Jumat, 14 September 2012

Tukang Sapu Bermodalkan Keterampilan


Sejak lima tahun terakhir, Dusun Genting, Desa Karanggambas, Kecamatan Padamara, Purbalingga, Jawa Tengah, dikenal sebagai sentra sapu. Setiap bulan, sebanyak 100.000 potong sapu dari desa ini dijual ke Korea Selatan, Malaysia, dan Jepang.

Semua itu tak lepas dari sepak terjang Bambang Triono (32), pionir usaha sapu di desa ini. Bambang memulai usaha membuat sapu lantai dan sapu lidi di desanya 13 tahun lalu. Dia selalu dicibir. Sapu dipandang sebagai produk murahan dan tidak ada prospek.

Dengan sepedanya, setiap hari dia keliling dari desa ke desa di Purbalingga hingga Purwokerto menjajakan sapu buatannya. “Membuat sapu 300 potong, kadang cuma laku separuh dalam sebulan,” tuturnya, beberapa waktu lalu.
Namun, Bambang tak patah semangat. Berkat kerja keras dan kreativitasnya, usaha kerajinan UD Rayung Pelangi miliknya kian berkembang. Bahkan, sapu-sapu buatannya kini diekspor ke Malaysia, Jepang, dan Korsel.

Kini, para tetangganya mengikuti jejaknya. Sekitar 200 warga di Desa Karanggambas bahkan menjadi karyawannya. Sebanyak 114 keluarga di Dusun Genting membuat sapu di rumahnya masing-masing dalam bentuk plasma. Sapu-sapu itu lalu disetor ke Bambang untuk dijual.

“Dengan cara itu, mereka dapat membantu ekonomi keluarganya sambil tetap bisa mengasuh anak,” kata Bambang yang mendapat penghargaan sebagai pemuda pelopor tingkat Kabupaten Purbalingga dan Provinsi Jateng tahun 2008.

Bekerja membuat sapu sudah dikenal Bambang sejak kecil. Saat di sekolah dasar di desa kelahirannya, Desa Kajongan, Kecamatan Padamara, Purbalingga, dia ikut bekerja membuat sapu di rumah Sudirman, tetangganya. Dia mendapat imbalan Rp 20 per helai bulu sapu. Sehari dia mampu merapikan 100 helai. “Lumayan, sehari bisa dapat Rp 2.000,” katanya.

Lulus sekolah dasar, dia langsung bekerja karena orangtuanya tak punya biaya. Pada usia 13 tahun, dia ikut merantau ke Bandung. Di Kota Kembang itu dia bekerja sebagai tenaga kebersihan di sebuah instansi.
“Tiga tahun lebih saya bekerja di Bandung. Setelah itu saya pulang ke Purbalingga,” katanya.
Pada tahun 1997, dengan berbekal uang Rp 1,5 juta hasil bekerja selama tiga tahun di Bandung, Bambang pun memulai usaha membuat sapu.

“Membuat sapu adalah keterampilan yang saya miliki sejak kecil. Karena itu, saya memantapkan diri memilihnya sebagai jalan hidup,” katanya.

Awalnya ia membuat sapu dari bahan ijuk kelapa. Namun, karena kian sulitnya mendapat bahan baku ijuk, ia beralih ke rumput glagah yang ketersediaannya melimpah di Purbalingga serta bulunya yang lebih halus. Selain itu, ia juga membuat sapu lidi.

Pada tahun-tahun awal usaha, Bambang menjual sapunya dengan berkeliling dari kampung ke kampung naik sepeda. Dia jajakan barangnya dari rumah ke rumah. Hingga tiga tahun pertama, cara itu dijalaninya. Sapu tidak laku sudah menjadi pengalamannya setiap hari.

“Pada awal-awal, modal utama saya hanya hati yang besar sebab semua usaha ini tak mudah,” kata Bambang.
Saat berkeliling, Bambang tak sekadar menjajakan sapunya. Dia juga membangun jaringan. Hingga akhirnya, dia dipercaya menyuplai sapu ke sejumlah distributor di Purwokerto dan Purbalingga. Pada awal 2000-an, dia mampu menjual sapu-sapunya ke Tasikmalaya, Bandung, Bogor, hingga Jakarta.

Pada tahun 2002, di tengah usahanya yang kian berkembang, dia mengalami rugi besar. Dia ditipu salah seorang distributor. Selain itu, kredit usahanya macet karena uang pinjaman bank yang semestinya untuk modal usaha dipakainya untuk kredit sepeda motor.
“Itu kesalahan saya yang waktu itu masih minim pengetahuan manajerial. Hampir dua tahun saya vakum. Puluhan karyawan saya pun menganggur,” tutur bapak dua anak ini.
Pada tahun 2004, dia berupaya bangkit. Dia bangun kembali usahanya. Manajemen pun dibenahinya. Dia tak lagi sembarangan menggunakan uang usaha.

Pada tahun 2005, sapu Bambang menarik minat distributor sapu asal Malaysia. Distributor itu dikenalnya dari seorang temannya di Bandung, yang juga menjualkan sapunya. Bambang diminta mengirimkan sapu sebanyak 10.000 potong ke Malaysia. Usahanya terus berkembang. Pada tahun 2008, permintaan ekspor pun datang dari Korea Selatan dan Jepang. Semula, pasar sapu di dua negara itu dikuasai sapu asal Myanmar, namun, desain yang lebih rapi dan kualitas bulu sapu yang lebih baik membuat sapu Bambang menggeser sapu Myanmar di pasaran Korea Selatan dan Jepang.

Di Korea Selatan saja, setiap bulan Bambang mengirim sebanyak 80.000 potong sapu. “Saya mempunyai dua distributor di Korsel. Saya kirimi mereka masing-masing desain yang berbeda. Dua distributor itu pun bersaing ketat di negaranya sana. Padahal, yang dijual itu semuanya sapu buatan warga Karanggambas sini,” ungkap Bambang sambil tertawa.

Dari semula hanya mampu membuat sapu kurang dari 300 potong per bulan, kini Bambang sudah mampu menjual 110.000 sapu. Dari jumlah itu, 100.000 sapu di antaranya untuk pasar ekspor, sisanya untuk pasar lokal.
Sebenarnya, permintaan sapu dari pasar luar negeri sangat besar. Setiap bulan Bambang mendapat permintaan tidak kurang dari 200.000 potong, tetapi yang bisa dipenuhinya baru separuh.

“Keinginan saya adalah dapat memenuhi semua permintaan. Dengan cara itu, akan makin banyak pengangguran di desa ini yang terserap, dan sapu Purbalingga semakin dikenal di luar negeri,” ujarnya

Sumber : ko
taperwira.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar