apa yang paling penting adalah harga dan pengantarannya. Michael melihat bahwa cara tercepat untuk menerima kedua gol tersebut adalah dengan memotong perantara. Ia menyadari bahwa ia bisa membeli komponen-komponen dan merakit keseluruhan PC sendiri dengan harga lebih murah. Lalu ia bisa menjual setiap mesinnya melalui telepon langsung ke para pelanggan dengan 15 persen untuk membangun brand-nya. Teknik ini, yang selanjutnya dikenal sebagai "model penjualan langsung," dapat merevolusi industri dan menjadikan Michael Dell sebagai multi-milyuner dalam prosesnya.

Michael Dell yang berusia 19 tahun memakukan usaha bisnisnya PCs Ltd., dan perusahaan yang berbasis di Austin ini dengan cepat menjadi salah satu perusahaan yang bertumbuh paling cepat di negerinya. Daripada membanjiri pasaran dengan ratusan dari ribuan komputer "berkulit coklat yang tawar," perusahaan dapat berfokus pada apa yang terbaik – menciptakan mesin-mesin yang terkustomisasi untuk meng-order.

Strategi ini bekerja. Dalam operasinya di tahun pertama, PCs Limited menarik hingga lebih dari $6 juta dari penjualan, dan Michael dengan cepat mendapat reputasi sebagai "pria muda ajaib." Untuk membayar namanya yang semakin tenar, ia mengubah nama perusahaan menjadi Dell Computer Corp. pada tahun 1987. Penjualan terus berlanjut mengembang, mencapai puncak $159 juta pada akhir tahun 1988. Di tahun yang sama, Dell membuat sebuah penawaran awal publik yang meraup $30 juta, dan sekitar $18 juta-nya masuk langsung ke kantong Michael.

Bagi banyak pengusaha awal, itu bisa menjadi sinyal puncak bahwa sudah waktunya untuk berpindah ke petualangan selanjutnya yang menjanjikan. Tetapi dalam pikiran Michael ia baru saja mulai. Ia sekarang mengatur pandangannya untuk mengambil alih pemimpin industri IBM, mengatakan kepada para stafnya bahwa kata pertama dari putrinya yang baru lahir adalah "Daddy, kill IBM." Teknik ini mendapat responm dan penjualan Dell melompat pada lebih dari $800 juta pada tahun 1991. Pada tahun 1992, Michael menyiapkan sebuah gol untuk melewati $1,5 milyar di akhir tahun tersebut. Selalu melewati pencapaiannya, Michaell mendapatkan gol-nya dan lalu, penjualan pun meroket hingga $2juta milyar. Tetapi di tengah kesuksesannya, ada awan-awan mendung yang bertemu di langit-langit.

Pertumbuhan perusahaan melangkah terlalu cepat bagi si pengusaha muda untuk menanganinya. Pada pertengahan 1993, Dell Computer Corp. terlihat berada di luar kendali. Harga-harga saham terpantul dari $49 pada Januari 1993 menuju sekitar $16 pada bulan Juli. CFO dari Dell pun resign , meninggalkan kekosongan manajemen. Dan yang terburuknya, Michael membongkar semua merek baru dari komputer-komputer notebook dikarenakan produksi yang miskin dan dipaksa untuk duduk di atas sisi dari segmen yang bertumbuh cepat dari pasar PC untuk lebih dari 12 bulan.

Michael menyadari bahwa ia perlu untuk melakukan sesuatu – dan melakukannya dengan cepat. Solusinya adalah mencari para manajer yang lebih tua berpengalaman untuk menolongnya mengambil kendali dari juggernaut-nya yang berusia 9 tahun. Pertama ia membawa Mort Topfer, eksekutif musiman dari Motorola, untuk menangani operasi sehari-hari. Selanjutnya ia memanfaatkan talenta-talenta Kevin Rollins, sebuah pakar organisasi dari Bain and Co., untuk menjalankan operasi-operasi pekerja Amerikanya. Dan, mungkin saja kudetanya yang paling penting, Michaell mencuri desainer Apple Powerbook yakni John Medica.

Dalam 12 bulan penyusunan perusahaan sangatlah benar, dan di tahun selanjutnya keuntungan-keuntungan pun mendaki hingga $149 juta. Tetapi bahkan dengan perubahan haluan yang luar biasa ini, Michael mengetahui tempat perusahaannya di persaingan industri PC yang terus meningkat biar bagaimanapun tak ada jaminannya. Untuk memastikan agar terus berlanjut sukses, Michael dan para eksekutif top-nya membuat sepasang keputusan strategi kontroversial yang menjalankan penghitungan tren industri yang sedang terjadi. Pertama, bukannya mengawali perang harga untuk mengejar penjualan unit-unit yang luar biasa, Michael memutuskan untuk berfokus pada para pelanggan bisnis yang bermargin tinggi. Kedua, perusahaan memandang untuk bersandar secara eksklusif pada pasar langsung daripada ritel.

Para pengamat industri mempertanyakan gerakan yang kedua, menunjuk bahwa dengan menjual langsung Dell merendahkan pasar home PC. Tetapi Michael mengetahui lebih baik. Dalam penyelidikan awal ke toko-toko ritel, Michael menemukan bahwa ia tidak bisa berkompetisi dengan nama brand Compaq yang kuat dan harga Packard Bell yang mematikan. Menjual melalui toko-toko ritel sudah pasti di luar rencana. Tetapi Michael tidak menyerahkan pasar konsumen yang menguntungkan begitu saja. Melainkan, ia memutuskan untuk menjual PC-PC yang terkustomisasi penuh melalui telepon, fax, dan penjualan langsung untuk para pembeli komputer rumah yang lebih mutakhir.

Sekali lagi, Michael memutuskan para pengkritiknya bahwa mereka salah. Pendekatan baru perusahaannya telah memiliki penjualan yang mencapai puncak $5,5 milyar pada akhir tahun 1996. Tetapi Michael memiliki kartu as yang lain di balik lengan bajunya. Pada Juli 1996, Dell meluncurkan salah satu website penjualan komputer langsung pertama, dan hanya dalam dua bulan, telah meratakan penjualan internet dengan kelebihan dari $2 juta sehari (sebuah angka yang dapat terus naik hingga $6 juta sehari pada 1998). Kombinasi dari penjualan langsung via telepon dan Internet mendorong penjualan Dell hingga $7.7 juta pada Februari 1997.

Hingga saat ini, para pakar industri dan tiga lawan utama Dell yakni, Compaq, IBM, dan Hewlett-Packard, teryakinkan bahwa penjualan langsung hanya dapat memberi sebuah ceruk pasar. Tetapi sebagaimana serangan langsung Dell mulai meningkatkan potongan ke pembagian pasar mereka, semua ketiga kompetitornya mengadopsi model penjualan langsung itu, tetapi tidak seperti Dell, melanjutkan untuk menawarkan mesin-mesin mereka melalui toko-toko ritel juga.

Baik ya tidaknya Compaq, IBM dan Hewlett Packard merubah strategi mereka sebenarnya selanjutnya akan menangkap kembali pembagian pasar yang terhilang akan hadirnya Dell. Tetapi dengan menjadi yang pertama kali, Dell tentu saja memiliki keuntungan, sebagaimana ketika angka-angka dengan jelas bermunculan. Selagi industri PC bertumbuh dengan 5 persen yang diremehkan pada tahun 1998, Dell bertumbuh dalam jalur yang luar biasa dengan lebih dari 50 persen, mencapai penjualan $12.3 milyar. Pada Januari 1999, Dell habis terjual baik IBM dan Hewlett-Packard pun seimbang untuk mengambil ali sebagai pembuat komputer nomor satu, meninggalkan Compaq.

Selagi ia telah benar-benar mendiamkan para pengkritiknya, Michael Dell telah membuktikan bahwa ia memiliki fleksibilitas, stamina, dan visi untuk berada di puncak dari bisnis paling kompetitif di negeri itu, bahkan dengan melalui waktu-waktu yang bergelombang. Sebagai roketer penjualan internet ($30 juta sehari pada Juli 1999), Dell melanjutkan untuk mengherankan para kompetitornya, mencengangkan para analis, dan mempesona para pemegang saham.

Sumber : wordpress.com