Senin, 17 Desember 2012

Penjual Bubur Ayam Omzet Jutaan


Pembaca seri wirausaha blog ini pasti masih ingat tulisan mengenai tukang bakso yang memenangkan lelang sebuah asset di Lombok seharga lebih dari Rp 500 juta yang saya posting beberapa waktu yang lalu.

Artikel kali ini saya akan sharing mengenai wirausahawan yang berhasil menyekolahkan anaknya menjadi sarja desain grafis, namun setelah lulus kuliah lebih memilih meneruskan usaha orang tuanya dibanding bekerja sesuai ilmu yang diperoleh selama kuliah. Padahal bidang usaha orang tuanya cukup sederhana, yaitu menyediakan sarapan buat kebanyakan orang di daerah Bintaro. Bidang usaha tersebut adalah berjualan bubur ayam.

Ini adalah pengalaman seorang sarjana desain grafis lulusan sebuah universitas di Jakarta yang hanya betah bekerja tidak lebih dari sebulan karena gaji sebulan di perusahaan tersebut tidak lebih dari omset sehari dagangan bubur ayamnya di Jakarta. Ya…, pedagang bubur ayam!

Anda tentu sudah bisa menduga berapa gaji sarjana yang baru saja bekerja. Ya.., berkisar antara Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Dan kisaran gaji tersebut ternyata mash di bawah omset pedagang bubur ayam di Bintaro dalam sehari. Jelas pekerjaan yang tidak menarik kalau pernah mempunyai pengalaman omset bisnis yang demikian besar, meskipun itu adalah pengalaman bisnis orang tuanya.

Sarjana ini selama kuliah dibiayai dari hasil berjualan bubur ayam. Segala peralatan dan perlengkapan kuliah yang dibutuhkan dan harganya cukup mahal (misalnya kamera beserta perlengkapan pendukung, lensa tele, tree pod dll) dipenuhi oleh orang tuanya. Transportasi menuju kampus selama kuliah orang ini menggunakan sebuah mobil yang baik (harga di atas Rp 150 juta), perlente, gaul abis.

Orang tidak menyangka kalau semuanya dibiayai dari hasil bisnis sederhana yang sebenarnya bisa dijalani oleh kebanyakan orang, kalau mau! Sama dengan bisnis anak Bob Sadino yang lebih senang berjualan pecel lele di pinggir jalan daripada menjadi pegawai kantoran (meski mungkin hal tersebut adalah metode belajar bisnis dari kehidupan nyata).

Bisnis ini dimulai pagi hari jam 10.00 wib sampai magrib setiap hari. Omset yang diperoleh lebih dari Rp 2 juta setiap hari. Seperti kita ketahui, keuntungan dari bisnis makanan cukup besar berkisar antara 60s% .d. 70%.

Lagi-lagi, tidak akan menarik kalau tidak ngomongin keuntungan bisnis. Dengan perkiraan rata-rata omset Rp 2 juta saja per hari, maka keuntungan berkisar antara Rp 1,4 juta s.d. 1,7 juta per hari, atau sekitar Rp 40 jt s.d Rp 51 juta sebulan. Jelas lebih menarik berjualan bubur ayam dibandingkan bekerja sebagai desainer di perusahaan orang yang hanya digaji Rp 2 juta sebulan. Apalagi menurut laporan terakhir, Rp 2 juta perhari adalah keuntungan bisnis tersebut, bukan omset seperti yang saya sampaikan seperti di atas. Wuiihh….., semakin menarik saja dunia bisnis makanan.

Hhmm….., Anda masih betah jadi karyawan kantoran dengan gaji seperti sekarang ini? Merintis bisnis pribadi, meski bidang usaha yang ‘sederhana’ dapat merubah hidup anda beberapa bulan ke depan! Mulailah sekarang rasakan mimpi-mimpi anda segera teralisir!

Sumber : buburayamqu.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar