Kamis, 25 Oktober 2012

Jack Ma, Pendiri Alibaba.com

Sukses di dunia e-commerce bukanlah sebuah kebetulan belaka!  Kerja keras, konsistensi, inovasi, dan mengeksplorasi diri secara terus menerus adalah beberapa hal mutlak yang harus dilakukan untuk menjadi salah satu yang terbaik di dunia online ini. Diambil dari berbagai sumber, berikut ini adalah salah satu contoh sukses dari seorang yang awalnya tidak tahu mengenai komputer sama sekali, dan sekarang menjadi salah satu pemain e-commerce dunia dan masuk ke dalam salah satu dari seratus orang yang paling berpengaruh di dunia menurut majalah Time.

Lahir dari sebuah keluarga biasa pada tahun 1964, sebelum Revolusi Kebudayaan, di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Cina, Jack Ma memang sudah tertarik pada bahasa Inggris sejak kecil. Saat usianya 12 tahun ia sudah mulai belajar bahasa Inggris—bukan dari kursus melainkan dari turis-turis. Setiap hari ia harus mengayuh sepedanya selama sekitar 40 menit ke sebuah distrik yang banyak turisnya. Di sana ia bisa berinteraksi dengan turis. Setelah agak lancar, ia bekerja sebagai guide.

Pada awalnya Jack Ma bercita-cita menjadi seorang guru bahasa Inggris ketika dia duduk di sekolah menengah. Ia melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi namun dua kali gagal lulus seleksi. Pada akhirnya, ia bisa diterima di Hangzhou Teachers University yang ia selesaikan dalam waktu lima tahun. Selama jadi mahasiswa ia aktif berorganisasi dan menjadi ketua federasi mahasiswa di kota itu. Selesai kuliah ia bekerja sebagai dosen bahasa Inggris di almamaternya, sampai akhirnya  dia memulai pekerjaan pertamanya sebagai sekretaris untuk General Manager Kentucky Fried Chicken di kotanya.

Pada tahun 1995 ia menjadi penerjemah delegasi perdagangan China yang berangkat ke Seattle. “Seorang teman menunjukkan apa itu Internet di sana. Itulah pertama kalinya saya mengenal internet,” ujar Ma. “Kami search kata ‘beer’ di Yahoo namun tak satu pun link yang berhubungan dengan China,” kata Ma. Ia terdiam. Namun saat itulah  muncul gagasannya membuat website sendiri bernama China Pages agar produk-produk China bisa dicari di internet.

Untuk membangun usahanya itu, ia meminjam uang sebesar 2.000 dolar AS. “Saya tak punya pengetahuan tentang PC (personal computer) atau e-mail. Saya bahkan baru pertama kali itu menyentuh keyboard. Itulah kenapa saya menyebut diri saya sebagai ‘blind man riding on the back of a blind tiger’,” ujarnya. Perusahaan web pertamanya tersebut mendapatkan dana investasi yang cukup besar dari China Telecom sebesar U$ 185.000, namun karena kalah suara dengan pemegang saham mayoritas, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut.

Ia kemudian mendapat tawaran dari pemerintahan Beijing untuk mempromosikan e-commerce. Namun ia punya mimpi bahwa suatu saat ia harus punya perusahaan e-commerce sendiri. Tahun 1999 ia mencari-cari nama yang cocok. “Saya ingin memiliki perusahaan global sehingga saya harus memilih nama yang global pula,” katanya. Saat di Amerika ia mendengar banyak orang menyebutnya Ali Baba. Dan ketika menyebut nama itu, mereka menggambarkannya sebagai pengusaha Cina yang sukses. Tak pikir panjang ia pun mengambil domain Alibaba.com.

Rencana memiliki e-commerce sendiri itu ia kemukakan pada sejumlah temannya. Ma mengumpulkan 18 orang teman di apartemennya. Ia paparkan proyeknya dalam diskusi selama dua jam. Setelah selesai diskusi masing-masing peserta diminta urunan modal usaha. Lalu terkumpulah US$ 60.000 di atas meja. Modal itulah yang digunakan untuk membangun Alibaba.com, portal e-commerce dari Cina yang pada akhirnya terus berkembang secara menakjubkan.

“Kenapa kami survive, karena kami tak punya uang, kami tak punya teknologi, bahkan kami pun tak punya rencana. Untuk itu kami gunakan dana dengan sangat hati-hati,” paparnya. Kehati-hatian itu antara lain dengan menggunakan apartemennya sebagai kantor. Kantornya mulai pindah ketika Alibaba.com mendapat bayaran dari Goldman Sach pada tahun 1999 dan dari Softbank Corporation tahun berikutnya.
Konsep usaha Alibaba.com, kata Ma, sebenarnya sederhana. Ia memfokuskan bisnisnya untuk membantu kalangan UKM berjualan. Ia tak meniru perusahaan-perusahaan internet Cina lainnya yang mengopi konsep dari perusahaan-perusahaan internet sukses di AS dan Eropa. “Kami jalan sendiri dengan semangat mengemukakan kualitas,” ujarnya. Website-nya menawarkan produk-produk UKM yang berkualitas ke seluruh dunia. Dari sanalah bisnisnya berkembang pesat.

Namun perkembangan yang begitu pesat sempat juga hampir merontokkan usahanya. Pada tahun 2002 cashflow bisnisnya hanya cukup untuk operasional 18 bulan akibat terlalu menggebu berekspansi. Saat itu, Ma menyebutkan, ia memiliki terlalu banyak member Alibaba.com yang bergabung secara gratis. Ia tak tahu bagaimana mencari uang dari internet. Dari situlah timbul ide untuk mempertemukan eksportir Cina agar bisa bertemu pembelinya dari AS dengan imbalan komisi. Sejak itulah bisnisnya berkembang pesat.

Saat Alibaba.com go public tahun 2007, perusahaan ini meraih dana 1,7 miliar dolar AS (sekitar Rp 15,3 triliun) dari pasar modal. Tahun 2009 lalu omzetnya mencapai 352 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,1 triliun setahun.

Apa rahasia sukses Ma? “When you are small, you have to be very focused and rely on your brain, not your strength,” katanya. Jika kita kecil kita harus fokus dan bergantung pada otak, bukan pada kekuatan.

Pada saat usianya baru 46 tahun, Jack  Ma sebagai pendiri Alibaba.com, perusahaan e-commerce terbesar di Cina, telah sukses menjadi salah satu dari miliarder kelas dunia. Lebih dari itu, Ma telah merubah cara pandang jutaan orang di Cina untuk melakukan bisnis di Internet. Pada salah satu wawancaranya dia mengatakan : “I think it is the American dreams that make America different; today,Chinese people have the dreams. Alibaba brings in some $700 million in annual revenue from its websites and in business-to-business trading “.

Dan ketika dia ditanya tentang sensor yang dilakukan pemerintahnya terhadap Internet dia mengatakan :  “The Internet has the censorship; maybe 5, maybe 6, or 7 percent; but 90 percent [uncensored] is good. Make use of that. And influence people; improve the society.”

Jika seorang Jack Ma bisa sukses karena sebuah ketekunan, kerja keras, dan inovasi yang tiada henti, saya percaya kitapun juga bisa!

Sumber : likebisnis.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar