Rabu, 17 Oktober 2012

Sukses Pengusaha UMKM Batam

Begitulah yang dilakoni Didik Endrawati, seorang ibu rumah tangga yang menjalankan CV Safira Qualita Pratama. Usaha bidang konveksi yang berlokasi di Komplek Perumahan Taman Batuaji Blok 12 dan 13 tersebut, sukses dikembangkan Safira, sapaan akrab Didik Endrawati dalam waktu delapan tahun.

Terlebih setelah wanita berkerudung itu mendapatkan bantuan modal dari beberapa pihak, diantaranya PT Telkom melalui kredit lunaknya dan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Usaha yang awal perintisannya hanya bermodalkan satu unit mesin jahit dengan satu orang pekerja, kini sudah berkembang menjadi puluhan mesin jahit dengan pekerja 15 orang.

Bahkan, Safira tidak hanya kebanjiran order dari lokal Batam dan Provinsi Kepri, tapi juga sudah banyak menerima pesanan dari KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) yang ada di Singapura.

Saat ditemui Tribun beberapa waktu lalu, Safira menceritakan, pesanan dari KBRI tidak sebatas untuk seragam para pegawai disana, tetapi juga untuk seragam sekolah putra-putri mereka yang bersekolah di Singapura.

Sementara lokal Kepri, ada 25 sekolah yang sudah mempercayakan pembuatan seragamnya kepada Safira diantaranya SD Nabila, Hidayatullah, salah satu sekolah yang berlokasi di Duta Mas, dan lainnya.

“Dulu saya buka jahitan, hanya iseng-iseng aja. Saya juga gak bisa menjahit. Karena ada satu orang teman yang bisa jahit, maka saya belikan dia mesin jahit dan buka jahitan di rumah Batuaji,”cerita wanita asal Jawa itu yang memulai bisnisnya pada 2000 lalu.

Satu mesin jahit itu pun, awalnya hanya digunakan untuk mempermak celana panjang dan baju. Namun, lama kelamaan pesanan pelanggan semakin beragam. Safira pun mulai mencari bantuan ke beberapa pihak untuk menambah mesin jahitnya.

Pada 2003 lalu, ia pun menerima bantuan lunak bergulir dari program community development PT Telkom. “Saya dua kali mendapat bantuan dari PT Telkom dan sudah saya lunasi pada 2004 lalu. Saya tidak bisa lagi mendapat bantuan program yang sama karena memang terbatas. Kalau sudah dua kali dapat, tidak bia dapat lagi,”ujarnya.
Karena itu, ia pun mulai melirik sumber pendanaan lain untuk terus bisa mengembangkan usahanya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat Safira tengah mencari dana pinjaman, seorang pegawai Bank Bukopin bertandang ke rumahnya menawari program kredit usaha rakyat (KUR).

Setelah melalui proses administrasi dan pengkajian oleh Bukopin Cabang Batam, beberapa bulan lalu kredit sebesar Rp 200 juta pun telah dikucurkan.

“Untuk mendapatkan KUR, saya tidak mengalami kesulitan. Bahkan yang proaktif justru pihak bank-nya. Saya hanya menjaminkan deposito,”tutur istri seorang dosen Unrika itu.

Karena usahanya yang sudah berkembang, saat ini Safira tidak khawatir lagi untuk menerima pesanan dalam jumlah besar, baik untuk baju seragam sekolah, partai, pemerintah, atau busana masal lainnya.

Mantan karyawati PT TEC itupun, kini sudah memiliki dua tempat usaha konveksi yakni di Perumahan Taman Batuaji Indah dan Perumnas Batuaji tepatnya di depan TK Al Azhar. “Siapapun yang hendak menggunakan jasa kami bisa menelepon ke 08163653360,”ujar Safira di akhir obrolan. (sri murni) Bagikan SHU Rp 1,7 Miliar

SUDAH beberapa tahun terakhir ini, para pekerja PT Panasonic yang ada di Batam selalu mendapatkan bonus tambahan yang jumlahnya cukup lumayan. Penghasilan tambahan itu bukanlah dari perusahaan melainkan dari koperasi karyawan yang mereka dirikan.
 
Tidak tanggung-tanggung, tahun 2007 lalu, koperasi bernama Koperasi Sejahtera Mandiri (KSM) membagikan sisa hasil usaha (SHU) sebesar Rp 1,7 miliar kepada 1.600 anggotanya. Setiap anggota mendapatkan SHU yang berbeda-beda tergantung lamanya keanggotaan. Tapi jika dirata-ratakan, satu orangnya bisa memperoleh Rp 1-3 juta.

Dibandingkan dengan iuran yang mereka setorkan setiap bulannya, besaran SHU itu memang berlipat-lipat, karena iuran bulanan mereka hanyalah Rp 10.000 per orang. “Sangat lumayanlah SHU setiap tahunnya. Tahun lalu saya mendapatkan Rp 2,1 juta yang dibagikan sekitar Maret,”kata Pujiono, anggota koperasi yang menjabat sebagai Wakil Ketua II KSM. Uang iuran bulanan tersebut, mulai enam bulan lalu telah dinaikan dari Rp 10.000 menjadi Rp 50.000 per anggota.

Keberhasilan KSM yang bermarkas di Jalan Beringin Lot 209-210 Kawasan Industri Mukakuning menyejahterakan anggotanya memang tidak bisa diraih dalam waktu singkat. KSM didirikan 10 tahun lalu dengan membuka usaha kecil-kecilan berupa warung penyedia kebutuhan pokok.

Usaha yang ditekuni para pengurusnya terus berkembang dengan membuka berbagai unit usaha lain. Saat ini, KSM telah memiliki 15 unit usaha yang mempekerjakan 150 karyawan di luar pekerja PT Pacific. Ke-15 unit usaha itu diantaranya, delapan toko minimarket, kredit dan penjuakan,bakery and cake, wartel dan warung pulsa, warnet, dan catering.

Unit usaha itu tidak hanya beroperasi di Mukakuning, melainkan sudah merambah ke seluruh Kota Batam. Menurut Yulistiadi selaku Manager Catering KSM, usaha catering mereka telah mampu melayani pesanan 10.000 porsi per hari. Beberapa perusahaan besar yang saat ini menggunakan jasa catering KSM diantaranya PT Panasonic, AIT, Shinetsu, TEC, Nissin, Kogyo, Patlite Alteko, Citra Tubindo, Asrama Haji, dan Pemko Batam.

Harga catering yang ditetapkan sangatlah murah, hanya Rp 6.500 dengan isi tujuh macam yakni nasi, sayur, lauk utama, lauk tambahan, sambal, buah, dan kerupuk. Dengan beragam unit usaha yang dijalankan, setiap bulannya KSM bisa mendapatkan omset sekitar Rp 1,3 miliar.

Beberapa penghargaan juga sudah berhasil diraih KSM, diantaranya Koperasi Berprestasi Tingkat Nasional pada 2007, Koperasi Erbaik 1 Tingkat Batam 2007, dan telah menjadi tempat kunjungan Menteri Koperasi dan UMKM Surya Dharma Ali, Gubernur Kepri Ismeth Abdullah, dan lainnya.

Pujiono menjelaskan, tidak semua pekerja PT Panasonic bisa menjadi anggota. Dari 11 ribu total pekerja, hanya 1.600 yang menjadi anggota tetap koperasi karena mereka sudah karyawan permanen perusahaan tersebut. Bagi karyawan kontrak, tetap bisa menjadi anggota tida tetap.

Biasanya karyawan kontrak menggunakan jasa koperasi untuk menyimpan uangnya selama bekerja dan mengambilnya kembali saat kontrok kerja selesai. Dan anggota tidak tetap mendapatkan bagian dari usaha koperasi.

Sumber : menixnews.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar