Senin, 12 November 2012

Bule Belgia Sukses Jadi Pialang Unggul Di Indonesia

Jalan hidup seseorang memang sulit ditebak. Hari ini mungkin orang tersebut menjadi atlet, tetapi bisa jadi beberapa waktu kemudian kala ditemui lagi orang tersebut telah beralih profesi sebagai analis. Itulah yang terjadi pada Nico Omer Jonckheere. Meninggalkan dunia lari maraton di Belgia, Nico Omer melabuhkan hidupnya ke pasar saham.

Awalnya, pria yang hobi membaca buku ini coba-coba melakukan investasi di pasar modal Indonesia. Namun, investasi di bursa saham kala 1998, terhantam badai krisis Asia. Indonesia sendiri memasuki fase yang disebut krisis moneter. Tak pelak, tiga tahun pertama investasi Nico pun mengalami kerugian.

Meski begitu, Nico tetap ngotot mencoba, hingga tak jarang banyak orang yang cenderung menertawakan dirinya, karena saat itu investasi di pasar saham terimbas sentimen negatif Asia.

“Banyak orang yang menertawakan saya. Banyak yang bilang bahwa saya mempunyai hampa (tidak mempunyai apa-apa), dan banyak juga yang bilang seperti mau jadi kaya saja dari situ (tidak menguntungkan). Pokoknya banyak ejekan lah, tapi saya tetap fokus dan saya yakin saya akan jadi seseorang di bidang ini,” ungkap Nico.
 
Memang, saat itu Nico sulit sekali mendapatkan keuntungan karena kondisi pasar yang sedang menurun. Namun, di situ lah Nico mendapat pembelajaran. Layaknya sebuah sekolah, pria yang lahir di Oostende, Belgia ini banyak belajar dari kesalahan mempelajarinya dari sana.

Memilih Indonesia

Pria kelahiran, 6 Maret 1971 ini jatuh cinta pada pandangan pertama pada Indonesia. Datang ke Indonesia pada 1993, dengan mekanisme backpacker, Nico menjelajah ke seluruh Indonesia. Alhasil, kecintaannya pada Indonesia pun makin mendalam. Meninggalkan status atletnya, pada 1995, Nico kembali ke Indonesia, setelah menyelesaikan pendidikan sarjana ekonomi di Katholieke Universiteit Leuven (KUL).
 
“Umur saya masih 24 tahun waktu itu, kemudian saya bilang sama orangtua akan tinggal di Indonesia. Mereka sedih karena jauh, cuma saya memang sudah niat, karena saya cinta Indonesia,” kenang Nico.

Ada banyak hal yang membuat Nico jatuh cinta pada Indonesia. Menurutnya, pemandangan alam di Indonesia, membuatnya semakin betah berada di Tanah Air.
“The landscape funtastic, beautiful beach, the plantaion, roci field, palm trees, saya suka sekali itu,” kata Nico singkat.

Faktor lainnya yang juga menarik adalah cuacanya. “Kalau di Belgia itu lebih dari 250 hari dalam setahun musim dingin dan angin yang kencang, saya tidak suka itu, (bikin) depresif lah,” jelas Nico.

Tak hanya pemandangannya saja, Nico juga menyukai makanan Indonesia. Menurutnya, makanan di Indonesia sangat segar, terutama untuk sayur-sayuran dan buah-buahannya.
Di samping itu, yang membuat dirinya betah tinggal di Indonesia adalah perempuan Indonesia yang dinilai lebih feminim dari wanita di negaranya. Nico pun akhirnya ‘kepincut’ oleh salah seorang wanita asal Bandung yang ditemui di Braga, Bandung.

Alkisah, Nico dan temannya sedang menyaksikan live music di tempat tersebut, dia betemu dengan salah seorang kenalan temannya, yang akhirnya menjadi istrinya dan dikaruniai empat orang putera. “I love Indonesian women, mereka feminim. Lebih anggun dari wanita bule,” kata Nico seraya tersenyum.

Setelah menikah, pada periode 1998 hingga 2004, sembari terus bermain di pasar modal, Nico mengasah kemampuannya akan angka dan analisa riset dengan menjadi dosen dikampusnya mengambil magister managemen mengenai pasar modal, ARS International University, Bandung. Di sana, dia tidak hanya mengajarkan pasar saham, namun juga Bahasa Inggris, sebelum akhirnya sukses bekerja menjadi Vice President Research & Analyst Valbury Asia Securites semenjak 2005 hingga saat ini.

Dengan masuknya ke Valbury, Nico berhasil menepis keraguan semua orang mengenai dirinya. Menurutnya, dengan kecintaan akan pasar modal dan apapun yang berhubungan dengan keuangan internasional, semuanya yang dilalui terasa ringan dan bukan seperti tantangan.

“Wah mengenai pengalaman saya tidak terlalu ingat. Saya terlalu suka bidang ini dan tidak pernah peduli apa kata orang meskipun sering dikritik oleh sesama analis karena beda pendapat,” selorohnya.

Misi Besar
Meski terbilang sukses, Nico mengatakan masih ada motivasi dan misi besar dalam menjalani karir di bidang pasar modal ini. “Motivasi dan misi terbesar saya adalah bahwa orang Indonesia menjadi makmur dan sejahtera lewat pasar modal Indonesia, dengan menjadi seorang investor dan bukan seorang trader atau bahkan spkulator,” tegas Nico.

Karenanya, Nico pun menulis buku guna mengajak masyarakat Indonesia berinvestasi di pasar modal Indonesia. Dia mengatakan, buku ini dibuat supaya orang lebih berani dan memahami kekuatan dari investasi dalam jangka panjang. Adapun isi dari buku tersebut di antaranya memilih saham dengan fundamental yang kokoh pada harga yang rendah.

Nico berpesan, untuk menjadi seorang investor harus mempelajari segala hal, misalnya sebuah laporan keuangan emiten agar, tahu kondisi keuangan emiten yang dibeli.

“Belajar sendiri dan jadilah mandiri, jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang alias jangan lupa mendiversifikasi aset Anda dalam beberapa asset class seperti saham, properti dan logam mulia, berivestasi secara reguler (sisihkan setiap bulan sedikit uang untuk membeli saham dengan menerapkan dollar-cost averaging), jangan pernah mendengar rumor, baca laporan keuangan perusahaan agar tahu apa yang dibeli (dengan kata lain jangan membeli kucing dalam karung),” pesan Nico.

Selain itu, Nico juga memberikan tips bagi orang yang ingin berkarier di bidang pasar modal. “Apapun yang anda lakukan you must have passion itu sangat penting. Love what you do, do what you love. Itu akan sangat bagus dalam bidang Anda,” jelas dia.

“Lalu Anda harus obsesi dalam arti kata benar-benar fokus untuk memiliki komitmen ke bidang yang anda tekuni, jangan setengah-setengah. You have to be the best, you have to know what you talking about, harus ada dasarnya, apalagi sebagai analis harus sangat faktual dan datanya harus di-back up,” tambah Nico.
 
 
Sumber :  wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar