Senin, 05 November 2012

Pengusaha Mebel


Siang begitu terik, namun Sahid (50) tak peduli peluh keringat deras bercucuran. Sembari memegang alat penyemprot berisi pernis, ia terlihat asyik merampungkan pesanan kusen pintu. Kusen itu akan diambil pemesannnya satu hari lagi. Karena beberapa pegawai izin libur, terpaksa ia pun turun tangan. 

Sepintas bila melihat kesibukan pemilik Sahid Furniture ini tidak berbeda jauh dengan pengusaha mebel lainnya. Namun setelah mendengar kisah hidupnya, semua orang bakal terenyak. Sahid memiliki bengkel produksi, yakni di Pondok Raden Patah II Blok U No 20, Sayung, Demak yang sekaligus menjadi tempat tingganya. Bapak tiga anak itu berangkat menjadi wiraswasta dari serba keterbatasan. 

Suami Muntiah ini dulunya adalah tukang kayu. Sahid terlahir dari keluarga miskin di Desa Mantingan Kecamatan Tahunan, Jepara. Ayahnya, Kardi juga seorang tukang kayu. Kondisi itulah yang menguatkan tekad pria tamatan SD ini. Selama delapan tahun, sampai tahun 1987 ia melakoni pekerjaan sebagai tukang kayu. Sedikit demi sedikit tabungan hasil dari kerja kerasnya itu ia gunakan sebagai modal untuk merintis usaha sendiri. 

Sekitar tahun 1988 di Kampung Kebonharjo, ia menghasilkan beragam furniture dari triplek. Ada lemari, bufet, dan meja tulis. Namun usaha itu hanya bertahan satu tahun. 

Pernah Ditipu

Meski gagal, Sahid tidak patah arang. Modal yang masih tersisa saat itu ia belikan kayu jati glondongan. Kayu tersebut diolah menjadi bufet, lemari pakaian, kursi, dipan dan meja rias. Kendati tidak memiliki toko, pesanan terus mengalir. Awalnya, pesanan datang dari tetangga. Setelah itu, ia mulai menawarkan ke toko-toko mebel. Hasil karya Sahid kini telah menghiasi toko-toko mebel besar di Semarang, Salatiga, dan Yogyakarta. 

Ada pula yang dikirim hingga ke Lampung dan Makasar. Tiap bulan, kini produksinya rata-rata mencapai 15-20 unit. Harga yang ditawarkan dari yang terendah Rp 1,1 juta (meja rias) hingga Rp 14 juta (1 set sofa). Dari tahun ke tahun usahanya berkembang terus, bahkan sekitar tahun 1997 ia memutuskan pindah rumah ke Pondok Raden Patah.

Keberhasilan Sahid tidak terlepas dari buah hasil kerja keras dan keuletannya selama ini.  Dalam perjalanan suksesnya ia  pernah mengalami pengalaman pahit yakni ditipu toko mebel di Pekalongan, yang hingga kini masih ada tunggakan sebesar Rp 55 juta. Ataupun harga jual dibanting gara-gara pengiriman barang yang terlalu mepet.

Sumber : suaramerdeka.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar