Kamis, 04 Oktober 2012

Bisnis Cuci Mobil



Wibowo hidup dan tumbuh di tengah keluarga yang ekonominya serba pas-pasan. Bapak dan ibunya adalah seorang petani biasa yang menggantungkan hidupnya dari hasil sawah yang mereka kelola, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah orang lain untuk menambahpenghasilannya yang tak seberapa itu. 

Keterbatasan ekonomi keluarganya ini membuat Wibowo tak memiliki banyak kesempatan untuk bermain apalagi menikmati indahnya masa kecil layaknya anak-anak yang lainnya. Sejak kecil, ia sudah harus bergelut dengan berbagai pekerjaan untuk sekedar mendapatkan uang jajan.


Sedari kelas dua SD, lelaki yang akrab disapa Bowo ini sudah mulai berpikir untuk mencari uang. Karena siang masuk sekolah, maka pagi harinya ia gunakan untuk mencari daun pisang dan daun jati untuk dijual sebagai bungkus makanan kepada orang sekampungnya. "Sambil sekolah saya sudah tahu kalau dapat uang itu enak. Sehingga dari situ sudah kebentuk, senang kalau dapat uang," ungkap lelaki kelahiran Grobogan, 05 Mei 1981 ini mengenang masa kecilnya.

Setelah lulus SD, Bowo tak bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya kerena tak ada biaya. Sedih memang. Tapi apa daya kondisi memang tak memungkinkan.


Bowo berusaha menerima kenyataan itu dengan tegar. "Daripada sedih karena tidak bisa meneruskan sekolah, mending saya buat kerja saja," tuturnya menghibur diri.


Ia kemudian bekerja di sebuah pabrik genteng di daerahnya dengan gaji 1500 rupiah per hari. Setahun bekerja sebagai kuli genteng dengan gaji harian membuat Bowo tak puas. Ia kemudian memutuskan untuk membuat sistem borongan dalam pengerjaan genteng tersebut.

Kala itu, banyak teman-teman sekampungnya yang sudah bekerja di Jakarta sebagai kuli bangunan. Dari situ dirinya sering dapat cerita bahwa di Jakarta itu gampang cari duit. Bowo pun langsung kepincut.


Akhirnya ia meninggalkan pekerjaannya sebagai pemborong genteng dan berangkat ke Jakarta sambil membawa mimpinya.


Pertama kali menjejakkan kaki di Ibu Kota tahun 1996, Bowo langsung bekerja sebagai kuli bangunan bersama teman-teman sekampungnya. Gaji yang diterimanya waktu itu hanya 5000 rupiah per hari.


Waktu menjadi kuli bangunan, Bowo tak menetap di satu tempat. Ia sempat berpindah-pindah ke beberapa tempat bangunan. Setelah kurang lebih 2 tahun melakoni pekerja ini, Bowo akhirnya jenuh juga. "Saya jenuh karena sering dimarahi mandor, kerjanya panas, berat. Akhirnya saya kepingin kerja lain," keluhnya.


Ketepatan saat itu ada beberapa temannya yang bekerja sebagai tukang ojek juga. Melihat cara kerja tukang ojek yang bebas, tidak disuruh-suruh dan tidak terikat oleh waktu membuat Bowo tergoda. Ia akhirnya memutuskan untuk meloncat dari kuli bangunan menjadi tukang ojek, tepatnya pada tahun 1998.


Keputusan ini boleh dibilang nekat. Sebab kala itu Bowo tak punya motor sendiri. Terpaksa ia harus sewa ke orang lain untuk menjalankan profesi barunya ini. Ongkos sewa motor per harinya 6000 rupiah.


Ternyata, keputusannya itu tak salah. Hasil yang didapat dari ngojek ini lebih besar dibanding saat masih jadi kuli bangunan. Dalam sehari, Bowo bisa mendapatkan rata-rata 30 ribu rupiah. Dari penghasilan tersebut, 6000-nya ia gunakan untuk membayar biaya sewa motor, empat ribunya buat beli bensin, dan 20 ribunya masuk ke kantongnya sendiri. "Wah itu senang, karena di bangunan hanya dibayar 5000," ungkapnya senang.


Bowo kian bersemangat. Harapan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar terus merekah. Tiga tahun lamanya ia di jalanan menjadi tukang ojek hingga akhirnya memiliki motor sendiri.
Di sela-sela perjuangannya memperbaiki nasib, terselip pula cerita tentang bagaimana kerasnya kehidupan menjadi tukang ojek. Apalagi umur Bowo waktu itu masih belasan tahun. Darah muda yang mengalir di dalam tubuhnya pun kerap mendorong dia harus berkelahi.


Menginjak usia kedua puluh, tepat- nya tahun 2001, Bowo memutuskan untuk menikah dengan perempuan pujaan hatinya, Marfungah namanya. Karena tanggungannya semakin besar, sambil ngojek, Bowo pun jualan HP. Pokoknya segala pekerjaan sampingan yang bisa dikerjakan waktu itu ia kerjakan.


Karena sehari-harinya mangkal di depan apartemen Metro Sunter, pelanggan ojeknya pun kebanyakan dari penghuni apartemen tersebut. "Waktu itu saya bantu beberapa orang apartemen, mereka sering suruh saya beli apa gitu, terus juga mencucikan mobilnya. Pokoknya waktu itu saya nggak peduli kerja apa, yang penting dapat duit," tegasnya.

Dari situ Bowo berpikir, mungkin penghuni apartemen banyak yang membutuhkan jasa cuci mobil. Lantas dirinya menemui pihak manajemen apartemen Metro Sunter, bermaksud menyewa space parkir untuk digunakan sebagai tempat cuci mobil. Pihak manajemen pun tak keberatan.


Awal 2002, Bowo menjual motor yang sehari-harinya ia buat ngojek itu untuk sewa tempat cuci mobil di parkiran apartemen Metro Sunter. Ia menyewa 2 lot parkir dengan biaya sewa sebulan 150 ribu rupiah. "Kemudian saya belanja listrik karena di baseman itu gelap, enggak ada penerangan. Waktu itu saya habis 10 jutaan. Modalnya dari jual motor dan hasil ngojek selama ini."


Usaha ini ternyata mendatangkan hasil yang lumayan. Sehari dia bisa mendapatkan 100-150 ribu, dengan tarif sekali cuci 10 ribu rupiah. Pekerjaan ini ia kerjakan sendirian.


Sejalan dengan waktu, bisnisnya pun kian ramai. Karena kuwalahan, Bowo akhirnya mencari anak buah. Namun Bowo yang senang menjajal segala pekerjaan itu tiba-tiba ingin bekerja di kantoran. Alasannya, ingin cari pengalaman.


Ia kemudian melamar pekerjaan di sebuah perusahaan elektronik dan diterima di bagian penjualan. Sementara bisnis car wash (cuci mobil)-nya dijalankan oleh 2 anak buahnya. Tapi dirinya tak bertahan lama sebagai pekerja kantoran, hanya setahun saja. "Saya kemudian memutuskan keluar dari situ karena gitu-gitu saja. Lalu saya balik lagi ke cuci mobil."


Meski demikian, hasrat petualangan bisnisnya tak juga jinak. Berikutnya Bowo membuka counter yang menyediakan voucher. Namun ini juga tak berumur panjang.
Setelah menjajal aneka usaha, Bowo baru sadar, "Ternyata cucian mobil ini jasa yang paling jelas. Artinya kita dapat 100rb sehari, kita bayar orang berapa, selebihnya masuk kantong. Kita kan enggak beli bahan lagi karena bahannya tenaga," tuturnya. Sejak itu, Bowo kemudian memantapkan hatinya untuk menyeriusi dan menekuni bisnis cuci mobil. 


Mulailah dia masuk ke apartemen- apartemen di Jakarta untuk melebarkan sayap bisnisnya hingga berhasil membuka 5 cabang bisnis cuci mobil, kesemuanya bertempat di apartemen. Namun Bowo merasa pergerakan bisnisnya kurang cepat. Kenapa? "Karena yang nyuci itu hanya penghuni apartemen saja jadi kita enggak bisa besarin market," ungkap ayah dari Agung Saputra dan Andy Wijaya ini. 


Tahun 2006, Bowo kemudian mencoba membuka usaha cuci mobil di pinggir jalan, tepatnya di Jl. Puri Kembangan, Jakarta Barat. Ternyata omzetnya bagus.


Meski demikian, Bowo masih saja belum puas, padahal ia sudah punya banyak cabang. "Pokoknya kurang. Saya sering bengong, mau ngapain lagi?" batinnya.


Lalu Bowo keliling Jakarta, dari bengkel satu ke bengkel lainnya, menjajakan shampo mobil sambil membawa tabung snow wash yang ia beli dari salah satu perusahaan. Banyak pengalaman yang ia peroleh selama satu tahun muter-muter Jakarta itu sembari tetap mengelola bisnis cuci mobilnya. Ia melihat ternyata peluang tabung snow wash sangat bagus. Dalam seminggu, ia bisa menjual satu tabung.


Dari situ Bowo kemudian berpikir dirinya harus membuat snow wash sendiri: tabung dan shamponya. Lalu, mulailah ia memproduksinya.


Dari mana Bowo mendapatkan ilmu membuat shampo dan tabung snow wash itu? "Kalau shampo itu kita tahu dari buku-buku, terus juga dari hasil komunikasi kita sama toko chemical. Untuk tabung snow wash awalnya kita beli tapi kita modifikasi sendiri," paparnya. Namun setelah itu ia memberanikan diri untuk membuat tabung snow wash sendiri.


Awalnya hanya memproduksi 5 biji tabung sama shamponya, kemudian ia jajakan keliling Jakarta. Namun Bowo akhirnya berpikiran, jika produk-produk tersebut dijajakan dengan model keliling maka akan menghabiskan waktunya. "Akhirnya shampo dan tangki itu saya bawa ke pasar Glodok, ke pasar peralatan teknik. Pertama saya titipkan saja. Beberapa hari berikutnya kok ada yang pesan. Semakin hari kok semakin banyak yang pesan, sehingga saya lebih giat memproduksi," ceritanya.


Tak cukup sampai di situ, Bowo kemudian bikin paket-paket peralatan cuci mobil yang ia pasarkan melalui internet. "Jadi tahun 2008 itu saya sudah mulai pasang iklan di website. Nah, suatu saat ada yang beli dari luar Jakarta, yaitu Jambi. Kemudian saya ke sana naik pesawat. Nah, pas di dalam pesawat itu ketika melihat ke bawah kan kelihatan semua, kemudian saya berpikir, 'Waduh, betapa luasnya Indonesia ini. Kalau saya sebarin tabung snow wash pasti banyak ini," pikirnya kala itu.


Pulang dari Jambi, semangat Bowo kian menjadi-jadi. Produksi ia perbanyak karena ia yakin produk-produknya itu bakal laku. Setelah itu dirinya sering jualan ke luar kota sembari membaca peluang dari atas pesawat.
Dari situ ia kemudian membentuk beberapa agen di luar kota, antara lain di Makassar, Samarinda, Manado, dan Sumatera. Permintaan pun kian banyak. "Selain itu kita juga melayani perusahaan-perusahaan otomotif yang sudah gede-gede itu."


Kini, perusahaan Bowo (PT. Master Snow Indonesia) mampu memproduksi dan menjual tabung snow wash dalam sebulan sekitar 200-250 tabung. Sementara untuk shamponya berkisar 500-700 galon. Satu galon berisi 20 liter. Bahkan peralatan-peralatan tersebut sudah mampu ia ekspor ke Afrika dan India. 


Laju bisnis penjualan peralatan cuci mobil ini kian pesat. Memasuki tahun 2009, Bowo mulai membuat outlet-outlet yang tersebar di Jakarta untuk prototipe peralatannya. Bersamaan dengan itu, perkembangan bisnis cuci mobilnya sendiri juga kian gemilang. Dua-duanya mampu ia gerakkan secara cepat. Bahkan kini, ada 5 cabang bisnis cuci mobil miliknya di Jakarta. Pusatnya di Jl. Garuda No. 86A Kemayoran, Jakarta Pusat yang sekaligus menjadi kantornya.


Untuk bisnis cuci mobil ini, Bowo menawarkan dua konsep: robotic dan hydraulic. Robotic adalah konsep cuci cepat, hanya 3 menit saja. Ini cocok bagi mereka yang super sibuk sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu. Sementara hydraulic adalah konsep cuci detail, menjangkau bagian bawah dan sela-sela mobil.
Dari situ, Bowo bisa memberi pekerjaan bagi banyak orang. Saat ini ia memiliki sekitar seratus lebih karyawan, mereka rata-rata dari kelas menengah ke bawah atau yang putus sekolah.


Karena menyadari bahwa mayoritas karyawannya minim pendidikan, Bowo pun aktif bikin training untuk memberi bekal skill dan pengetahuan bagi SDMnya. Jadi sebelum kerja, mereka ditraining dulu.


Semua ini ia lakukan karena panggilan moral, mengingat dirinya sendiri hanyalah seorang lulusan SD yang tak memiliki banyak ilmu dan skill kerja. "Jadi saya berpikir, saya mau kasih bekal untuk anak-anak ini dan memberi mereka semangat. Walaupun kerja cuci mobil tapi dia akan bangga dengan profesinya. Jadi cuci mobil ini bukan pekerjaan yang terbuang, tapi profesi," tandasnya.



Sumber : ifadahsyat.biz

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar