Rabu, 17 Juli 2013

Suprapno dan Kisah Sukses Petani Kakao

SUPRAPNO menyapa ramah. Raut mukanya semakin terlihat berkerut, saat membalas senyum saya. Keriputan kulit cokelatnya pun sudah tak bisa ia sembunyikan. Suprapno, kini memang tak lagi muda. Malah, bisa disebut telah menapaki usia senja. Persis 78 tahun pada 10 Mei lalu. Suatu masa yang lazim dimanfaatkan oleh orang-orang untuk bisa menikmati sisa hari tua.

Namun, kebiasaan umum itu, sepertinya tak berlaku bagi Suprapno. Tanpa berhenti berucap, kakinya terus saja melangkah saat mengajak saya menyelusuri perkebunan kakao di sepanjang jalan Desa Sungai Langka, Kecamatan Gedong Tataan, Lampung Selatan. ”Nah, coba lihat yang itu! Berapa rata-rata buah kakao dalam satu pohon? Kalau saya hitung, di sini bisa mencapai 300—400 buah per pohon,” katanya kepada saya sembari menunjukkan satu batang pohon terdekat di pinggir jalan.

Dengan seksama, saya pun mengamati pohon kakao berbuah merah hati yang dimaksud Suprapno itu. Sambil berusaha menghitung satu per satu, saya lalu bertanya, ”Kok bisa begini banyak pak? Diapakan?”
Suprapno lantas mengajak saya semakin mendekati pohon kakao tersebut. Tak berselang lama, ia memulai menjelaskan secara rinci, apa rahasia yang dilakukan para petani kakao di Sungai Langka dalam membudidayakan tanaman itu. 

”Kamu lihat kan? Banyak semut hitam di pohon?” ”Iya pak. Tapi apa gak mengganggu waktu panen dan membuat penyebaran penyakit baru?” ”Justru tidak! Ini rahasianya itu.”

”Maksudnya?” ”Semut hitam ini justru menangkal serangan hama dan penyakit. Dan, yang penting tak menggugurkan bunga. Berbeda kalau pakai pestisida. Waktu nyemprot malah banyak bunga gugur.”

Saya pun manggut-manggut mendengar perkataan Suprapno. Sebab, selama ini tak sedikit para penyuluh pertanian di lapangan yang lebih menyarankan petani menggunakan bahan kimia berupa insektisida dan fungisida untuk membasmi hama dan penyakit kakao.

Tetapi, petani di Sungai Langka malah antipati. Suprapno sendiri mengaku sangat alergi menggunakan zat kimia yang mengandung racun tersebut. ”Soalnya unsur kimia itu berdampak buruk bagi kakao. Tanamannya bisa jadi kerdil dan tak sehat,” tuturnya.

Sebab itu, dia lebih menyarankan, para petani kakao membiarkan semut hitam (Dolichoderus bituberculatus) hidup di pohon. Jenis insekta ini, ujar dia, dapat menangkal hama dan penyakit kakao, selain tidak mengganggu daun, bunga dan batang. Bahkan, dapat membantu proses penyerbukan tanaman. ”Semut hitam bukan predator.”

Keyakinan Suprapno itu, tentunya bukan tanpa dasar. Selama ini, ia giat mempelajari ilmu baru, bereksperimen di lapangan, dan membuktikan sendiri dari hasil budidaya kakao yang diciptakannya. 

Dia juga juga tak perlu merogoh kantong terlalu banyak, untuk merawat delapan hektare kebun kakaonya. Bayangkan, dengan biaya produksi hampir 0 persen untuk perawatan, setiap tahun dia mendapatkan 20 ton biji basah per hektare atau 1,7 ton biji basah per bulan. Bila harga kakao basah minimal Rp5.000 per kilogram, maka setiap bulannya Suprapno mendapatkan penghasilan Rp8,5 juta per hektare.

Suprapno adalah Ketua Koordinator Induk Kelompok Tani Satria Utama Desa Sungai Langka. Dia merupakan pensiunan kesatuan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 1974. Meski masih mendapat tawaran terus berkarir di kesatuan, tapi Suprapno memilih pensiun. Veteran yang meniti karir tentara sejak 1946 tersebut, lalu menetap di Sungai Langka bersama keluarga. 

Awalnya, Suprapno sendiri memilih berkebun kopi dan cengkeh dari peninggalan perusahaan Belanda di Sungai Langka. Agar lebih menguasai teknik bercocok tanam, pada 1988, dia lalu mengikuti Pelatihan Bidang Pertanian dan Perkebunan Tingkat Nasional di Simalungun Sumatera Utara. 

Setelah pulang dari pelatihan tersebut, dia jatuh hati untuk lebih serius membudidayakan kakao. Dia mengatakan kakao diekspor ke banyak negara, waktu panennya juga sangat singkat sehingga memberikan nilai tambah bagi petani. 

Dari bekal pengetahuan di Simalungun tersebut, kemudian dia mencoba mempraktekkan di kebun miliknya. Waktu itu, bibit yang dia budidayakan berasal dari Dinas Pertanian Provinsi Lampung yang didapat dari Sumatra Utara. 

Suprapno membeli 15 peti bibit jenis F1 (filial pertama untuk turunan satu). Lalu, bersama rekan-rekannya di Sungai Langka, bibit itu ditanam pada lahan seluas 75 hektare. Bibit-bibit tersebut kemudian tumbuh dan berkembang. Sekitar empat tahun, tanaman bibit kakao tersebut dapat panen. 

Hasilnya, sangat memuaskan, 1,5 ton biji kakao kering dapat dipanen. Budidaya kakao pun terus ditingkatkan. Hingga akhirnya, Sungai Langka menjadi penyuplai terbesar kakao di Lampung. 

Kini, produk panen kakao di sungai langka tidak pernah menurun. Pada 1997 saat krisis moneter menerpa, warga Sungai Langka justru kebanjiran uang karena saat panen kakao harganya relatif tinggi. Kala itu, menyentuh Rp18 ribu per kilogram.

Bagi masyarakat Sungai Langka, sumbangsih Suprapno memberikan pengetahuan dalam bertanam kakao, menjadikan desa yang tadinya miskin menjadi maju. Kini, desa seluas 900 hektare tersebut, 750 hektare dikelola menjadi kebun kakao dan berhasil menghasilkan 1.500 ton biji kakao kering per tahun. 

Berkat tanaman kakao pula, masyarakatnya kini mendapatkan nilai tambah penghasilan sekitar Rp3 juta hingga Rp10 juta per bulan. ”Siapa lagi, kalau bukan karena Suprapno,” kata Mulyono, seorang petani kakao di kawasan tersebut. 

Dia menambahkan, petani kakao di Sungai Langka menerapkan metode yang telah diajarkan Suprapno. 
Transmigran asal Blitar Jawa Timur tersebut merasa bersyukur, karena pengetahuan budidaya kakao yang dimilikinya ekonomi masyarakat desa Sungai Langka dapat berubah. Kawasan yang tadinya miskin kini telah siap untuk dimekarkan menjadi kabupaten baru di Lampung.

Saat saya berkunjung ke desa tersebut, jarang ditemukan rumah warga yang berbalut geribik ataupun masih berbata merah. Umumnya, telah berbalut tembok dan bercat rapih. Bahkan ada yang mentereng laiknya rumah pejabat kota. 

Keberhasilan bapak sembilan anak tersebut tak terlepas dari motivasinya untuk menemukan metode praktis dalam budidaya kakao. Ilmunya hanya didapat dari pengalaman di lapangan. Kebun kakao seluas 8 hektare miliknya adalah laboratorium untuk bereksperimen. 

Di usianya yang lanjut, petani sukses yang lahir di Gandu Sarkak Gunung Kelud, Blitar, Jawa Timur itu masih terlihat bugar. Bicaranya masih terlihat tegas dan daya ingatnya masih cemerlang. Kesederhanaan tampak membalut pada dirinya. ”Semua masyarakat di sini maju karena kakao,” tuturnya.

Sumber : turyanto.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar