Minggu, 28 Oktober 2012

Wirausahawan Botol Bobol

Saya ini cuma wirausahawan botol bobol,’’ ujar Supriyanto (45) sambil tersenyum. Maksudnya, dia juragan pengepul barang apkir seperti botol bolong?
Ternyata bukan. ‘’Botol itu akronim dari berani optimis (dengan) tenaga orang lain. Kalau bobol, berani optimis (dengan) bisnis orang lain,’’ terang pemilik 3 bidang usaha di Jakarta itu sambil tertawa.

Supriyanto, pria kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, mengungkapkan, ilmu bisnis tersebut dia peroleh dari kuliah di Entrepreneur University (EU). Purdi E Chandra, pengasuh EU, yang mengajarinya konsep bisnis botol dan bobol. Pendiri Primagama, jaringan lembaga kursus terbesar di Indonesia, itu pun mengenalkan Supriyanto pada konsep bodol (berani, optimis, duit orang lain). Maknanya, berbisnis dengan modal dari pihak lain.

‘’Alhamdulillah, dengan konsep botol, saya punya bisnis konsultan manajemen dan mengelola usaha bakery. Lalu dengan konsep bobol, saya punya sekolah TK & Playgroup Primagama,’’ terang suami Eka Yanti.
 
Padahal, Supriyanto sejatinya seorang berlatar accounting. Lantas, bagaimana ia bisa memiliki bisnis di 3 bidang berbeda yang tak sesuai background akademiknya?
Syahdan, setelah 16 tahun bekerja di perusahaan Grup Astra sebagai akuntan, pada akhir 2006 Supriyanto mengundurkan diri. Dengan modal uang pesangon yang cukup besar waktu itu, ia ingin punya usaha mandiri.

Merujuk pada The Cashflow Quadrant-nya Robert Kiyosaki, dari sekadar pekerja atau orang gajian (1-employee) Supriyanto ingin loncat ke kuadran lain sebagai self-empoyed (2), business owner (3) atau investor (4).

Tak lama setelah resign, Supriyanto bekerja fulltime mengelola usaha konsultasi manajemen bersama temannya yang pakar di bidang ini. Perusahaan konsultan yang biasanya melayani klien instansi plat merah maupun hitam itu, berkantor di kawasan Mampang, Jakarta Selatan.

Bapak dari Sania Sekarningrum (8) dan Sandrina Ayasha (6), itu juga membuka TK & Playgroup Kreatif Primagama di Bogor. Lembaga pendidikan untuk anak ini merupakan franchise dari induknya di Jogja.

Namun baru 4 bulan jadi pengusaha, Supriyanto mendapat cobaan berat. Suatu hari, dalam perjalanan ke Bogor, entah mengapa tubuhnya merasa panas. ‘’Bukan panas biasa, tapi pokoknya badan terasa tidak enak sekali,’’ kenang Supriyanto sambil memperagakan orang kesurupan.

Sempat dirawat selama 4 hari di sebuah rumah sakit, kondisi lelaki itu tak jua membaik. Padahal, berbagai terapi medis dan obat jalan sudah dicobanya. Maka dengan didampingi istrinya, Supriyanto mulai kesana-kemari mencari pengobatan alternatif.

Dalam keadaan seperti itu, sekolah TK & Playgroup miliknya didemo warga sekitar. Tampaknya ada masalah dengan tanah yang dipakai untuk lokal sekolah. Akhirnya terpaksa Supriyanto menutup sekolah di Bogor tersebut.

‘’Itu mungkin kena gunaguna, coba ke ‘orang pinter’,’’ saran demikian tak urung diterima Supriyanto yang tengah berkepanjangan menderita sakit ‘’aneh’’. Tapi, dengan didampingi sang istri, ia tetap menjaga akal sehat.

Suatu hari, setelah sekian lama klik-klik browsing internet, Supriyanto seperti menemukan obat mujarab yang tengah diburunya. ‘’Sedekah dapat menyembuhkan penyakit,’’ demikian salah satu syiar Ustadz Yusuf Mansur yang disimaknya di laman PPPA Daarul Qur’an.

Bersama Eka Yanti, Supriyanto lalu berkunjung ke Kampung Qur’an di Ketapang, Cipondoh, Tangerang. Di sana ia dilayani Ustadz Abdoel Rochimi, salah satu konselor PPPA Daqu.

Dari kunjungan itu, Supriyanto mulai membiasakan riyadhoh dan sedekah untuk menghajatkan kesembuhan dirinya. ‘’Selain mengamalkan ibadah-ibadah di rumah, saya juga ikut kuliah dhuha dan pesantren riyadhoh di Ponpes Daqu Bulak Santri Tangerang,’’ tutur Supriyanto.

Dengan dorongan sang istri, dia pun mulai ringan tangan menyedekahkan sebagian tabungannya. Baik untuk disalurkan melalui program PPPA Daqu maupun berbagi di daerah sekitar tempat tinggalnya di Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Padahal, Supriyanto mengaku sebelumnya ia pelit. ‘’Maklum, orang accounting,’’ katanya sambil mengepalkan jari tangan kanan. Setelah mendapat pencerahan sedekah, ia jadi paham bahwa harta tak cukup dizakati 2,5% nya. Kalau perlu, sedekahkan dalam jumlah yang membuat kita ‘’tos-tosan’’ dengan Allah SWT. Sedekah yang membuat hati deg-degan antara khawatir dan berharap.

Alhamdulillah, dengan menjalani riyadhoh dan sedekah, memasuki tahun 2009 Supriyanto berangsur sembuh. Usahanya pun mulai recovery.

‘’Tahun 2010 Saya buka lagi TK & Playgroup yang dulu tutup pada tahun 2007. Tapi saya pindahkan di Jagakarsa biar dekat rumah,’’ ungkap Supriyanto. Sekolah ini merupakan cabang ke-23 dari seluruh cabang yang berjumlah 28. Sampai sekarang, ia satu-satunya cabang di Jakarta.

Tahun pertama, muridnya 26 anak. Tiga di antaranya anak yatim yang bersekolah gratis. Tahun kedua, 2011, Supriyanto terpaksa menolak sebagian calon murid. Pasalnya, kapasitas 60 murid termasuk 4 siswa yatim dan 6 guru, sudah full.

Sementara itu, kantor konsultannya jalan terus. ‘’Alhamdulillah, sudah 8 tahun masih eksis, walaupun perkembangannya tidak sepesat usaha kuliner,’’ ujar Supriyanto, yang bersama temannya berniat membuka Rumah Tahfidz di daerah Bumi Serpong Damai, Tangerang.

Pada 2011, Supriyanto mengajak seorang baker (ahli bakery), untuk membuka Sanaya Bakery and Cake di Jalan Kahfi 1 no 27D Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Nama Sanaya, merupakan akronim perpaduan dari nama kedua buah hati mereka, Sania-Ayasha.

‘’Produk andalan kami roti pizza, roti abon, dan cake cappuccino,’’ ungkap Ny Eka Yanti, yang mengaku tak merahasiakan cara membuat produknya kepada siapapun. Sebab ia yakin, ‘’Kalau sudah rejeki hendak ke mana’’. Selain itu, adonan tiap tangan berbeda hasilnya walau resepnya sama.
Sanaya Bakery and Cake yang utamanya membidik pangsa pasar middle-low, kini sudah menghidupi 14 karyawan. Tujuh orang di bagian administrasi dan dapur, 7 lagi melayani delivery di Jakarta Selatan, Bogor, dan Depok.

‘’Insya Allah saya sedang mempersiapkan Sanaya untuk di-franchise-kan,’’ kata Supriyanto, yang kadang mengirim produknya untuk makan para santri Penghafal Qur’an di Kampung Qur’an Ketapang. Dia optimis, dapat mengikuti jejak suskes bisnis rekan sealmamaternya di EU seperti Mas Mono (ayam bakar), Hendy Setiono (Kebab Baba) dan Rangga (Pecel Lele Lela). Insya Allah.
 
Sumber :  pebisnismuslim.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar