Minggu, 21 Oktober 2012

Omzet Milyar si Raja Boneka

Masyarakat awam bisa jadi tak mengenal Haji Ismet, tapi produk buatannya barang kali saban hari ditimang-timang oleh buah hati Anda. Ya, Ismet adalah pemilik usaha Istana Boneka Collection yang memproduksi beragam jenis boneka.

Nama Haji Ismet cukup kondang dan diperhitungkan di industri boneka. Dia memproduksi beragam jenis boneka dari bahan kain berbulu empuk.

Tak cuma memenuhi permintaan pasar lokal, Ismet juga mengekspor boneka buatannya. Omzetnya kini sekitar Rp 4 miliar dalam setahun atau sekitar Rp 333 juta saban bulan. Ismet menjual boneka buatannya tanpa merek. Para pembelilah yang kemudian melabelinya dengan aneka merek. Namun, dengan cara ini, Ismet dan kliennya sama-sama merasa untung.

Sejak menekuni bisnis ini, Ismet memang berprinsip tak akan memberikan label khusus untuk bonekanya. Tujuannya agar distributor atau agen bisa memberikan label menurut kemauan mereka sendiri. “Dengan begitu, bisa menghidupkan usaha mikro lainnya, yaitu sebagai distributor,” kilah bapak tiga putra ini.

Berkat semangatnya untuk berbagi inilah, Ismet kini didaulat sebagai Bendahara Himpunan Pengusaha Mikro dan Kecil Indonesia (Hipmikindo). Ismet mengakui, jalannya meraih kesuksesan tidaklah mudah. Ia mesti memulainya dari nol.

Awalnya, Ismet merupakan seorang produser kaset rekaman. Tapi, gara-gara industri rekaman kaset lesu, Ismet pun banting setir menjadi pengusaha boneka pada tahun 1999. “Saya terinspirasi oleh anak saya yang sangat gemar boneka,” ujar lelaki 46 tahun ini.

Dengan modal seadanya, Ismet pun mulai memproduksi boneka. “Saat itu modalnya sangat kecil, hasil tabungan selama bekerja di bidang rekaman,” ujarnya seraya menolak menyebutkan angka.
Ia kemudian memasarkan boneka hasil produksinya melalui promosi dari mulut ke mulut. Dengan memanfaatkan relasi yang dibangunnya saat menjalani bisnis sebelumnya, Ismet memasarkan produknya hingga luar Pulau Jawa, sebut saja Medan, Batam, dan Manado.

Dalam setahun, bisnis bonekanya berkembang pesat. Ismet pun bisa memiliki kios di Tanah Abang untuk memasarkan produknya. Ketika itu, ia menghasilkan ribuan boneka setiap bulan. Dapur produksi Ismet yang terletak di Jalan Ancil, Kawasan Industri Cikarang, selalu diwarnai aktivitas yang tinggi.

Pada saat-saat awal, omzet Ismet hanya sekitar Rp 10 juta per bulan. Berkat ketekunannya, omzetnya terus menanjak menjadi ratusan juta per bulan. Ini membuktikan, permintaan akan boneka tidak ada matinya. “Omzet semakin besar seiring dengan permintaan dari luar negeri yang terus datang,” kata Ismet yang menjual bonekanya dengan harga Rp 6.000-Rp 300.000 per unit.

Kunci keberhasilan Ismet adalah tak gampang puas dengan hasil saat ini. Jadi, ia pun terus memperbarui model boneka dari berbagai literatur, seperti media cetak maupun online.

Ismet, pemilik Istana Boneka Collection, berusaha memperbanyak bentuk boneka ciptaannya agar pembeli memiliki banyak pilihan. Dia mencontohkan boneka Pooh. Ismet membuat beberapa modifikasi bentuk dan ukuran sehingga boneka Pooh tersedia dalam bentuk duduk dan berdiri. “Pokoknya, pinter-pinter kita mendesain,” kata Ismet.

Dalam sebulan setidaknya Ismet menciptakan lima desain boneka baru. Untuk itu, dia rajin berburu ide dari berbagai literatur, baik cetak maupun online, sebagai bahan referensi.

Ismet menyadari tipe konsumen yang beragam. Ada konsumen yang memang terpaku pada model yang sedang marak di pasaran. “Tapi, ada juga yang mencari boneka dengan bentuk unik dan tidak pasaran,” lanjut Ismet.

Saat ini Ismet mempekerjakan sekitar 40 karyawan. Kapasitas produksi pabrik bonekanya 500 hingga 1.000 boneka sebulan. Untuk memasarkan boneka-boneka buatannya, Ismet menggandeng sekitar 20 agen yang ada di luar kota Jakarta. Biasanya, pembeli datang langsung ke showroom boneka Ismet.
Oh ya, sejak dua tahun lalu, Ismet tak lagi berjualan di Tanah Abang. Masa sewa kios itu habis. Kini showroom boneka Ismet berada di Pasar Jatinegara. Ismet membeli kios itu dari hasil penjualan boneka.

Pemasaran boneka Ismet sudah merambah ke pasar luar negeri dan bersaing dengan boneka-boneka produk China. Tapi, Ismet tak langsung mengirimnya ke luar negeri. “Ada pelanggan tetap yang mengunjungi Indonesia, biasanya mereka belanja dalam jumlah besar dan mereka yang mengirim sendiri,” kata Ismet.

Beberapa pelanggannya berasal dari Afrika, Malaysia, dan Abu Dhabi. Mereka mengenal Istana Boneka lantaran Ismet kerap mengikuti pameran yang diselenggarakan pemerintah.

Untuk menjaga kualitas boneka, Ismet turun tangan mengontrol pabrik bonekanya di Cikarang, Jawa Barat. Dia rutin melakukan inspeksi, paling tidak dua hari sekali. “Kadang ada beberapa karyawan baru yang belum terlalu mahir, jadi harus mendapat masukan dan evaluasi agar hasil kerjanya maksimal,” tutur Ismet.

Ismet pun tak menutup kemungkinan bagi karyawannya untuk menyumbangkan ide desain boneka. Baginya, ide merupakan kekayaan terbesar yang dimiliki usahanya. Pada perjalanan bisnisnya, Ismet tak hanya memasarkan boneka secara massal melalui agen. Ismet juga menerima order boneka dengan ukuran yang kecil untuk suvenir pernikahan maupun suvenir perusahaan.

Harga boneka mini ini antara Rp 6.000 dan Rp 15.000 per unit. “Pesanan biasanya dari orang yang mau nikahan atau sekadar boneka sebagai maskot perusahaan,” ujar Ismet.

Namun, Ismet pun menghadapi tantangan baru dalam memproduksi maupun memasarkan boneka-boneka kreasinya. “Bisnis ini sempat mengalami pasang surut yang cukup hebat,” kisahnya.

Salah satu cobaan terberat yang dirasakan Ismet adalah saat boneka China datang menggempur pasar di dalam negeri. Dalam bentuk dan ukuran yang sama, boneka China dijual dengan harga yang bersaing. Kualitasnya pun tak kalah bagus. “Kita tahu, biaya produksi di Indonesia masih lebih tinggi ketimbang biaya produksi China,” ujar Ismet sedikit khawatir.
Untuk menyiasati hal ini, Ismet berusaha untuk mencari alternatif bahan baku yang lebih murah. Dengan demikian, biaya produksi bisa ditekan. Sayang, sulit menekan biaya bahan baku. 

Masalahnya, harga produk kain sintetis buatan Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan produk impor. Walhasil, sebagian bahan baku masih harus didatangkan dari luar.

Jelas kondisi tersebut merupakan pukulan berat bagi pengusaha mikro seperti Ismet. “Tak hanya kerja keras yang dibutuhkan, tapi juga dibutuhkan strategi pemasaran yang cukup baik,” ujarnya.

Nah, untuk mengatasi hambatan yang satu ini, Ismet melancarkan strategi jemput bola. Ia pun gencar menyasar para agen. “Jemput bola harus dilakukan untuk mendapatkan pemasukan,” jelasnya.

Cara kedua, Ismet melancarkan strategi mempertahankan pelanggannya agar tidak ada yang beralih ke produk China. “Terutama untuk institusi yang sering memesan boneka untuk kepentingan bisnisnya,” imbuh Ismet.

Selain tantangan tersebut, kondisi alam bisa mendatangkan persoalan tersendiri bagi Ismet. Misalnya, saat terjadi bencana alam, kunjungan wisatawan biasanya turun. Kondisi ini memengaruhi penjualan Ismet. “Saat ada tsunami di Aceh dan gempa di Yogyakarta, omzet saya sempat turun sampai 50 persen,” kenang Ismet.

Belum sempat bangkit dari keterpurukan, bisnis Ismet kembali dihantam badai krisis ekonomi global. Gara-gara krisis yang satu ini, daya beli masyarakat turun drastis. Bisnis Ismet pun menjadi lesu sampai saat ini. Menurut Ismet, saat ini masyarakat cenderung menunda keinginan membeli boneka. Pasalnya, boneka bukan kebutuhan pokok yang harus dibeli. “Kalau hal seperti ini, memang tak bisa dihindari,” ujarnya.

Ismet memang tak sampai merugi akibat berbagai kendalan dan peristiwa tadi. Namun, tak bisa dihindari, laba bersih Ismet terpangkas. Tetapi, Ismet sudah menimbang masak-masak risiko bisnis itu. Ia bilang, biasanya omzet yang berkurang akan tertutup saat musim pemesanan boneka marak, yakni saat perayaan hari besar, seperti hari raya Natal, Lebaran, atau Hari Valentine.

Sumber :  karanetclub.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar