Senin, 07 Oktober 2013

Benny Irawan Putus Sekolah, Sukses Jadi Peternak Ayam Petelur



Banyak remaja putus sekolah yang lantas merasa cita-citanya tidak akan dapat terwujud. Tidak lagi memiliki semangat juang untuk meraih prestasi dalam hidupnya. Tidak demikian halnya dengan Benny Irawan, pengusaha ternak ayam petelur dan trading pakan ternak ayam kelahiran Kartasura, Jawa Tengah.
Situasi politik yang kurang kondusif pada tahun 1966 menyebabkan sekolahnya ditutup dan Benny yang saat itu baru berusia 15 tahun pun kesulitan melanjutkan ke sekolah negeri maupun sekolah lainnya.  Tak ingin menganggur, Benny pun membantu orang tuanya berdagang di toko roti “Liem” tak jauh dari Pasar Kartasura. Kala itu, orang tua Benny juga beternak babi. Dari situlah Benny berkenalan dengan supplier pakan ternak ayam dari Thailand, PT Charoen Pokphand Indonesia pada tahun 1970. Mengikuti intuisi bisnisnya, Bapak dua orang putri ini akhirnya memberanikan diri menjadi supplier pakan ternak ayam pada tahun 1973 lalu pada 1985 Benny membulatkan tekadnya untuk menjadi pengusaha pakan ternak ayam.
Seperti dilakukan orang tuanya, untuk mengatur keuangan dengan cermat, Benny pun menyimpan hasil jerih payahnya dengan menabung di bank. Pilihan Benny jatuh kepada PT Bank Central Asia Tbk. (BCA). Kebetulan kedua orangtuanya juga sudah menjadi nasabah BCA sejak lama. Benny menjadi nasabah BCA  Kantor Cabang Utama Solo Slamet Riyadi sejak tahun 1990 dan langsung merasakan peran BCA dalam perkembangan usahanya.
Masih lekat dalam kenangan Benny, saat mengisahkan cerita suksesnya menjadi pengusaha ternak ayam petelur.   BCA memiliki andil besar dengan memberikan pinjaman modal usahauntuk mengambil alih sebuah peternakan ayam seluas 5 hektar yang kolaps di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah pada tahun 1990. Karena pihak bank menilai profil usahanya bagus, maka pada tahun 2000 Benny kembali dipercaya untuk memperoleh pinjaman modal dari BCA untuk memperluas peternakan ayamnya.
Kini Benny memiliki lahan peternakan seluas 25 hektar dengan populasi 500.000 ayam petelur dan memberikan lahan pekerjaan tak kurang dari 300 orang. Di bawah bendera PT Sempulur Unggas Raya, peternakan Benny berhasil menguasai 40% market share penjualan telur ayam di Solo dan sekitarnya untuk memasok kebutuhan pasar induk, pasar tradisional dan minimarket. Bahkan setiap harinya, Benny juga mengirim 18 ton telur ayam ke pedagang ritel di Jakarta. “Jangan putus asa meskipun situasi kondisi memaksa pendidikan formal kita terhenti. Kalau kita ada kemauan pasti ada jalan. Kesuksesan itu berawal dari tekad bulat, keuletan, kemampuan membina hubungan baik dengan berbagai pihak dan bisa dipercaya,” ujar pria murah senyum yang dekat dengan kalangan Kasunanan Surakarta dan sangat mencintai budaya Jawa ini.“Selama pelaku usaha tidak pernah melakukan kesalahan dalam berbisnis, maka semua akan running well,” tambahnya.
Bukan hanya usaha ternak ayam petelurnya yang sukses, hingga kini Benny PT Manyar Mandiri, perusahaan miliknya yang bergerak di bidang pakan ternak ayam juga masih berjalan.  Pehobi motor gede ini pun mulai melibatkan kedua putrinya dalam pengelolaan bisnisnya dan memperluas usahanya dengan membuka Rumah Makan khas menu masakan Solo, seperti nasi liwet, nasi rames, ayam bakar dan sebagainya.
Sebagai satu-satunya bank yang dipilihnya menjadi mitra usaha, Benny merasa BCA bukan hanya menjadi mitra bisnis tapi juga pendamping hingga menjadi pengusaha sukses. Mulai dari peminjaman modal, proses transaksi, layanan hingga jaminan keamanan, bahkan sebagian ilmu bisnis diperolehnya karena menjadi nasabah BCA.
Hampir semua pelangganan Benny yang berasal dari dalam maupun luar Pulau Jawa memilih melakukan transaksi bisnis melalui rekening BCA. Tak heran, hingga kini Benny setia menggunakan produk dan layanan BCA.
Sumber : swa.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar