Senin, 19 November 2012

Pebisnis Bandeng Presto


Jika ditanya apa saja oleh-oleh khas Semarang, pastilah banyak yang menjawab sederet makanan seperti bandeng presto, lunpia, dan wingko babat.
Bandeng presto misalnya, sejak tahun 1970-an sudah menjadi salah satu oleh-oleh khas Kota Semarang. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya toko yang menjual bandeng presto di sepanjang Jalan Pandanaran, Jalan Cendrawasih, dan masih banyak lagi di Semarang. Nama besar bandeng presto ini yang kemudian membuat Petrus Sugianto mencoba untuk menekuni usaha di bidang ini yang diberi merek New Istiqomah.
”Awalnya saya membuat makanan olahan ikan laut. Mulai dari pengeringan ikan, penjualan ikan segar hingga penampungan hasil laut lainnya termasuk kepiting dan rajungan,” katanya saat ditemui di rumahnya Jalan Dwarawati, Kelurahan Krobokan Semarang Barat, baru-baru ini.
Sejak tahun 1996, Petrus mencoba membuat bandeng presto. Berkat kerja keras dan ketekunannya, usaha yang dirintisnya ternyata tidak sia-sia dan membuahkan hasil. Bandeng presto miliknya yang ia jual di Pasar Karangayu Semarang laris. ”Karena enak, banyak yang mencari bandeng olahan saya,” ungkap dia.
Menurut dia, memproduksi makanan olahan yang sudah terkenal di Semarang tidak mengalami kesulitan dalam hal pemasaran. Selain itu, bandeng merupakan oleh-oleh khas Semarang, jadi untuk pemasarannya tidak terlalu sulit. Apalagi bahan baku bandeng mudah diperoleh baik dari tambak di sekitar Semarang.
Tingginya minat masyarakat akan bandeng presto New Istiqomah ini membuat dirinya harus berpikir bagaimana meningkatkan kapasitas produksinya. Sebelumnya Petrus menggunakan dandang biasa yang hanya mampu menampung delapan ekor ikan sekali kukus. Kalaupun harus dipaksakan maka hasilnya kurang bagus karena bandeng akan melengkung.
Ia pun mencari cara untuk menggenjot produksi. Salah satunya dengan mengikuti bimbingan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang untuk menggunakan alat presto bernama LTHPC atau Low Temperature High Presure Coller buatan Unnes Semarang. Alat ini mampu mempresto bandeng hingga 50 kg dengan sekali masak.
”Selain kapasitasnya lebih besar, juga bahan bakar yang digunakan lebih irit, kalau dulu pakai dandang perlu waktu 3 jam, sekarang cukup 2 jam, itu pun dua jam terakhir pakai api kecil,” katanya.
Alhasil, pesanan bandeng presto miliknya semakin meningkat bahkan sampai menembus Batam, Jakarta dan Surabaya. Ia terus berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas bandeng olahannya. 
Sumber : wirasmada.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar