Jumat, 19 Oktober 2012

Pendirian Bambu Omzet Jutaan

Selalu ada hikmah di balik bencana. Seperti bencana gempa yang menimpa Garut pada 2009 lalu. Bencana itu mampu menggugah Ade Supriatna untuk memberdayakan masyarakat melalui bambu. Dengan bambu, Ade mengajak warga Desa Cisompet kembali membangun kehidupan ekonomi paska gempa supaya tak bergantung pada bantuan siapapun.

Keterpurukan ekonomi yang melanda Desa Cisompet, Provinsi Garut pascagempa, menimbulkan keprihatinan mendalam di hati Ade Supriatna. Warga desa yang sebelumnya mengandalkan hasil pertanian, tak bisa lagi bergantung pada lahannya. 

Desa Cisompet merupakan satu dari lima desa yang menderita kerugian terparah akibat gempa pada 2009 silam. Akibat gempa perekonomian warga juga tak berdaya. Lahan-lahan sawah jadi tak optimal hasilnya.

Kondisi inilah yang memprihatinkan Ade.

Namun Ade tak sekadar prihatin namun tak berbuat apa-apa. Dia ingin mengajak warga desanya bangkit dari penderitaan dan melepaskan ketergantungan dari bantuan pihak lain.

Bagi Ade, desanya masih punya potensi yang belum digarap dengan baik, yakni pohon bambu. Itulah sebabnya, dia bersama dua rekannya, menggagas pendirian Bambu Indah Nusantara (BIN) pada awal 2011. “Saya ingin mengubah pola pikir masyarakat tentang bambu yang memiliki daya jual tinggi,” ujar Ade yang telah meriset tanaman rumpun ini sejak 2002. 

Mulanya, BIN mengajarkan masyarakat untuk membuat rumah ramah gempa dengan bahan dasar bambu. Ade yang pernah berkunjung ke Jepang, melihat banyak rumah tahan gempa di sana yang terbuat dari bambu. 

Selain membuat rumah bambu, warga juga mengolah bambu sebagai pengganti kayu untuk lantai, furnitur, barang kerajinan, dan aneka perkakas.

Tentu keterlibatan warga itu tak serta merta. Ade harus lebih memberikan sosialisasi dan motivasi pada warga tentang banyaknya produk bisa dibuat dari bambu. 

Ade juga mengajarkan cara menebang batang bambu serta membelah bambu. Kemudian, BIN membeli bambu-bambu itu dengan harga Rp 5.000 per meter.

Menurut Ade, harga ini lebih tinggi ketimbang harga yang ditawarkan pengepul yang hanya Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per meter. “Ini untuk mendorong masyarakat agar lebih giat mengolah bambu,” kata Ade.

Selain itu, BIN membeli bambu itu bertujuan mengurangi pengangguran. Selanjutnya dari hasil pemasaran bambu ini, BIN akan memberikan bibit pohon bambu sehingga tetap tercipta kesinambungan. 

Ade menetapkan konsep tebang satu batang bambu, tanam dua pohon bambu.

Dengan program ini, BIN ingin masyarakat mau menanam dan memelihara bambu sebagai aset sekaligus mata pencaharian. “Saya berharap akan tercipta siklus yang bisa mengurangi jumlah pengangguran, pengentasan kemiskinan, pemberdayaan keterampilan masyarakat serta penghijauan,” tutur Ade. 

Ade yakin, produk olahan BIN bisa bersaing dengan berbagai peralatan rumah tangga produk impor. “Kualitas produk dan harga kerajinan bambu ini juga cukup bersaing,” ujarnya.

Ade menjual beragam produk berbahan bambu itu masih di seputar Bandung. Konsumen BIN biasanya datang dari pengembang perumahan atau perkantoran. “Kami juga sudah ada pembicaraan dengan desainer interior salah satu perumahan di Bandung yang ingin melengkapi perabotan rumah dengan bambu,” ungkap Ade. 

Meski baru berjalan, BIN sudah mampu mengumpulkan omzet hingga mencapai Rp 20 juta per bulan. Dari penjualan bambu, warga Desa Cisompet pun bisa mengumpulkan omzet Rp 5 juta dari 1.000 batang bambu yang terjual per bulan. 

Pria 50 tahun ini pun berharap, program BIN ini tak hanya berlangsung di satu desa saja. “Kami ingin melakukan program ini secara nasional,” ujar Ade bersemangat.

Sumber : jpmi.or.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar