Selasa, 04 Desember 2012

Merintis Mie Ayam dari Nol Hingga Omzet Jutaan


Mengawali usaha sebagai penjaja mi ayam gerobak, kini Fahrudin bos mi ayam dengan 450 gerobak mi ayam. Dalam sehari ia memproduksi 1.000 kilogram (kg) mi ayam. Omzetnya kini mencapai Rp 300 juta dengan laba bersih 30%.
Pantang menyerah dan kerja keras menjadi moto hidup Fahrudin. Merintis usaha dari nol, ia kini sukses menjadi pengusaha mi ayam keliling di Palembang, Sumatra Selatan dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan.
Fahrudin memulai usaha pembuatan mi pada tahun 1997. Usaha ini dimulainya dari skala kecil dengan modal awal Rp 2,5 juta. Saat itu, ia hanya mengoperasikan dua gerobak mi ayam.
Di awal usahanya, ia sudah membuat sendiri mi sajiannya dengan bahan baku utama tepung terigu. “Saat itu saya buat skala kecil dengan menggunakan alat-alat manual,” kata Fahrudin.
Setelah 15 tahun berjalan, kini bisnis Fahrudin sudah jauh berkembang. Di bawah bendera usaha Mi Ayam Berkah, kini ia memiliki pabrik pembuatan mi berkapasitas 1.000 kilogram (kg) per hari. Sementara gerobak mi ayamnya sudah mencapai 450 unit. “Investasi pembuatan setiap satu gerobak sekitar Rp 3 juta,” katanya.
Gerobak sebanyak itu disewakan kepada para pedagang yang menjadi mitra usahanya. Setiap gerobak membeli mi kepadanya sebanyak 3 kg per hari, dengan harga Rp 10.000 per kg. Setiap satu kg mi bisa menghasilkan 12 mangkuk mi ayam yang dijual di kisaran Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per mangkuk.
Selain kepada pedagang mi ayam yang menjadi mitra, ia juga menjual mi hasil produksinya ke masyarakat umum. Untuk melayani pembeli umum, ia membuka dua gerai penjualan mi di Palembang.
Selain menjual mi, gerai itu juga menjadi tempat pelatihan bagi para calon mitra Mi Ayam Berkah. “Saya biasanya merekrut anak muda pengangguran yang memiliki niat untuk bekerja keras,” ungkapnya.
Dari usahanya ini, Fahrudin kini bisa mengantongi omzet lebih dari Rp 300 juta per bulan, dengan laba bersih 30%.
Bisnis mi ayam Fahrudin mulai berkembang pesat setelah mendapat bantuan dari PT Bogasari Flour Mills, salah satu produsen tepung terigu. Sejak tahun 1997, ia direkrut Bogasari untuk ikut pelatihan dan pembinaan dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah (UKM), dan Perdagangan DKI Jakarta. Dari sanalah ia mendapatkan pengetahuan mengelola bisnis.
Selama mengikuti pelatihan itu, Fahrudin bertemu dengan pelaku-pelaku UKM yang telah sukses dari Pulau Jawa. Ia pun banyak mengambil pelajaran dari mereka. “Saya banyak belajar dari mereka, terutama tentang tata cara pembuatan dan penjualan mi, strategi pemasaran, dan sistem manajemen operasional,” ucapnya.
Sumber : jpmi.or.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar