Senin, 22 Oktober 2012

Ide Kop Juleha

Indonesia adalah negeri yang jumlah penduduknya begitu besar. Dan penduduk usia produktifnya juga tinggi. Maka dari itu, diperlukan banyak sekali lapangan pekerjaan agar semua generasi muda yang produktif ini bisa bekerja untuk Mandiri dan menggerakkan perekonomian bangsa.

Untuk itulah, muncul berbagai konsep bisnis yang berusaha menjawab tantangan ini: memberikan sebanyak mungkin lapangan pekerjaan bagi siapa saja. Salah satu yang paling memungkinkan untuk diakses oleh rakyat dari berbagai kalangan ialah bisnis yang berkonsep kemitraan mikro. Investasi yang diperlukan tidak terlalu tinggi, biaya pemeliharaannya juga tak membebani, namun menghasilkan laba yang relatif setimpal.

Konsep bisnis kemitraan mikro seperti inilah yang dicoba untuk diterapkan Sribudiawan, salah satu pebisnis muda di balik usaha Kopi Juleha. CiputraEntrepreneurship.com berkesempatan untuk mewawancarai Sribudiawan via surel dan berikut adalah petikan wawancaranya.

1. Dari mana datangnya ide Kopi Juleha ini?
Ide awalnya muncul karena seringnya saya nongkrong di warung kopi/coffee shop yang salah satunya adalah Starbucks Coffee. Hampir tiap hari saya menghabiskan waktu saya di sana. Karena seringnya nongkrong di Starbucks akhirnya saya kenal akrab dengan para barista-barista dan coffee master yang ada di sana. Saya sebetulnya bukan peminum kopi, saya berhenti minum kopi sejak 2 tahun yang lalu. Karena seringnya ngobrol dengan para barista dan coffee master di Starbucks secara tidak langsung menambah wawasan dan pengetahuan saya tentang minuman khususnya Kopi. Tiba suatu hari (Mei 2011) karena Starbucks Coffee lagi ramai banget dan saya pun tidak  kebagian tempat duduk akhirnya saya nongkrongnya di taman yang kebetulan lokasinya tidak begitu jauh dari Starbucks Coffee.

Tidak seberapa lama duduk di taman, saya melihat segerombolan karyawan yang waktu itu mungkin lagi istirahat yang sedang memanggil seseorang yang berada di luar area taman. Karena penasaran saya pun mencoba mencari tahu. Ternyata mereka memanggil mas-mas penjual kopi seduh yang menggunakan sepeda. Karena penasaran kok banyak banget yang beli akhirnya saya pun ikut membeli 1 cup kopi panas dengan harga Rp 3000,- walaupun tau kalau saya sebetulnya gak minum kopi karena sering pusing kalau habis minum kopi.  Saya pun memandangi sekeliling saya dan cukup terkejut karena 90% orang yang ada di area taman tersebut rata-rata memegang cup minuman kopi dengan berbagai varian rasanya. Dari sinilah awal munculnya ide untuk menjual kopi. Saya pun mencoba melakukan riset kecil-kecilan dengan melakukan survey di beberapa tempat dan hasilnya menakjubkan. Pangsa pasar penikmat kopi di luar sana sangat besar khususnya pasar kaki lima.

Analisis bisnis pun saya lakukan dengan menghitung perkiraan modal, potensi penjualan perhari dan sebagainya. Akhirnya saya pun membulatkan tekad untuk buka usaha minuman kopi juga. Awalnya kepikiran untuk menjual kopi sepedaan tapi dikemas dengan konsep yang lebih higienis, profesional dan dengan harga terjangkau. Tapi karena jualan menggunakan sepeda kapasitas jualnya sangat sedikit akhirnya saya pun mengganti konsepnya dengan menggunakan Kopi gerobakan tapi dengan konsep gerobak yang berbeda dari yang lainnya. Resep, teknik penyajian dan bahan baku yang digunakan pun saya buat berbeda berdasarkan pengetahuan yang saya dapat selama ini dari teman-teman barista dan coffee master yang saya kenal. Saya mencoba mengadopsi bahan baku dan teknik penyajian minuman dari beberapa coffee shop ternama di Jakarta. Jadi boleh dibilang saya memindahkan konsep coffee shop ke pasar kaki lima. Tujuannya agar pasar kaki lima pun bisa menikmati kopi yang enak dan higienis tapi dengan harga terjangkau (di level Rp. 5000 sd 7000 per cup). Maka terciptalah usaha kecil yang bernama “Kopi Juleha”. Kenapa saya memilih nama “Juleha” karena beberapa pertimbangan yaitu menyesuaikan dengan target pasarnya yang kaki lima, mencari nama yang terkesan seksi, gampang dilafalkan dan mudah untuk diingat.

2. Bisakah digambarkan bagaimana kegiatan sehari-hari di kopi Juleha?
Kegiatan saya sehari-hari di Kopi Juleha adalah mulai dengan mempersiapkan bahan baku yang akan digunakan, meracik bahan baku, mempersiapkan peralatan  dan perlengkapan yang akan digunakan dipastikan dalam kondisi bersih dan higienis. Kami pun biasanya berjualan di atas jam 5 sore sampai dengan jam 11 atau jam 12 malam. Pada saat selesai berjualan, peralatan dan perlengkapan biasanya kami bersihkan untuk kami pakai lagi keesokan harinya. Hasil penjualan pun kami coba bukukan per hari. Menu minuman yang kami jual saat ini ada beberapa varian yaitu Kopi Tarik, Teh Tarik dan Cokelat Tarik Juleha. Sehari-harinya pun kami berkoordinasi dengan para supplier untuk ketersediaan bahan baku dan yang lainnya. Saya pun saat ini akhirnya fokus diusaha ini dan meninggalkan aktivitas saya sebagai karyawan perusahaan.

3. Berapakah teman-teman yang bekerja untuk Kopi Juleha?
Ada 3 orang, semuanya mantan anak Coffee Master Jakarta.

4. Apa yang biasa dilakukan untuk memperoleh ide kreatif di sela-sela kesibukan?
Yang biasa saya lakukan adalah mengusahakan untuk selalu bangun pagi, keluar rumah untuk melihat dunia luar, menjalankan ajaran agama (sholat, sedekah, selalu berusaha berbuat baik kepada sesama dan sebagainya), selalu meminta restu dari orang tua utamanya Ibu dalam melakukan apapun. Semua hal di atas yang bisa membuat pikiran kita terbuka dan terciptalah ide-ide kreatif.

5. Apa yang mendorong untuk menekuni dunia kuliner?
Saya dibesarkan pada kehidupan yang memang sudah dekat dengan dunia kuliner. Eyang saya mantan koki, Ibu saya yang single parent dulunya memang usaha warung/kantin/catering.

6. Menurut Anda, apakah itu entrepreneur?
Menurut saya enterpreneur itu adalah orang memiliki keberanian bertindak untuk menciptakan lapangan kerja baru, keluar dari zona nyaman, berani menghadapi risiko, menjalankan usaha dengan berorientasi pada keberhasilan/keuntungan tapi dengan tetap mematuhi aturan-aturan atau kaidah yang ada.

7. Menurut Anda, bagaimana Kopi Juleha dalam 5 tahun ke depan?
Dengan modal konsep usaha yang berbeda, kreativitas, motivasi dan modal network relationship yang saya miliki saat ini, saya yakin bisa mengembangkan usaha saya ini ke arah konsep Waralaba dengan target outlet yang cukup besar (target 500 outlet).

Sribudiawan dengan Kopi Juleha-nya ini juga tak hanya ingin mencetak lebih banyak lapangan pekerjaan untuk sesamanya tetapi juga berniat membantu anak yatim dan anak usia sekolah yang tidak mampu meneruskan pendidikan karena berbagai alasan. Sebagian penerimaan dari penjualan kopi per cangkir akan disumbangkan kepada anak-anak yang kurang beruntung tersebut.
 
Sumber : wirasmada.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar