Rabu, 13 Februari 2013

Pengusaha Keripik Kulit Ikan


Tertarik Membuka Usaha ketika PKL di Jakarta. Pengalamannya saat menjalani praktek kerja lapang (PKL) di perusahaan ikan fillet memunculkan ide menggunakan bahan limbah kulit ikan sebagai bahan baku utama produknya. Selain bertujuan mengkreasikan makanan ringan penuh protein, usahanya ternyata memiliki prospek cerah.

Melakukan apa yang menjadi kesukaan secara tekun ternyata menjadikan Wildan Mathlubi sebagai pengusaha di usianya yang masih muda, 25 tahun. Berawal dari keinginannya memanfaatkan limbah kulit ikan sisa pengolahan ikan fillet, Wildan berhasil membangun usaha yang tak pernah terpikirkan oleh orang lain.

Ketertarikan anak kedua pasangan H Tatang Sudrajad dan Sri Halawiyah ini dimulai saat dirinya melakukan kerja praktek lapang (PKL) di sebuah perusahaan ikan fillet di Jakarta pada 2005. Wildan melihat setiap hari puluhan kilogram kulit ikan hasil pengolahan terbuang percuma.

“Dari yang saya tahu, kulit ikan itu mengandung banyak protein sehingga terbersit bagaimana memanfaatkan limbah itu,” tutur sarjana Perikanan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menjelaskan proses bersentuhan dengan usaha yang dijalaninya sejak berstatus mahasiswa hingga kini.

Usai PKL pada tahun itu juga (2005), Wildan membuka bisnisnya dengan modal awal Rp200.000. Duitnya dipakai untuk membeli bahan baku kulit ikan patin dan kakap dari Muara Angke sebanyak 10 kilogram. Setelah melalui pengolahan yang cukup sederhana, dia bersama seorang karyawannya mampu menghasilkan olahan kerupuk ikan yang gurih dan kaya protein.

“Saya membidik pasaran menengah ke bawah seperti sekolah-sekolah. Tujuannya sederhana, memberikan cemilan kaya protein kepada adik-adik di sekolah dasar,” kenang pria yang senang membanyol ini.

Kerupuk kulit patin dan kakap bermerk dagang Willy ia jual dengan harga beragam dari Rp500 per bungkus kecil hingga Rp4.500/ons untuk dipasarkan di restoran dan warung makan.

Letak rumah warga Kelurahan Pasir Kuda RT 03 RW 04 Kecamatan Bogor Barat yang dekat dengan pasar juga membantu pemasaran hasil usahanya. Wildan menemukan respon yang tak terduga. Permintaan terus mengalir kepada CV Usaha Muda, usaha miliknya yang kemudian berganti nama menjadi Alfa Dinar.

Pemuda yang sering diundang sebagai narasumber dalam seminar ini memproduksi 4 kuintal kulit ikan patin/bulan, 4 kuintal kulit ikan kakap/bulan dan 1 kuintal daging ikan/bulan. Omsetnya melejit hingga mencapai rata-rata Rp20 juta/bulan.

Wilayah pemasarannya tidak lagi hanya di Bogor tapi meluas hingga ke Jakarta, Bandung, Bekasi, Tangerang, Purwakarta dan Surabaya. ”Saya memiliki agen di daerah-daerah agar mempermudah proses pengiriman barang,” paparnya.

Wildan kini menjalankan usahanya dibantu delapan orang karyawan.

Sumber : willycafe.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar