Kamis, 04 Oktober 2012

Sales Jalanan Menjadi Pengusaha


Terjun di dunia pemasaran bukan cita-cita Indra Widjaja Antono. Sebab, sejak kecil, Direktur Pemasaran Agung Podomoro Group ini pengen banget menjadi pilot. Tapi sayang, dia gagal masuk sekolah penerbangan di Curug, Tangerang.
Akhirnya, Indra pun memilih membantu ortu yang membuka toko kelontong di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Dari sinilah minat Indra terhadap dunia pemasaran pelan-pelan mulai tumbuh.
Indra makin lama makin mantap menggeluti bidang marketing setelah mengagumi seorang ibu yang punya kios tepat di seberang toko kelontong orangtuanya. Si ibu punya pekerjaan sampingan : jasa persewaan kios milik orang lain. “Saya kagum dengan keahlianya dalam meyakinkan orang untuk menyewa kios,” kenang Indra.
Singkat cerita, Indra pun belajar tentang seluk-beluk marketing property dengan mengkuti pelatihan di Era Indonesia. Tahun 1989, dia memulai pekerjaan di bidang marketing sebagai broker rumah bekas. Dia menawarkan rumah seken dari pintu ke pintu atau door to door di wilayah Kebayoran Lama. “Saya tanya-tanya, siapa yang mau beli atau menyewa rumah,” kata pria kelahiran tahun 1971 itu.
Guna mengasah ilmu marketing properti, sembari kerja Indra mengambil kuliah Jurusan Real Estate Development – sekarang Planologi – di Universitas Tarumanegara. “Sore kuliah, pagi sampai siang menjadi broker,” kata dia.
Menghadapi berbagai penolakan
Pekerjaan sebagai broker Indra lakukan sampai lulus kuliah di tahun 1993. Meski sering mendapat penolakan dan caci maki, selama menjadi broker dia bisa mempelajari bagaimana cara berurusan konsumen, sifat pelanggan, hingga keadaan pasar.
Lulus kuliah, Indra bekerja di Jakarta Baru Cosmopolitan, joint venture Summarecon dengan Batik Keris. Pada perusahaan tersebut dia mengawali karier di dunia marketing sebagai sales, lalu asisten supervisor, supervisor, sampai keluar pada tahun 2001 disaat memegang posisi asisten manajer marketing.
Setelah itu, Indra bergabung dengan Agung Podomoro. Ia menjadi manager umum proyek Sunter Agung. Ia juga menangani marketing dan program ISO manajemen. karirnya melesat. Di tahun 2003, ia jadi wakil direktur marketing.
Satu tahun kemudian, Indra jadi direktur marketing di usianya yang baru 33 tahun. “Saya sempat menolak karena takut, apakah keputusan yang saya buat dapat dipercaya oleh mereka yang usianya lebih senior & lebih berpengalaman,” katanya.
Salah satu dari tantangan Indra ketika itu yaitu mewujudkan Back to The City, konsep permukiman di tengah kota. Untuk itu, dia sempat mencoba naik kereta listrik untuk mendengarkan kebutuhan masyarakat urban terhadap hunian. Bahkan, ia juga meluangkan waktu untuk sekadar berdiri di Jembatan Tomang untuk menyaksikan kegiatan warga usai pulang kerja.
Dari hasil tanya sana-sini dan pengamatannya, Indra menyimpulkan: tempat tinggal di tengah kota amat dibutuhkan. Dia pun mewujudkan konsep Back to The City dalam proyek Agung Podomoro & sukses memasarkannya. Soalnya, “Orang pasti ingin tinggal di tengah-tengah kota,” tambahnya.
Sumber : sanandreas8.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar