Selasa, 16 Oktober 2012

Pengusaha Pantang Menyerah

Dilandasi niat meneruskan usaha milik orang tuanya yang nyaris kolaps dan ingin membantu perekonomian warga sekitar, Muyati, 55, sukses menggeluti usaha kerupuk mi.

Menyebut kerupuk mi sulit dilepaskan dari Desa Harjosari Lor, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Sebagian besar masyarakat desa ini menggeluti usaha kerupuk mi.

Desa Harjosari Lor dikenal sebagai sentra usaha kerupuk mi terbesar di Kabupaten Tegal. Produksi kerupuk dari daerah ini tak hanya dipasok untuk wilayah Tegal, namun telah merambah daerah sekitarnya. Seperti usaha kerupuk mi yang dijalankan Muyati, pemasaran produknya telah menembus pasar hingga keluar Jawa.

Produksi usaha milik Muyati kini telah mencapai 10 ton per bulan dengan omzet puluhan juta rupiah. Muyati pun mengaku bersyukur dan bahagia, usaha yang dia geluti sejak 35 tahun silam itu kini telah berkembang dan menjadi besar.

Pencapaian kesuksesan itu tak dilalui oleh Muyati dengan lancar dan mulus tanpa halangan. Selama lebih dari tiga dasawarsa dia mengembangkan usahanya dari kecil hingga kini berkembang pesat melalui perjuangan dan susah payah.

Muyati memulai bisnisnya pada Januari 1975, meneruskan usaha kerupuk mi yang telah dirintis orang tuanya, Darto (almarhum). Bermodal dua kuintal tepung tapioka, bahan baku utama membuat kerupuk mi, Muyati memberanikan diri meneruskan usaha tersebut. Dia dibantu suaminya, Kasmuri, 60.

Dengan bekal ilmu cara membuat kerupuk mi saja ibu lima anak ini mulai menjalankan usahanya dari nol. “Modal tepung itu saya gunakan untuk membuat 190 kg kerupuk mi,” kata Muyati.

Seluruh proses pembuatan kerupuk mi saat itu digarap sendiri oleh Muyati dan suaminya. Dari membeli bahan baku, mencetak, menjemur dan menggoreng, hingga memasarkan kerupuk mi yang sudah jadi. Tiga bulan berlalu, usaha yang digeluti Muyati pelan tapi pasti menunjukkan peningkatan.
Dia pun mengajak tiga orang tetangganya untuk membantu, kemudian dia jadikan karyawan. “Mereka membuat mi hingga ikut mengedarkan ke pasar-pasar. Saat itu pendapatan per bulan hanya Rp1.520.000. Itu masih (penghasilan) kotor karena belum dipotong biaya membeli tepung sebesar Rp950 ribu dan membayar karyawan,” ujarnya.

Keuntungan yang tidak seberapa itu tak lantas mematahkan semangat Muyati untuk terus menggeluti usahanya. Apalagi pemasaran mi saat itu masih sangat susah. Dalam setahun Muyati kadang tidak memproduksi hingga empat bulan karena kerupuk mi tidak laku. “Dulu tidak banyak orang yang kenal dengan kerupuk mi buatan saya,” kenang Muyati.

Pada awal merintis usaha, dia hanya memasarkan produk kerupuk mi di wilayah Tegal, Brebes, dan Slawi. Pemasarannya pun masih dia lakukan dengan berkeliling ke pasar-pasar dan menitipkan kerupuk di toko-toko.

Saat itu, Muyati masih menggunakan sepeda motor untuk memasarkan makanan pendamping ini. “Kerupuk mi yang saya bawa masih sedikit, hanya 10 kg. Itu pun tidak laku semua,” katanya.
Namun, dengan semangat untuk menghidupi keluarga dan membantu masyarakat sekitarnya, usaha kerupuk yang dikembangkan Muyati mulai menunjukkan kemajuan.

Dia lalu mencoba peruntungan dengan memasarkan kerupuknya ke Pekalongan, Semarang, hingga Jakarta dan Bandung. Bahkan tak jarang Muyati tidak pulang selama beberapa hari sebelum kerupuk mi yang dibawanya terjual.

Jerih payah perempuan yang hanya menamatkan sekolah dasar (SD) ini ternyata tidak sia-sia.Produk kerupuk buatannya mulai diminati masyarakat. Muyati mulai merasakan kesuksesan pada 1980 dan berlanjut hingga saat ini. Jumlah karyawannya pun terus bertambah menjadi 24 orang.

Muyati bahkan mampu membeli rumah dan satu unit mobil truk untuk memasarkan kerupuk buatannya. Tak hanya itu, dia mampu menguliahkan kelima anaknya.

Pesanan kerupuknya juga datang dari sejumlah daerah hingga luar Jawa seperti Medan. Setiap pekan Muyati kini mampu mengirim 2,5 ton kerupuk mi dari semula hanya 190 kg seharga Rp16,25 juta.

Dengan demikian, setiap bulannya Muyati mampu meraup omzet Rp65 juta. Terlebih jika bulan puasa, permintaan kerupuk mi meningkat tajam hingga tiga kali lipat. Meningkatnya pesanan ini menuntut Muyati memperluas lahan yang digunakannya sebagai tempat proses produksi.

Lahan yang dipakai sebagai tempat pembuatan kerupuk mi tidak jauh dari rumahnya, tepatnya di samping kanan rumah seluas sekitar 200 meter persegi. Meski telah menuai kesuksesan, tidak mudah bagi Muyati untuk mempertahankan itu. Banyak hambatan dan rintangan yang harus dia hadapi.

Tingginya harga bahan baku tepung tapioka yang kini menembus Rp480 ribu per kuintal, minimnya modal untuk mengembangkan usaha, hingga ditipu bakul atau pengepul mi pernah dia alami. “Saya ditipu dua orang bakul mi dari Bandung hingga Rp70 juta. Barang sudah dikirim, tapi saya hanya dikasih cek kosong,” keluhnya.

Meski demikian, Muyati tidak patah arang dan tetap membuat kerupuk mi. Dalam menjalankan usaha ini Muyati memiliki niat ikut membantu ekonomi masyarakat di sekitarnya. “Kasihan mereka, kalau tidak bekerja tidak bisa makan,” tuturnya.

Perempuan yang memiliki prinsip melestarikan usaha warisan orang tua dan membantu masyarakat ini optimistis usahanya akan tetap berkembang dan diminati masyarakat, meski saat ini banyak produk makanan kecil pabrikan.

Keyakinannya tampak nyata setelah tiga anaknya yang sudah menyandang gelar sarjana memilih menggeluti usaha kerupuk mi dibandingkan menjadi karyawan perusahaan atau PNS. “Saya yakin kerupuk mi akan tetap bertahan bila dikelola dengan manajemen yang baik,” ujarnya. 
 
Sumber :wirasmada.wordpress.com

1 komentar: