Selasa, 18 September 2012

Sukses Putera Sampoerna

Putera Sampoerna lahir di Schiedam, Belanda, 13 Oktober 1947, meskipun lahir di belanda ia adalah seorang pengusaha Indonesia yang dikenal sebagai presiden ketiga perusahaan rokok PT. HM. Sampoerna. Putera adalah generasi ketiga dari keluarga sampoerna, putra dari Liem Swie Ling (Aga Sampoerna) dan cucu dari Liem Seeng Tee, pendiri perusahaan Sampoerna. Latar belakang pendidikan putera dikenal bagus, pertama ia bersekolah di  Diocesan Boys School, Hong kong, kemudian di Carey Baptist Grammar School, melbourne dan melanjutkan pendidikan tinggi di University of Houston, texas, USA. 
 
Lulus kuliah, Putera tidak langsung melibatkan diri dalam bisnis keluarga. Bersama istrinya, Katie, warga Amerika Serikat keturunan Tionghoa, Putera menjalankan perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit milik pengusaha Malaysia, dan tinggal di singapura. Baru pada 1980, Putera kembali ke Surabaya dan bergabung dalam operasional PT. Sampoerna milik ayahnya. Pria yang menggemari angka sembilan itu mulai menjadi figur penting dalam perusahaan setelah menjabat CEO dari ayahnya, Aga Sampoerna, pada 1986. Setelah Aga meninggal pada 1994, Putera semakin aktif dengan merekrut profesional mancanegara untuk turut mengembangkan bisnisnya. 
 
Putera dikenal sebagai nakhoda perusahaan yang tidak hanya lihai dalam melakukan inovasi, namun juga jeli melihat peluang bisnis di segmen usaha lain. Di bisnis sigaret, Putera mengembangkan rokok rendah tar dan nikotin. Ia juga yang menjadi pelopor produk  mild di tanah air dengan produknya, A Mild. Di segmen pasar lain sampoerna bergerak dalam bidang supermarket dengan mengakuisi Alfa dan mendirikan Bank Sampoerna pada akhir 1980-an, meski bisnis perbankan ini akhirnya gagal. 
 
Pada tahun 2000, Putera mengalihkan kepemimpinan perusahaan kepada anaknya, Michael. Maret 2005 merupakan masa penting dalam perjalanan bisnis Putera Sampoerna dan keluarganya, dimana Putera memutuskan untuk menjual menjual seluruh saham keluarga Sampoerna di PT HM Sampoerna Tbk sebesar 40% ke Philip Morris International. Pengumuman akuisisi itu mengejutkan banyak pihak, keputusan untuk menjual bisnis keluarga yang telah dirintis sejak 1913 dinilai berbagai kalangan merupakan langkah bisnis Putera Sampoerna yang sangat beresiko tinggi, mengingat selama ini HM Sampoerna merupakan sumber utama pendapatan dari keluarga Sampoerna bahkan pada saat dijual kinerja perusahaan sangatlah baik. 
 
Kinerja HM Sampoerna kala itu (2004) berhasil memperoleh pendapatan bersih Rp15 triliun dengan nilai produksi 41,2 miliar batang dan menduduki posisi ketiga perusahaan rokok yang menguasai pasar, yakni sebesar 19,4% pangsa pasar rokok di Indonesia, setelah Gudang Garam dan Djarum. Hingga saat ini alasan Putera Sampoerna untuk melakukan penjualan tersebut tidak diketahui dengan jelas, tapi setelah sekian lama, terbukti bahwa langkah yang ditempuhnya sudah dipikirkan dengan matang. Walau sudah melepaskan saham Sampoerna, Putera justru kian sukses. Ia bertenger di urutan kelima pengusaha terkaya di Indonesia versi GLOBE Magazine 2008 dengan total kekayaan US$ 2.42 miliar.
 
Setelah menjual PT HM Sampoerna, Putera mendirikan Sampoerna Strategic yang bergerak di bidang telekomunikasi yaitu Ceria, perkebunan sawit dengan nama Sampoerna Agro, perkayuan yaitu Samko Timber dan keuangan mikro UKM Sahabat. 
 
Sampoerna Strategic dinahkodai oleh Michael Sampoerna, anak bungsu Putera. Tahun 2001 ia juga mendirikan organisasi sosial Putera Sampoerna Foundation (PSF) yang dipimpin oleh puterinya Michelle Sampoerna. Melalui PSF ia berupaya memajukan masyarakat Indonesia melalui empat pilar yakni Pendidikan, Pemberdayaan Perempuan, Kewirausahaan, dan Bantuan Kemanusiaan. Sebagai pendiri PSF, pada 12 Desember 2011, Putera Samporena menerima penghargaan Peace Through Commerce Medal Award 2011 dari Administrasi Perdagangan Internasional Departemen Perdagangan Amerika Serikat. 
 
Menurut Wakil Menteri Perdagangan AS, Francisco J Sanchez, penghargaan itu diberikan atas usaha aktif Putera dalam meningkatkan perdagangan internasional antara Amerika Serikat dengan Indonesia melalui kerja sama di bidang pendidikan tingkat tinggi.
Pada awal 2006 beredar kabar Putera, yang dikenal menggemari judi, telah menjadi pemilik perusahaan judi raksasa yang bermarkas di Gibraltar, Mansion dan dilaporkan akan menggantikan Vodafone sebagai sponsor klub sepak bola Manchester United selama empat tahun dalam kontrak senilai 60 juta poundsterling, namun kontrak tersebut kemudian dibatalkan.
 
Kemudian beralih menjadi sponsor klub sepak bola Liga Inggris Totenham Hotspur sejak musim 2006-2007. Selain itu, Putera juga membeli kasino Les Ambassadeurs di London dengan harga 120 juta poundsterling. Dari kisah ini kita belajar banyak hal terutama prinsip yang dipegang Putera Sampoerna yaitu “Don’t blame anybody! Solve the problem, don’t blame the person”. Dengan demikian tiap orang dipacu untuk berpikir dengan cara berbeda tapi harus memiliki arah yang jelas yang harus dieksekusi dengan tepat dan cepat. (Aris Giyanto)

Sumber : pantonanews.com/ 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar