Jumat, 19 Oktober 2012

Kisah Pengusaha Kasur Wanalaya

Memasuki Dusun Wanalaya, Desa Banjakerta, Kecamatan Karanganyar, Purbalingga, Jateng yang terlihat adalah hamparan jemuran limbah kapas pabrik di setiap halaman rumah. Sementara kendaraan bak terbuka maupun truk besar ke luar masuk dusun itu mengangkut kasur bertumpuk-tumpuk maupun bahan untuk membuat kasur, baik kasur lantai maupun kasur ranjang.


Ya, denyut perekonomian warga dusun itu, selama ini memang menggantungkan hidup dari kerajinan kasur. Hampir di setiap sudut rumah di dusun itu, laki-laki maupun perempuan dewasa sudah piawai membuat kasur, lalu memasarkannya. Berkat kasur itu pula, tingkat kesejahteraan masyarakat setempat mapan. Hal ini terlihat dari sepanjang jalan masuk menuju dusun itu hingga masuk ke bagian dalam kompleks perumahan penduduk, banyak rumah-rumah permanen yang bagus berarsitektur modern.

Saat ini, ada sekitar 200 kepala keluarga (KK) atau sekitar 95 persen warga di dusun itu menggantungkan hidup dari kasur. Selain bertani di sawah, dan ada sebagian kecil menjadi pegawai negeri maupun perangkat desa, mereka juga perajin kasur.

Adalah Ramin Supriyadi (41), warga RT 1/RW 4 di dusun itu, pengusaha kasur ternama. Berkat keuletannya berusaha, ia sukses menggeluti bisnis kasur. Sesungguhnya, Ramin hanya tamatan SD Negeri 1 Banjarkerta, tahun 1983. Namun berkat kerja keras dan semangat tinggi dalam berusaha, kini omzet usahanya mencapai milyaran rupiah. Meski demikian, ia tetap tampil bersahaja, dan tidak sombong. “Saya merintis usaha kasur awal tahun 2000,” ujar Ramin saat ditemui di gudang yang sekaligus jadi tempat usahanya di Dusun Wanalaya, Desa Banjarkerta, Kecamatan Karanganyar, Purbalingga, Rabu (11/5).

Ramin, Pengusaha Kasur Wanalaya Banjarkerta Purbalingga
Awalnya, Ramin berjualan korden kelilingan dengan cara dipikul di sekitar Purbalingga hingga ke Temanggung. Pada suatu hari, ia masuk ke sebuah super market di Purwokerto, melihat ada kasur lantai, yang dijual Rp 270 ribu/buah.Ia tertarik, dan berpikir, pasti bisa membuat. Pasalnya, ia pernah bekerja menjual kasur ranjang kelilingan di Jakarta. Sampai akhirnya, ia coba-coba membuat kasur lantai itu. Dengan modal awal Rp 250 ribu, ia membeli kain dan kapas, dan jadilah empat kasur. “Empat kasur itu saya jual kelilingan di daerah Baturraden Banyumas, laku semua, dan terkumpul uang Rp 800 ribu, karena setiap kasur laku Rp 200 ribu,” ujar Ramin mengenang awal usahanya.

Berawal dari situ, Ramin semakin bersemangat membuat kasur lantai, karena prospeknya semakin baik. Ramin pun terus membuat kasur lantai, dan terus laku di pasaran. Sampai akhirnya ia menjual seluruh perhiasan milik istrinya dan apa saja yang bisa dijual, hingga terkumpul modal Rp 1,8 juta. Dari modal Rp 1,8 juta itulah ia bisa membeli kain dan limbah kapas dari pabrik tekstil di Bandung dalam jumlah banyak. Jumlah kasur lantai yang dihasilkannya pun semakin banyak, dan tentu saja keuntungan yang diraup semakin lumayan.

Untuk membuat kasur lantai, Ramin menceritakan, kain khusus untuk bahan kasur dijahit, lalu dimasuki kapas dari limbah pabrik tekstil. Perlu teknik khusus untuk memasukkan kapas ke dalam kain, agar jadi kasur. Bagai yang sudah mahir, seorang pekerja dalam sehari bisa membuat 12-15 kasur lantai, dengan ongkos Rp 3.000,-/kasur. Karena sudah menjadi kebiasaan, kini banyak warga Dusun Wanalaya yang piawai membuat kasur lantai.

“Singkat kata, usaha saya terus berkembang. Baru mulai awal 2003 saya melebarkan daerah pemasaran hingga ke Kalimantan Barat. Di sana prospeknya juga bagus, hingga akhirnya kini usaha saya sudah melebar hingga ke seluruh Sumatera, Sulawesi, Maluku, Papua hingga ke Timor Leste. Bahkan produk saya juga sudah sampai ke Malaysia, lewat orang Pontianak yang mengirim ke sana,” ujar Ramin, bapak dua anak yang mengaku pernah menjadi pemulung barang rongsok seusai tamat SD ini. Kini, sebagian besar yang diproduksi Ramin adalah kasur lantai, dan juga bantal serta guling. Untuk kasur lantai ia jual bervariasi, antara Rp 70 ribu – Rp 150 ribu.Kasur produksinya itu diberi label “Adinita” yang diambil dari nama salah satu anaknya. Ramin mengaku, kasur produksinya justru laris di luar Jawa. “Orang luar Jawa, khususnya orang Kalimantan, sangat menyukai kasur lantai produksi saya. Jika kasur sudah kotor, mereka buang, lalu beli lagi. Jadi mereka sangat royal menggunakan kasur,” ujar Ramin.

Dalam setiap bulan, Ramin mengaku mampu memproduksi 15.000 kasur. Bahkan kalau pesanan atau permintaan pasar sedang ramai, bisa lebih dari itu. Untuk membuat kasur sebanyak itu, Ramin dalam setiap bulan harus membeli kapas dari limbah pabrik tekstil di Bandung sekitar Rp 400 juta. Sedangkan untuk kain, yang juga dibeli di Bandung, dalam setiap bulan mencapai Rp 800 juta. Itu berarti, ia harus merogoh kocek sekitar Rp 1,2 miliar untuk membeli bahan baku. Belum harus membayar tenaga kerja, yang jumlahnya ratusan.

Saat ini, Ramin memiliki 20 tenaga kerja tetap yang bekerja di sejumlah gudang sekaligus tempat usahanya di Dusun Wanalaya. Di luar dusun Wanalaya, yakni di sekitar wilayah Kecamatan Karanganyar, tenaga yang dimiliki Ramin mencapai 500 orang lebih. Sedangkan tenaga pemasaran di luar Jawa, sekitar 200 orang.

Sumber: kotaperwira.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar