Selasa, 12 Februari 2013

Yaslinur Toko Buku Al-Amin


Bisnis toko buku dan toko swalayan milik Yaslinur, alumnus Fakultas Peternakan IPB, yang ada di Bogor, Bandung, Jakarta dan Lampung mungkin belum setenar dan sebesar toko buku Gramedia atau toko swalayan Yogya. Namun yang unik dan berbeda adalah upaya pria kelahiran Sawahlunto, Sumatera Barat pada tahun 1968 ini untuk mendapatkan modal ketika memulai usaha, yakni dengan konsep syariah.
Pemicunya adalah terhentinya bantuan biaya kuliah dari sang paman sebesar Rp 60 ribu per bulan. Lantas, Yas pun mencoba menyambung hidup mulai dari berdagang kaos kaki, menjadi penjaga masjid kampus IPB, berjualan buku di masjid, sampai memasok beras untuk warung nasi.
Kesulitan mengembangkan usaha karena kekurangan modal mendorong Yas membuat proposal untuk membuka toko buku dan busana muslim dengan sistem bagi hasil atau mudharabah. Dalam sistem bagi hasil ini satu pihak murni bertindak sebagai pemilik modal dan pihak lain menjadi pengelola, lalu hasil usaha dibagi sesuai dengan kesepakatan.
Proposal bisnis yang membutuhkan dana Rp 12 juta itu membahas soal bunga dan analisis kelayakan usaha ditinjau dari sisi keuangan, teknis dan sosial budaya. Sepuluh proposal itu dikirimkannya ke beberapa orang berduit di Jakarta dan Bogor. Sayang, sambutan yang diterimanya tak sesuai dengan harapan. Ia cuma berhasil mendapatkan dana pinjaman satu juta rupiah sehingga ditambah dengan modalnya sendiri menjadi Rp 1,46 juta.
Yas kemudian merubah taktik, sasaran proposal adalah penerbit buku Islam dan pengusaha busana muslim untuk mendapatkan pasokan barang dengan sistem konsinyasi. Usaha ini berhasil menarik satu penerbit dan satu pengusaha konveksi yang bersedia memasok barang, sisanya Yas harus membeli barang dengan sistem putus.
Akhirnya, Juni 1991 Yas mulai membangun toko berukuran 3×4 meter yang dikontraknya seharga Rp 1 Juta di Jl. Otista, Bogor. Toko yang dinamainya “Al-Amin” itu baru kedatangan pembeli setelah dua minggu dibuka, sampai akhirnya mulai menuai Rp 40 ribu per hari.
Tiga bulan kemuadian Yas mulai melebarkan sayap dengan membuka toko lain di Jakarta, Bandung dan Bogor. Omzetnya melonjak menjadi Rp 400 ribu per hari. Kesuksesannya banyak mendapatkan tawaran kerjasama dan bantuan modal. Berikutnya, Yas membuka toko swalayan yang secara khusus
dikembangkan di tingkat kecamatan dan ditujukan untuk membantu masyarakat miskin memperoleh barang dengan harga miring. Kini Yas memiliki tiga toko buku dan empat swalaan dengan total 120 karyawan dan omzet usahanya bisa mencapai ratusan juta rupiah per bulan.
Untuk mengembangkan usahanya itu Yas mencari mitra bisnis dengan menawarkan konsep sirkah atau musarokah. Maksudnya, satu pihak sebagai pemilik modal, pihak lain bertindak sebagai pengelola, namun pengelola juga bisa ikut menanamkan modal dan sebaliknya. Lantas keuntungan usahanya dibagi berdasarkan persentase.
Sejak ditawarkan pada tahun 1997, Yas sudah berhasil mengajak lebih dari 700 orang menjadi anggota syirkah dengan penyertaan modal minimal Rp 100 ribu. Dan Andapun bisa meniru cara Yas untuk mencari modal usaha.

Sumber : pojokniaga.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar